Tahukah anda, bahwa orang Indonesia begitu 'menuhankan' statistik alias angka-angka (yg seringkali tidak ada manfaatnya)?

Sebagai buktinya, kita bisa lihat pada saat ada event pemilihan kepala, entah itu kepala daerah di tingkat kota (walikota), kabupaten (bupati), propinsi (gubernur) maupun kepala negara (presiden). Ramai-ramai lembaga survey melakukan perhitungan, entah itu polling ataupun quick count (pada saat pemilihan).

Anehnya, aku tidak pernah menemukan lembaga2 survey itu terlibat dalam pemilihan kepala (ketua) RT misalnya. Atau bahkan kepala rumah tangga. Padahal, keuntungannya bisa lumayan lho. Terlebih misalnya dalam pemilihan kepala rumah tangga (alias jadi suami) seorang artis, para lembaga survey itu mengadakan polling. Misalnya, siapa yg paling cocok jadi suami Wiwid Gunawan? Atau apakah Ariel Peterpan itu memang cocok jadi suaminya Luna Maya?

Jelas untuk pemilihan kepala rumah tangga artis2 itu, para lembaga survey bisa meraup keuntungan yg lumayanmata duitan. Lho, kok bisa? Ya iya laaahh....tinggal buka layanan sms premium, lalu biarkan para fans berlomba-lomba mengirim jawaban.xixixi...

Ok, kembali ke laptoopppp....

Nah, para lembaga survey ini saling berlomba menampilkan angka-angka, yg seolah-olah membuat para calon kepala2 dan para fansnya itu menjadi bersorak-sorak karena mereka begitu yakin sudah menang. Bayangkan, dalam waktu tidak sampai 1-2 jam, keluarlah pengumuman dan berita, bahwa si A dari partai Anu mendapat 35.6%, sementara si B dari partai Bukan Anu dikasih nilai 30.2%. Sedangkan si C dari partai Cuma Anu memperoleh 40%. Jelas hasil seperti yg aku tulis adalah hasil yg palsu, karena jika anda teliti, anda akan bisa hitung bahwa jumlah totalnya lebih dari 100%. Mana mungkin hasilnya bisa seperti itu, iya kan?

Jadi, lupakanlah quick count!

Peristiwa pemilihan gubernur Jawa Timur barangkali bisa menjadi contoh yg baik, bahwa lembaga survey juga (kumpulan) manusia. Masih bisa salah ngitung. Barangkali karena saat sedang ngitung ada yg ngajak ngobrol, sehingga lupa.

Office Boy: "Eh, pak, jadi beli gorengannya berapa?"
Tukang Quick Count: "Sepuluh ribu dua ratus empat pul...eh, beli 25 saja. Tahu, singkong dan pisang ya...(errr...jadinya berapa ya?")

Nah, kebayang kan bisa saja terjadi salah hitung. Lha wong lagi ngitung jumlah suara malah diajak mbahas beli gorengan.

Anehnya, pemimpin sekelas Khofifah kok yaaa masih mau percaya ama angka2 (numerologi)? Padahal kalo mau yakin dia menang, tinggal ketik REGWATON kirim ke 6977, untuk nanya berapa angka yg dia dapat? Dijamin yg bikin layanan Waton akan kebingungan, xixixi...

Padahal aku sempat menyangka Khofifah akan berlaku gentlewoman, dengan berbesar hati mau mengakui kekalahannya dan kemenangan lawan politiknya. Tapi, ah, ternyata tokoh yg sempat kepikiran olehku dia mirip dg Hillary Clinton, yaaa masih demikian adanya.

Udah ah, akhir pekan memang saat2 ngelantur kmana2...