Selama 2 bulan terakhir ini, kita 'dikejutkan' dengan sikap pemerintah untuk menurunkan harga BBM, yakni premium dan solar sebanyak 2 kali. Penurunan pertama sebesar Rp 1000, dari semula Rp 6000 menjadi Rp 5000. Sekarang, tgl 15 Januari 2009, turun lagi Rp 500, menjadi Rp 4500.

Nah, gimana sikap kita, apakah perlu sedih atau gembira?

Yg jelas, reaksi sesaat yaa gembira dong ya!? Masa harga turun harus sedih? Tul ga?

Tapi sebenarnya kita mesti sedih juga, karena jika merujuk pada harga minyak dunia, yg sekitar 40-50 dollar, mestinya harga BBM bisa lebih turun lagi. Dan lagipula, aku lebih melihat penurunan harga BBM ini sebagai langkah politis, atau yaa berbau politis lah. Bagaimana tidak berbau politis, lha wong sudah masuk tahun 2009, yakni tahun pemilihan kepala pemerintah (presiden dan wapres) serta pemilihan caleg2.

Jadinya, penurunan harga BBM ini bisa dikatakan sebagai aksi untuk menarik simpati, bahwa pemerintah sekarang begitu 'baik hati', mau menurunkan harga BBM bla bla bla. Aku sendiri punya keyakinan bahwa jika pasangan (pemerintah) yg sekarang ini terpilih lagi, harga BBM akan dinaikkan lagi, ya bisa jadi Rp 6000 lagi!ngakakdzigh

So? Tanggapi biasa aja lah. Soalnya pemerintah Indonesia jarang (atau malah ga ada?) yg memperhatikan rakyatnya dg sebenar2nya. Lha wong kasus operator ngasih sms gratisan (yg notabene 'menggembirakan' masyarakat) malah ... ya begitulah.

Oya, lagipula yg 'boleh' bergembira hanya pemilik kendaraan pribadi. Sementara pengguna angkutan umum, yaaa silakan gigit jari, karena tarif angkutan masih ga mau turun!
*yg rada2 apatis dg pemerintah...*

Moral story: bbm naik atau turun, NYARIS ga ada bedanya...