Tahukah anda bahwa walau orang bisa untuk menganggap dirinya merdeka, tapi dijajah sakit itu lebih tidak mengenakkan?

Sejak hari Kamis, 14 Agustus 2008, aku sudah merasa badanku tidak bisa kompromi untuk diajak musyawarah mengenai kondisi badan. Mufakat tidak bisa dicapai karena meski aku sudah memberikan gizi yg cukup pada tubuh, namun tubuhku tidak 100% menerima dan memaksimalkan asupan gizi yang sudah diberikan olehku.

Belum lagi, badanku selalu membawa-bawa diriku untuk mondar mandir dari 1 client ke client lain. Bahkan dalam 1 hari, bisa sekian banyak client yg dihampiri oleh badanku. Jika hanya untuk meeting, its oke lah. Tapi jika sudah mesti berulangkali melakukan update yg tak kunjung usai, nah itulah masalah yg mesti dicari solusinya.

Kamis sore, saat aku berada di client, entah client ke-berapa yg dikunjunginya hari itu, badanku sudah agak mendingan. Ada beberapa faktor yg membuatnya lebih segar, walau untuk sesaat. Beberapa pekerjaan, syukur alhamdulillah, bisa diselesaikan hari itu juga.

Kamis malam, seusai tiba di rumah, badan kembali berulah. Tidur tak nyenyak, bangunpun serasa ngantuk sekali. Diombang ambing oleh tak tidur dan tidur tak nyenyak, membuatku ingin tidur lagi seusai sholat Subuh di Jum'at pagi. Jam 6 pagi, tidurlah aku lagi. Padahal, jam 8 sudah ada janji dengan dokter gigi. Tentu berhubungan dengan gigi, bukan dengan urusan pekerjaan.

Namun, karena ketidaknyenyakanku untuk tidur semalaman, membuatku baru terbangun jam 8.30 pagi. Wify yg sudah aku wanti2 membangunkanku jam 7, tak bisa aku salahkan karena dia tidak membangunkanku. Karena jelas, dia juga tahu bahwa semalaman tidurku yg tak nyenyak bisa mengakibatkan bahaya datang jika aku bermotor dengan kondisi terkantuk-kantuk di jalan.

Urusan dengan dokter gigi tak akan aku ceritakan di sini. Itu ada sesi khusus.

Sabtu masih begitu2 saja badanku. Setelah sebelumnya di Jum'at malam, badanku berulangkali mengeluarkan keringat dingin sehingga basahnya badanku membuat kasur seperti empang lokal, Sabtu pagi aku isi waktu dengan tidur dan tidur. Kompres di dahi dan di beberapa tempat, sudah dipasang oleh istri tercinta, Wify.

Kalo sudah begini, kumatlah manjaku. Request demi request mulai muncul. Minta dibuatin jus, diceritain dongeng, dielus2 kepala, dilakukanlah oleh istri tersayangku ini. Dan aku bisa tertidur, sampai akhirnya jam 1 siang aku pergi ke kantor, menyelesaikan 1 urusan pekerjaan (sengaja aku jelaskan, agar semua yg membaca mengerti, bahwa di hari libur dan kondisi badan tidak sehat, masihlah aku mau untuk bekerja).

Sore pun tiba. Usai menjemput Wify yg baru berolahraga, badan mulai berkeringat dingin lagi. Wify sempat menduga bahwa diriku menderita penyakit jantung. Tapi, itu kan masa lalu dan rasa2nya tidak akan terulang lagi.

Dan puncaknya, di hari Kemerdekaan Indonesia, aku yg merasa diriku merdeka, tapi ternyata badanku masih dijajah oleh penyakit, terkapar lagi di tempat tidur. Sempat dipijat pijit di sana sini, pijat refleksi yg jika di hari biasa cukup terasa manfaatnya, di hari Kemerdekaan ini tidaklah terasa manfaatnya.

Di luar sana, terdengar riuh anak-anak bercampur dengan para dewasa yg sedang menikmati pertunjukan memperingati hari Kemerdekaan. Keinginan untuk mendokumentasikan tidak diiringi dengan badan yg sehat. Hasilnya? Yaaa...terkapar saja deh di kasur, kembai membuat empang lokal karena keringat dingin yg masih bercucuran.

Badan panas dingin masih terasa. Belum lagi ada client yg menagih kerjaan. "Ya ya ya...bu, kerjaan itu sudah aku selesaikan di hari Sabtu, tak perlulah kau risau!" Ah, daripada puyeng2 oleh kerjaan, lebih baik aku minta istri tercinta menyiapkan makan siang.

Usai makan siang, yg lembut2, sejak tidak boleh makan yg keras2 untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan akibat makan yg keras2, Wify menyajikan sajian oat untuk disantapku. Usai makan, yg tidak habis, karena perutku tidak merasa cocok dengannya, akhirnya aku dan Wify tidur siang.

Kembali, sebelum bisa tidur siang, aku mestilah bermanja-manja dahulu. Disun kening, diusap2 kepalanya, barulah si sakit (maksudnya aku) bisa tertidur.

Si sakit bangun setelah terdengar sorak sorai dan hingar bingar anak2 dan dewasa, yg kembali di sore hari, berasyik ria berlomba dan menonton peringatan hari Kemerdekaan.

Ok...ok...badan sudah berkeringat, tidak dingin lagi, sudah cenderung keringetan yg normal, mungkin sudah lebih baik si badan. Mau kompromilah dia dengan pikiranku untuk men sana in corpore sano. Maksudnya, kalo ada laki2 di sana lebih baik disuruh pergi ke sono.

Ternyata pikiran hanya yg merdeka tapi badan dijajah sakit tidaklah enak lho!