Tahukah anda, bahwa menyandang profesi wartawan bukan berarti menjadikan Meutya Hafid tidak silau dengan glamour anggota Legislatif?

Sebuah berita yg (sebenarnya) tidak terlalu mengejutkan, aku baca pagi ini di sini. Di sana tertulis bahwa Meutya Hafid, salah seorang 'gacoan' Metro TV menyatakan mundur sebagai seorang presenter (yg aku tangkap sebagai mundur dari dunia kewartawanan) karena akan mencalonkan dirinya menjadi caleg.

Sebenarnya hal ini sudah 'tercium' beberapa waktu lalu, sejak Metro TV menayangkan sebuah acara yg isinya mengupas wartawan2 yg 'kritis' (sengaja aku kasih tanda petik, kalo dikasih tanda tanya, malah menjadi kalimat tanya) terhadap pemerintah dan segala kebijakannya. Di sana, MH juga tampil, dengan bla bla bla...ya ya ya...

Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli dg keputusan MH untuk menjadi caleg. Itu haknya dia, untuk berperan serta (secara lebih aktif) dalam bidang politik.

Hanya saja, aku kok menyayangkan saja keputusannya tersebut, dengan alasan:
1. Parpol yg dimasukinya = Partai Golkar.
Terus terang, citra partai Golkar kan yaaa...sudah tidak meyakinkan sebagai sebuah partai yg 'benar'. Hanya saja aku melihat ditariknya MH adalah sebagai salah satu cara dari pemilik Metro TV, om Paloh, untuk yaaa..menaikkan citra partai Golkar.

2. Idealisme yg terkikis.
Bukan rahasia lagi, banyak orang2 idealis yg akhirnya akan terkikis idealismenya, cepat atau lambat, setelah mereka masuk ke dalam partai politik. Rasanya sayang sekali, seorang MH harus mengorbankan idealisme.

Tapi, itu kan pilihan hidup MH. Aku sendiri, jika ditawari menjadi caleg, yaaa mungkin akan berpikir sama lah. Maksudnya, menganggap itu sebagai sebuah peluang.

So? Apakah warga Sumut akan memilih MH karena idealismenya, atau karena .... ah, sudahlah, ga penting, hihihi...
*foto dicomot dari sini*