Tahukah anda, istilah head hunter sebenarnya lebih 'cocok' disebut pembajak?

Tentu saja, yg aku maksud di sini bukanlah pembajak seperti petani yg membajak sawah. Juga bukan pembajak pesawat. Apalagi bajak laut.melet

Oke, jadi begini...

Kita mengenal istilah head hunter, yg jika diindonesiakan, artinya cukup 'mengerikan', yakni pemburu kepala.ngakak guling2 Tentu saja bukan berarti para head hunter ini termasuk dalam para pencabut nyawa, dan pengoleksi kepala, seperti halnya suku Dayak atau suku di Amerika Selatan sana.

Yang dilakukan para head hunter ini adalah disewa oleh sebuah perusahaan yg mencari staf2 yg sudah cukup ahli. Mereka akan mencari orang2 yg expert di bidangnya, sesuai dengan kebutuhan perusahaan yg menyewa mereka. Kemudian, jika kontak berlanjut dg si 'korban', maka mulailah dilakukan proses negosiasi.

Jangan salah, iming2 yg ditawarkan para head hunter ini GUEDEEE BUANGET LHOO!!!

Seorang temanku, yg cukup expert di bidang minyak, 'mengalami' hal ini. Menjadi 'korban' maksudnya. Dalam satu waktu, dia dikontak seorang head hunter, yg menawari kerja di perusahaan minyak. Gaji yg ditawarkan, seingatku, 2x gaji yg dia dapat sekarang. Belum lagi fasilitas lainnya.

Nah, temanku ini kemudian 'lapor' ke bossnya. Tentu saja, bossnya kelabakan. Dia ga mau dong kehilangan staf andalannya ini. Maka, si boss ini langsung menawari temanku ini, gaji 3x lipat plus fasilitas plus pindah lokasi kerja, di luar negeri.mata duitan

Itu berarti, si head hunter gagal menuaikan misinya.melet

Sementara itu, ada kasus lain lagi. Temanku juga ada yg dibajak. Namun bedanya, yg membajak adalah client temenku itu.

Jadi, ceritanya begini.

Temanku bekerja di perusahaan IT di daerah Gatsu. Dia diterjunkan di sebuah bank swasta, mengurus ini itu. Lalu ada client bank itu yg sering ada masalah. Walhasil dia ditempatkan di client bank itu.

Pekerjaannya sebenarnya tidak sulit, memperbaiki error aplikasi yg dibuat oleh perusahaan tempat dia bekerja. Lalu client bank ini berpikir, daripada dia mahal2 bayar ongkos maintenance ke perusahaan IT, lebih baik 'ngembat' si staf itu. Gaji yg dibayar akan lebih ringan dan murah daripada ongkos maintenance.

Walhasil, pindahlah temanku itu ke client, wakakak...

Satu cerita lagi ya?

Temanku itu cukup sering 'stay' di clientnya, terutama untuk mengurusi transaksi2 yg masuk, memperbaiki jika ada kesalahan. Nampaknya clientnya terkesan dg cara dan hasil kerjanya. Walhasil si client, seperti halnya cerit di atas, juga berniat merekrut temanku ini.

Entah apa yg dilakukan kantornya. Apakah tetap mempertahankan temanku ini atau melepasnya?

Anda sendiri, apakah pernah (hendak) 'dibajak' juga oleh kantor/perusahaan lain?

*yg tidak tertarik dibajak, karena bukan sawah, bukan pesawat dan tidak berminat jadi anak buah bajak laut. kecuali dibajak dg gaji 5x lipat, boleh lah, xixixi...*