Image Hosted by ImageShack.usTahukah anda, menonton film Laskar Pelangi (yg diangkat dari buku dg judul Laskar Pelangi) akan mencampur adukkan perasaan anda?

Siang, eh, sore ini, Sabtu 27 September 2008, akhirnya aku dan Wify berkesempatan untuk menonton film Laskar Pelangi. Sebenarnya hendak nonton kemarin, tapi karena load kerjaku sedang penuh (cieee...gaya banget jek!!) walhasil baru Sabtu ini bisa nonton. Tidak perlu disesali kok nonton di hari Sabtu ini, karena yaaa...mau gimana lagi, emang sempatnya hari ini, heheh..

Jam 2 teng, aku dan Wify meluncur ke TKP, sebuah bioskop yg menjadi langganan kami berdua. Saat tiba, cihui...antriannya tidak terlalu panjang. Dengan semangat 45, aku segera menuju tempat pembelian tiket, mengantri, pura2 menjadi orang yg tertib dan taat aturan. Yaa...mau kapan lagi bisa berpura2 tertib kalo bukan di loket antrian? Ah, sudahlah, tidak penting membahas kepura-puraan ini.

Hanya ada 2 kelompok orang di depanku, so, tidak sampai 5 menit, mendekatlah aku ke si mbak penjual t*k*t. Eh, eh, eh, ada yg tertinggal. Saat aku antri membeli tiket, mendadak sesosok makhluk berjenis kelamin perempuan nyolek2 bahuku. Hampir saja aku terkejut dan shock, karena aku sempat menyangka penyamaranku sebagai Superman diketahui orang. Tapi, ternyata si mbak ini malah nawarin tiket yg dia pegang.

"Mas, mau beli tiket saya ga?"
*errr...masih agak shock* "Wah, saya mau beli 2 kok."

"Iya, nantinya Mas beli yg sebelahnya tiket saya ini saja."
*aku lihat nomor tiketnya, errr...di kursi A. buset, jauh banget dah...* "Eerrr...ya ga janji deh, mbak. Nanti ya saya lihat dulu."

"Ok..."

Dan ternyata, syukurlah, aku tidak jadi membeli tiket si mbak, karena kalo aku beli tiketnya, itu artinya si mbak akan kehilangan kesempatan nonton Laskar Pelangi. Bisa2 nanti dia menyesal seumur hidup, karena memberikan tiketnya padaku, meski ditukar dengan uang.

Selesai menggesek kartu (husss...jangan mikir jorok dong ah...), aku mendapatkan tiket dan bon. Dan kembali, aku nyaris terkejut karena sesosok makhluk cantik tiba2 ada di sampingku. Untunglah, aku tidak sampe shock, karena Wify ternyata yg ada di sampingku.

"Eh, siapa tadi itu cewe?"
*OMG...rupanya Wify melihat adegan tidak senonoh tadi!!* "Eerrr...biasa, cewe, minta tanda tangan.."

"Ah, yg bener...??" *Wify mulai pasang kuda2 jurus Cimanuk*
"Errr...jelas bohong lah. Itu tadi cewe nanya, mau ga duduk sebelahan?"

"HAAAAHHH...APAAA???" *Wify menggerakkan tangannya, siap melontarkan pukulan perobek celana belakang*
"Errr....bohong juga ding. Itu sebenarnya ce nawarin tiket. Salah beli kali ya?"

"Oooo..." *Wify sudah tenang kembali, dan menyimpan semua jurus2nya*

Saat aku perhatikan tiket yg kubeli, langsung aku tepuk jidat!!halah.. Alamaaakk...aku beli di deretan huruf P. Anda tahu tidak apa artinya? Sesuai dengan hurufnya, P alias PALING DEPAN. Arrrghhh...!!

Ya sudah, nasi sudah menjadi bubur kacang ijo. Mau ga mau yaaa kita tonton yo!

Jam 15.05 tang teng tong, masuklah kami diiringi oleh para pengikut kami ke dalam ruang bioskop. Mengapa kami sebut pengikut? Ya jelas lah, mereka ikut2an masuk!! Makanya, jadilah orang pertama yg masuk ke bioskop, biar ga dianggap ikut2an!!dzigh *ditonjokin pengikut sekampung*

Dan, yaaahhh...benar2 kebayang betapa pegelnya nonton nanti, usai aku melihat posisi kursi P. Sudahlah, tidak perlu disesali, toh ini takdir yg sudah berlaku padaku. Duduklah aku dan Wify dengan manis di kursi masing2, sambil menunggu film diputar.

Errrrr...omong2, artikel sudah sepanjang ini, tapi kok belum ada gelagat bercerita tentang film Laskar Pelangi ya? Tak perlu risau, tak perlu sungkan, tak perlu takut. Aku akan ceritakan itu di bagian bawah ini. Namanya juga blognya mas Fahmi gitu lho, tidak ada cerita pembuka, ga seru!! Setuju kan?? *SETUJUUUU.....!! Demikian jawaban para pengikut*

JRENG JREEEENNNGGG....

Dimulailah film Laskar Pelangi.

HATI-HATI, BANYAK SOP ILER YG AKAN TERSAJI DI PENJELASAN DI BAWAH!! SAYA PERINGATKAN, SOP ILER...SOP ILER...!!

Bagi yg pernah membaca bukunya, tidak perlu berharap banyak dengan film ini. Mengapa?
1. Film ini tidak menggunakan alur flash back dan loncat2 jalan cerita, seperti pada bukunya. Kenapa? Ya entahlah, itu bukan urusanku. Tapi kalo mau sedikit dibahas, nampaknya agak sulit membuat film yg terlalu banyak loncat2, karena kalo terlalu banyak loncat2, nanti disangka kodok.

2. Terlalu banyak potongan adegan. Bertemu dengan dukun, tidak dijelaskan. Mencari Flo, juga tidak rinci. Kemudian, errr...apalagi ya? Yaaa...pokoknya banyak adegan2 yg dipotong deh. Mengherankan sebenarnya dengan adanya pemotongan adegan, karena idul Qurban sebenarnya masih lama.

3. Tokoh-tokoh yg tidak diperkenalkan secara khusus. Latar belakang masing2 tokoh tidak dijelaskan dengan detail. Ini sih HARUS dimaklumi, karena kalo tokoh2 diperkenalkan secara khusus seperti di bukunya, bisa2 film ini berubah mode menjadi wayang semalam suntuk. Asumsinya, para penonton sudah membaca bukunya, jadi yaaa...bisa diskip2 lah itu introduction. Lagian, ndak boleh narsis kalo di pelm!!!ngakak

Tapi, film ini terlalu berharga untuk dilewatkan, karenaaaaa:
1. Banyak nilai2 sosial yg bisa diambil sebagai pelajaran, DAN DITERAPKAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI. Salah satu nilai sosial yg patut dipraktikkan adalah "HIDUP ITU HARUS LEBIH BANYAK MEMBERI, BUKAN BANYAK MENERIMA." Walhasil, aku jadi teringat dengan kasus Zakat di Pasuruan. *side A numpang promo*

2. Akting yang lebih alami. Hampir sepanjang film ini, semua aktor dan pemeran bersikap alami. Ada juga siihh beberapa adegan yg menurutku sih rada2 garing. Tapi tidak apalah itu. Tidak ada gading yg tak retak, ga ada maling yg kepalanya botak.

3. Tata bertutur yg mengalir dengan berkesinambungan. Ok, ok, ini efek dari poin 1 yg di atas itu lho, yg kenapa sih ga loncat2. Efeknya, si film jadi enak diikuti. Ga perlu pusing2, apalagi sudah pusing dg harga2 kebutuhan yg naik, mikirin ini kok itu sih? Itu kok ini sih? Duduk saja dengan manis, lalu tonton aja deeehhh...!!

4. Akting para aktor senior yg yahud punya! Mathias Muchus (yg selalu tampil di tiap filmnya Mira Lesmana. Ya iya laaahh....lah wong suami istri, biarin aja deh, ga usah ikut campur, itu kan urusan mereka!), Ikranegara, Alex Komang, Jajang C Noer adalah para senior yg wokeh banget. Untuk Rieke, kayanya anda ndak pantes blas jadi orang Sumatera. Raut mukanya itu lho, Joawa buanget!!ngakak Lalu Cut Mini, yaaa...agak aneh saja melihat anda berakting menjadi ibu guru yg bekerja dg gaji pas2an. Untuk Tora, hmmm...bolehlah. Setidaknya lebih serius dan ga banyak cengengesan. Untuk Lukman Sardi, kejauhan ah kalo jadi Andrea Hirata. Alasannya sama saja dg Rieke, mukanya Jawa buanget!!

Banyak adegan yg akan mengharu birukan perasaan anda. Senang, ketawa, sedih, menangis *errrr....ada yg salah, tapi sudahlah* lalu gemas, sebel, termenung, wah pokoknya seru deh!! Dengan susah payah, aku berusaha untuk tidak terlalu ngember, menumpahkan banyak sop iler di sini.

Jadi, SEGERA MENONTON DEH FILM INI!!! Bagi yg belum sempat nonton film, silakan melihat dulu cuplikan filmnya di sini.

Salut bung Andrea Hirata dan Miles Production (Mira Lesmana & Riri Riza). GREAT BOOK AND GREAT MOVIES! *sok jadi bule*