Sudah beberapa waktu, aku perhatikan banyak politisi yg muncul di TV. Mereka tampil dengan berbagai gaya. Ada yg mengajak untuk membeli produk pertanian, ada yg nampang untuk kampanye, ada juga yg nampang dg slogan2 ga jelas.

Terus terang, untuk ajakan membeli produk pertanian, aku masih memberi toleransi. Memang, saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama orang2 kaya (dan hidup di kota) lebih menyukai produk pertanian yg diimpor dibandingkan dengan produk2 pertanian dalam negeri. Padahal para petani sudah berusaha sedemikian rupa, dengan tantangan yg kadang tidak sulit ditemukan solusinya, bahkan tanpa dukungan dan bantuan dari pemerintah.

Rugi dan berhutang sudah menjadi kosa kata yg 'wajib' dimiliki seseorang apabila dia hendak menjadi petani. Musim kemarau yg terlalu panjang dan/atau musim hujan yg tidak jelas waktunya merupakan hal yg sulit dihindari. Akibatnya, banyak para petani yg berpindah profesi, entah menjadi buruh atau malah menjadi kaum urban, pindah ke kota, dengan skill yg tidak seberapa. Sementara lahan yg mereka tinggalkan, dijual dan diubah (oleh pemilik baru) menjadi gedung2 yg menghilangkan daya serap tanah terhadap air hujan yg turun.

Well, meski 'iklan' ini mengajak untuk menghargai hasil karya para petani, toh tetap saja ada muatan politisnya. Tapi seperti aku bilang, aku masih maklum kok.melet

Untuk yg iklan, ah...itu kan memang 'ritual' buang2 duit untuk mendapatkan jabatan, yg ujung2nya yaaa...saat menjabat mencari sampingan dan tambahan untuk balik modal.dzigh

Sementara, di bagian akhir, orang2 kelebihan duit yg muncul di TV dengan slogan2 yg ga jelas, ini yg membuat kepala pening dan mendadak perut merasa mual2mual2. Muntah bisa saja aku lakukan jika aku atau Wify tidak segera memindahkan remote control.whew!

Iklan pencitraan diri ini, seingatku dimulai sejak awal Mei 2008. Nampaknya semula dibuat untuk menyambut 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional, namun ternyata iklan ini 'keterusan' hingga acara Piala Eropa kemarin pun dibuat varian iklan, dg 'menyeret-nyeret' Piala Eropa. Bahkan dari beberapa media, aku temukan berita bahwa pak SB ini mengadakan acara nonton bareng.

Biaya Rp 300 miliar, isunya dikucurkan untuk iklan 'mendempul' citra diri ini.mata duitan Padahal, daripada repot2 ndempul diri dengan uang Rp 300 miliar, hanya untuk bilang "Hidup adalah perbuatan" atau "Perbuatan bla bla bla...", lebih baik terjun langsung ke masyarakat. Uang Rp 300 miliar itu banyak lho pak...entah kalo dianggap recehan sehingga layak untuk dibuang2 untuk membuat sesuatu untuk mengisi slot2 iklan.xixixi...

Tapi toh, semuanya bergantung juga pada masyarakat Indonesia, yg hingga saat ini masih mudah terpana dengan pemimpin yg tampangnya 'cakep', pintar nyanyi, gemar obral kata di sana sini, hobi menaikkan harga bbm, listrik, gas, dst dst, dan LUPA dengan perlakuan2 tersebut yg diterima, dan mau dibohongi (lagi) oleh pemimpin, eh, orang2, eh penipu2 berpolitik. *sigh*whew!

Kalopun mereka (ternyata) menang, berarti masyarakat kita yg memang (maaf saja...) BODOH!!!