Tahukah anda, bahwa hari Jum'at minggu kemarin (tepatnya tgl 15 Agustus 2008) aku pergi ke RSCM lagi untuk merawat gigiku?

Hampir 2 minggu sejak proses perawatan gigi yg terakhir, akhirnya hari Jum'at lalu aku datang lagi ke RSCM. Berangkat dengan sangatlah terlambat karena badanku yg sedang tidak fit, akhirnya jam 9 lebih barulah tiba. Dan itu berarti aku mesti bersiap mengambil resiko jika tidak Jum'atan.

Prosedurnya sama dengan kunjungan2ku terdahulu. Memberikan kartu hijau, menunggu map historical diambil. Usai dapat map, diberikan kepada suster di ruangan yg dituju, selanjutnya menunggu.

Tidak seperti kunjungan yg terdahulu, kali ini suasana klinik gigi lebih adem. Selain staf klinik dan pasien yg hilir mudik, tidak banyak hal yg bisa aku lakukan.

Bosan dengan kondisi yg sedemikian membuatku terasa sangat bosan, tidaklah bagus untuk kesehatan mentalku. Akhirnya, aku-pun online. Thanks ada Flash, yg meski sering lemot dan bengong, toh setidaknya bisa bermanfaat di saat dibutuhkan.

Selagi asyik chat via YM, seorang perempuan duduk di kursi sebelah.

"Hayoooo...mau cari gebetan yaaa, Mas?"

Eh, jangan sembarangan nuduh dong! Aku kan sudah duduk duluan di kursi itu, dan si perempuan yg datang belakangan. Itu artinya kan dia yg tertarik padaku, hahahah...ngakak

Semula aku tidak hiraukan keberadaan perempuan ini, soalnya aku sedang diskusi dengan Wify dan client2ku. Yaa...pokoknya dibuat kesan seolah-olah aku sibuk bekerja meski pada kenyataannya aku memang harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.

Perempuan di sebelahku ini nampaknya ym-an juga. Itu aku ketahui setelah beberapa kali aku merasa dan memperhatikan tubuhnya condong ke arahku. Secara otomatis, aku jadi memperhatikan,"Ini cewe maunya apa sih??"

"Hayoooo...mau cari gebetan yaaa, Mas?"

Heyy...jangan ngawur!! Karena si ce yg beraksi, bukan berarti aku yg cari gebetan!!dzigh

Saat dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, seraya memegang dan mencet2 tombol di hapenya, saat itu aku tahu bahwa dia sedang ym-an juga. Nah, terkait dengan sikapnya yg badannya dicondong-condongkan sehingga membuat orang menyangka bahwa aku naksir dia, aku menduga dengan keluguan yg amat sangat, bahwa dia mencondongkan tubuhnya demi melihat ym-id-ku.

"Hayoooo...mau....?"

Ya ya ya...aku tahu...cari gebetan kan?! Duh, sudah dibilangin, itu pernyataan ngawur!!

Ah, lebih baik aku matikan koneksi Flash, tutup laptop. Jika anda berpikir bahwa aku bertindak seperti itu daripada dituduh cari gebetan, jelas anda salah. Batre laptop yg sudah drop adalah alasan utamanya. Mana enak chat via ym dengan kondisi batre yg drop? Jadi, sudahlah...aku sampaikan salam penutup pada Wify dan teman2ku yg sedang sejak tadi chat denganku, menemani waktu2ku.

Saat itu barulah aku amati bahwa dari sekian banyak kursi yg kosong, kenapa si ce ini memilih duduk di sebelahku? Ah, sudahlah...ga usah ge-er deeeeehhh...!!

So, aku berjalan-jalan, menenteng ransel berisi laptop dan sekian banyak perkakas. Bawaan banyak itu biasa, biar kesannya keren gitu, padahal dengan beban yg cukup berat sebenarnya tidaklah baik bagi kesehatan punggung.

Usai jalan keluar, iseng liat kiri kanan, sapa tau ada hal2 yg menarik, aku kembali ke ruang klinik gigi. Jam sudah menunjukkan angka 10 lebih. Lebihnya aku tidak tahu persis, karena itu tidak penting. Yg jelas aku belum mendengar namaku dipanggil, kecuali si suster memanggilku dengan manja.....t pohon di depan klinik.

Membeli Koran Tempo (KoTe), bolak balik isinya. Ah, tidak ada yg menarik. Aku simpan saja koran bekas kubeli itu di kursi, agar orang lain bisa ikut membaca dan mendapatkan manfaat dari koran bekas kubaca itu.

Jam mendekati angka 11, dan akhirnya namaku dipanggil juga.

Dengan semangat yg sudah nyaris kendur, selain dikarenakan waktu tungguku yg sudah cukup lama serta cacing di perut yg sudah mulai teriak2, akhirnya aku duduk di kursi pesakitan, memasrahkan diri dengan tindakan yg akan dilakukan dokter gigi.

Mirip dengan perawatan yg lalu, dokter tukang gigi ini kembali dengan teganya menancapkan pin-pin dengan nomor2 tertentu ke gigiku. Duhai dokter, mengapa kau begitu tega? Tak berperi-kegigian kah dirimu? Tapi, tumben, tusukan2 pinmu tidak terasa sakit oleh mulutku. Bius apakah yg kau suntikkan?

Ah, sebodo amat lah dengan bius2. Yg penting gigiku bisa sehat lagi.

Bu dokter berkata padaku,"Sekarang saatnya pengisian ya?"

Hmmm...rupanya agenda rawat gigi kali ini adalah mengisi gigiku. Well, aku sendiri ga terlalu ngeh apa yg dimaksud dengan pengisian? Aku tak protes, bukan karena tak mau berkata-kata, tapi posisi mulutku yg menganga tidak mengijinkan si pemilik mulut untuk ngomong.

Tak lama, dokter gigi berkata-kata dengan suster gigi, mengenai bahan2 gigi, yg aku tiada kemengertian dalam istilahnya. Yg aku bisa lihat, ada banyak benda mirip tusuk gigi, kemudian ada kompor spirtus, lalu err..pin2 lagi!!

Bu dokter, kemudian dengan tenangnya menancapkan kembaran2 tusuk gigi itu ke dalam mulutku, bergantian dengan pin2 jahanam itu. Beberapa kali aku rasakan mulutku tersengat rasa sakit. Sebagai manusia biasa, ingin aku menjerit, meronta, dan berguling-guling (lho?!), tapi aku teringat bahwa naluri lelaki berkata lelaki sejati akan bisa bertahan dari siksaan itu semua. Jadilah aku terdiam, bukan sebagai bukti aku lelaki sejati, karena lelaki sejati biasanya merokok gudang garam, katanya sih begitu.

Usai menancapkan kembaran tusuk gigi, aku hitung sekitar 2-3 buah, si dokter lalu memegang sebuah alat logam. Dia bakar alat itu, lalu memasukkannya ke mulutku.

AARRRRGGGGHHHHHHH.....

Itu teriakan pasien sebelah. Aku sendiri sudah kadung pasrah dengan perlakuan dokter gigi, jadi tidak banyak aksi dan reaksi.

Rupanya logam yg sudah dibakar itu digunakan untuk 'mengencerkan' kembaran tusuk gigi. Oooo...ini toh rupanya yg dimaksud dengan pengisian.

Anda ngerti ga? Ah, masa ga ngerti sih?

Jadi begini lho. Kondisi gigiku bisa dikatakan cukup unik. Di bagian depan, dia masih ada bentuk giginya, tapi nun jauh di bagian belakang, ternyata gigiku sudah tergerus, terutama karena proses pemasangan jaket gigi sekitar 10 tahun lalu itu.

Nah, dokter gigi yg baik hati dan ramah, aku ga tau apakah dia rajin menabung, mungkin suka menabung, tapi itu kita tidak perlu ambil pusing. Intinya, si dokter ini hendak mengisi kekosongan di bagian belakang gigiku ini. Manfaatnya banyak, terutama agar gigiku ini masih bisa diselamatkan, alias tidak perlu pakai gigi palsu.

Penyebabnya, kekosongan gigiku itu akan berakibat ke saraf, dan jika saraf sudah terkena maka tidak ada alasan apapun untuk tidak mencabut gigiku itu. Dan jika itu terjadi, maka gigiku akan meninggalkan mulutnya yg sudah dia betah di dalamnya selama sekian puluh tahun. Saat itu terjadi, maka dibutuhkan pergantian gigi, yg artinya gigi palsu yg akan bercokol.

Percayalah, daripada punya gigi palsu, lebih baik minta bu dokter gigi untuk mengisi kekosongan itu.

Sekitar 3-4x bu dokter menyolder mulutku, mengisi relung hatiku, eh, salah, mengisi bagian kosong gigi. Selanjutnya, bu dokter menyuruhku kumur2. Itu artinya proses pengisian sudah selesai.

Saat aku kumur, aku rasakan mulutku yg bekas disolder itu terasa pahit banget!! Hhueek...semoga bu dokter ini tidak salah memasukkan kembaran tusuk gigi dengan tusuk gigi bekas suster korek2 sisa makan pagi tadi.

Aku coba mainkan lidahku, menjelajahi bekas solderan bu dokter. Hmmm...ternyata menjadi nyaman lho!! Alhamdulillah, ternyata punya gigi yg (masih) sehat itu mesti disyukuri lho!!

Saat hendak pulang, bu dokter berpesan bla bla bla crown bla bla bla kepada suster. Walhasil, aku mesti mau diceramahi dahulu oleh suster.

Dalam ceramah singkatnya, bu suster berkata bahwa apakah jika aku mau memasang jaket gigi lagi? Ketika aku iyakan, dia langsung mengatakan bahwa biayanya yg dibutuhkan sebesar 1,5juta rupiah (BIAR GA SALAH BACA: SATU JUTA LIMA RATUS RIBU RUPIAH).

Jika kejadian ini terjadi di dunia kartun, maka si tokoh kartun akan langsung tercengang dan giginya keluar. Untunglah aku bukan tokoh kartun, sehingga mesti agak2 shock (dan nyaris pingsan) aku masih berusaha untuk sadarkan diri dan mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari bu suster ini.

Rincian biayanya ternyata bener2 bikin mata mendelik (dan dompet kian tipis). Bagaimana tidak? Coba perhatikan rinciannya:
- Crown = Rp 650 rebu
- Pemeriksaan Lab = Rp 300 rebu
- Administrasi = Rp 10 rebu
- Pemasangan pin = Rp 160 rebu
- Pemeriksaan Lab (untuk pin) = Rp 160 rebu
Total biaya di atas = kepala nyut2anngakak.

Walhasil ketika si suster menetapkan tanggal pemeriksaan berikutnya, dengan tegas dan berwibawa, aku jawab,"Nanti saya kontak lagi ya Sus!?" *sambil merem melek nyari asuransi atau pihak2 terkait yg mau dire-imburse dengan nilai sekian di atas itu.*

BAH, KAYA GINIAN BIKIN AKU SENSI LAGI DAH!!!