Lanjutan dari ceritaku sebelumnya, tentang perawatan gigiku yg patah.

Hari Senin, 14 Juli 2008 lalu, aku kembali mengunjungi RSCM, sesuai dengan jadwal perawatan gigi yang telah ditetapkan di kunjunganku sebelumnya. Aku hadir jam 9 pagi, errr..tepatnya 9.13an. Aku serahkan kartu rawatku kepada petugas, kemudian aku dipanggil.

Seberkas map, berisi historical kesehatan gigiku, diserahkan padaku. Kemudian aku diminta langsung masuk ke sebuah ruangan, tempat perawatanku sebelumnya, kemudian menyimpan map. Sang suster memberitahukan, aku akan dipanggil jika waktunya tiba. Ok, aku segera mencari tempat duduk.

Waktu terasa lama bergulir. Dan kebosanan sempat melanda diriku, sebelum akhirnya sebuah peristiwa yg cukup menggelitik muncul di hadapanku.

Sang suster memanggil sebuah nama, ibu Nani jika tidak salah. Beberapa kali panggilan tidak ada respon. Akhirnya si ibu muncul juga.

Namun, mendadak si ibu berhenti, tidak masuk ke ruang perawatan. Ketika si suster bertanya,"Bu, masuk ke sini untuk diperiksa." Si ibu malah menggeleng seraya menjawab,"Saya tidak sakit gigi bu, tapi SAKIT KAKI..."

Mendengar jawaban bu Nani ini, aku langsung cekikikan...seraya menahan sakit di perut serta menutup mulut karena aku sudah pengen ngakak.xixixi...

OH MY GOD...SAKIT KAKI TAPI PERIKSA KE KLINIK GIGI?

Ini metode pengobatan seperti apa ya? Mungkin metode baru dari RSCM ini!!huahahaha...ngakak

Keruan bu Nani 'diinterogasi'. Dialognya lebih kurang:
Perawat: "Bu, katanya sakit kaki? Kok ke sini?"
Bu Nani: "Iya saya sakit kaki, tapi kata pak itu *seraya menunjuk* saya disuruh masuk."

Petugas yg ditunjuk jelas ngamuk.
Petugas: "Lho, saya kan tanya ke ibu? Mau berobat? Ibu bilang iya, ya jelas saya suruh masuk!!"

Bu Nani ga mau kalah,"Lho, pak, tapi kan saya sakit kaki, kenapa disuruh masuk ke situ?"

Aku ingin tertawa, tapi kasihan juga melihat bu Nani yg stres karena salah masuk klinik. Akhirnya seorang perawat menyuruh petugas kasir mengembalikan uang pendaftaran bu Nani. Setelah diberitahu lokasi klinik kaki, bu Nani pergi ke klinik kaki.

Tinggallah para pasien dan perawat ribut2. Sebagian tertawa, sebagian cuek, dan sebagian ngomong2 ga jelas.

Akhirnya giliranku tiba. Masuklah aku ke ruang perawatan. Bu dokter mulai mengobrak-abrik mulutku, termasuk ngebor sana ngebor sini, membuat mulutku kram karena terlalu lama mangap.

Lalu, si bu dokter melakukan sesuatu ke gigiku. Dia mengorek2 gigiku, dan ITU TERASA NGILU BANGET!!! Keruan saja aku meraung,"Arrrrggghhh...." Untunglah bu dokter mengerti bahwa aku kesakitan.

"Mau disuntik bius?"

Mendapat penawaran seperti itu, aku langsung terlonjak. Ingatanku kembali ke 10 tahun lalu, saat mahasiswa FKG salah suntik di mulutku. Benar2 MIMPI BURUK!! Sejenak aku ragu, namun melihat kelihaian ibu dokter ini, keraguanku menghilang.

Bismillah aja deh, batinku. So, aku menganggukkan kepala, tanda menyetujui bius gusi agar perawatan gigi bisa dilanjutkan. Ketika bu dokter mengeluarkan alat suntiknya, hmmm...aku tambah yakin bahwa bu dokter dan RSCM cukup profesional.

Alat suntik yg dikeluarkan keren sekali, tidak seperti alat suntik pada umumnya, tapi ada modifikasi, sehingga jika dilakukan penyuntikan tidak akan ada kesalahan.

Sruuuuttt...penyuntikan dilakukan, dan memang, dokter gigi RSCM profesional banget deh!! Tidak terlalu sakit, dan langsung bagian atas mulutku langsung mulai terasa ba-al (mati rasa). Dan mulailah si bu dokter ini kembali mengobrak-abrik mulutku, ngebor sana sini. Dan kali ini tidak terasa sakit.

Rasa sakit memang tidak terasa, tapi mataku melihat hal lain yg mengerikan. Pin2 jarum satu persatu masuk ke dalam mulutku, dan aku melihat si bu dokter menggoyang2 pin2 tersebut seakan2 mencabut atau ngapaiiinnn gitu, en aku rada2 nervous juga.

Saat pin jarum berwarna kuning masuk ke mulut, aku merasa heran karena si pin tidak dicabut dari mulutku. Ini berarti PIN WARNA KUNING MASIH DITANCAPKAN KE GIGIKU!!aarrgghhh...stresss...!

Eh, bukannya nyabut pin kuning, bu dokter malah menyuruh aku untuk ke ruang sebelah untuk difoto rontgen gigiku. Seraya memegang tissue, untuk menampung air liur yg terus menerus keluar, aku masuk ke ruang rontgen. Proses rontgen gigi dilakukan tidak terlalu lama, lalu aku bayar Rp 45 rebu sebagai biaya foto *hmmmm...nampaknya biaya rontgen naik Rp 10 rebu, dari sebelumnya Rp 35 rebu*

Kembali ke ruang perawatan, kembali bu dokter ngobrak ngabrik mulutku, dg pin2nya yg jumlahnya lebih kurang 10 buah. Dan akhirnya bu dokter melakukan gerakan mencabut...

Tassss....

"Nah, ini, saraf gigi kamu, sudah saya cabut..!!"

Whatttt....deeeee.....saraf gigiku dicabut? Karena mulutku masih disumpal kapas, aku kesulitan untuk bertanya. Akhirnya setelah aku berkumur, aku bisa bertanya, mengapa saraf gigiku dicabut. Jawaban bu dokter, saraf gigiku mesti dicabut karena akan berbahaya jika dibiarkan.

Dan memang, ternyata aku rasakan pusing kepalaku berkurang usai bu dokter tadi mencabut saraf gigi. Berarti selama ini saraf gigi atas sangat terhubung dg kepala, terutama akan menyebabkan sakit kepala jika si saraf terganggu. Walhasil, aku bersyukur dengan pencabutan saraf.

Lalu aku dijadwalkan untuk pemeriksaan berikutnya, yg jatuh tgl 28 Juli 2008, itu berarti minggu depan ya?

Total tagihan perawatan yg mesti aku bayar sebesar Rp 95 rebu. Seraya memegang2 rahangku yg terasa kaku, aku segera bergegas meninggalkan RSCM, pergi ke clientku, kerja lagi, ihik...ihik...

Informasi tambahan, biaya pendaftaran di RSCM naik, dari Rp 15 ribu menjadi Rp 25 ribu. Berarti kesehatan memang makin mahal.sedih