Kejadian ini sudah berlangsung lama, tepatnya tahun lalu, namun kejadian ini membuat kami lebih berhati-hati dalam memilih dan mempekerjakan pembantu. Jadi begini ceritanya...

Tahun lalu, sekitar bulan Juni 2007, adalah bulan yg sibuk bagi kami berdua. Aku sering ngendon di client hingga pulang (relatif) cukup larut, Wify juga banyak kerjaan. Akibatnya jelas, banyak sekali gelas, piring dan baju kotor yg antri menunggu giliran dibersihkan. Aktivitas bersih2 di pagi hari sulit dilakukan karena waktu yg terbatas serta banyaknya tenaga yg dibutuhkan.

Walhasil, kami berdua mesti berhemat dalam beraktivitas. Makan&minum, yaaa...dilarang mengambil piring&gelas baru. Selesai pakai, langsung cuci sendiri. Namun perlakuan untuk baju dan celana tidak bisa demikian. Kami berdua kan mesti ganti pakaian tiap hari. Walhasil, untuk pakaian, yaaa...mau tidak mau mesti ditumpuk di mesin cuci hingga akhirnya kami berdua cuci dan (Wify) setrika di akhir pekan.

So, kami berdua berpikir untuk mengambil pembantu. Tidak perlu menginap di kontrakan, cukup datang pagi pulang sore. Kami mengumpulkan informasi di banyak tempat, termasuk kepada induk semang. Akhirnya kami terima saran seorang ibu, yg cukup senior di daerah kontrakan (lama), untuk mengambil seorang pembantu tertentu, katakanlah namanya...errr..Inem. *kenapa ya Inem identik dengan pembantu? entahlah, hihihi..*

Ternyata Inem tidak mau memenuhi permintaan kami. Dia maunya menjadi pembantu part time *halah...ternyata pembantu pun ada yg tipe part time juga ya? hahah...xixixi...*. Dengan kata lain, dia hanya bekerja di tempat kami selama 2-3 jam/hari saja. Alasannya dia juga bekerja di tempat lain *hwadah...pembantu pun sekarang sudah maruk bin tamak alias rakus*halah.. Semula dia mengajukan harga Rp 250 ribu. EBUSET...!! MAHAL AMAATTT....!!

Untungnya Wify sudah melakukan survey sebelumnya tentang gaji pasaran pembantu melalui teman kantor dan tetangga. Aku minta Wify nawar, hingga Rp 100ribu/bulan. Alasanku, yaa...ga sebanding dengan load kerja yang dia terima di petakan kami, yang kecil mungil, dan kerjaan yang belum tentu ada tiap hari. Pada saat interview, si Inem bilang kalo di tempat kerja dia yang lain, gajinya 200 rebu dan 250 rebu, dengan load kerja nyuci+gosok baju tiap hari (untuk 4-5 orang), ngepel, nyuci piring dan beres-beres rumah.

Usai deal yg cukup alot, akhirnya didapat harga Rp 175ribu/bulan. So, mulailah dia bekerja di pertengahan Juni 2008.

Singkat kata, ternyata hasil kerjanya sangat mengecewakan!!!
1. Gelas dan piring yg dicuci, tidak cukup bersih. Wify masih sering temukan bekas2 sabun dan kotoran yg masih menempel. Akibatnya jelas, Wify mesti 2x kerja. Sambil nyuci, Wify sering ngomel2 bahwa lebih baik dia yg nyuci daripada mesti 2x kerja untuk hal yg sama.

2. Jam kerja yg seenaknya. Akibat dia terlalu banyak nyambi, jelas dia sendiri tidak bisa menepati jam kerjanya. Misalnya dia hari ini janji jam 8 pagi. Eh, ternyata baru datang jam 2 siang! Walhasil, Wify yg repot karena mesti bolak balik pulang, memastikan bahwa si pembantu ndak neko2.

3. Idem dg poin 1 untuk hasil cucian baju. Beberapa kali aku temukan kotoran di kerah leher baju2 (kemeja). Akibatnya jelas, beberapa kali aku garuk2 leher saat di client. Paling menjengkelkan jika saat meeting, aku mesti garuk2!! Grrr...

4. Kurang ajar. Di mana2, yg namanya pembantu itu nurut apa kata majikan. Eh, pembantu ini malah sebaliknya, berani ngatur majikan. Keruan aja Wify ngomel2 dan mengadu padaku. Kalo sudah gitu, yaaa...mesti aku yg turun tangan. Cukup dengan mendehem yg berwibawa *ehm...tuh kan berwibawa...*, si pembantu ndak jadi neko2.

5. Well, 4 poin di atas rasa2nya belum cukup untuk menjatuhkan vonis pecat kepada pembantu, jadinya aku tambahkan 1 poin PALING PENTING, yakni si pembantu ini TIDAK JUJUR. Satu waktu, Wify menyediakan 2 kotak berisi pakaian. Salah satu diantaranya memang disediakan untuk si pembantu, sementara kotak lainnya hendak kami sedekahkan. Wify sudah pesan bahwa jatah dia hanya 1 kotak. Eeehhh...ternyata diambil dua2nya. Memang dia janji untuk mengembalikan, tapi ya sudahlah...kami sudah kadung ga percaya dg dia. Soalnya sudah jelas dibedakan antara kotak pakaian untuknya, eh, diembat juga.

Untunglah kami tidak sejahat orang2 Malay, yg menyiksa dan pembantu. Padahal, jika melihat kinerjanya si pembantu ini, heuughhh....bisa2 dia babak belur jika melamar kerja jadi TKW di Malay sono!!

So, akhirnya kami hanya 1 bulan punya pembantu. Dan hingga kini, 1 tahun kemudian, akhir pekan merupakan hari kerja bakti, bersih2 rumah, cuci baju (yg menumpuk), ngepel bla bla bla.

Untunglah ada Wify, yg setiap hari siap sedia menjadi super Wify, karena bangun pagi untuk cuci baju dan nyiapin makanan, belum lagi cuci2. Pokoknya mah, muah muah lah buat Wify, hihihihi...muah muah

Rencana punya pembantu sempat menjadi isu keluarga yg cukup serius, namun karena si Kecil belum muncul, kami masih tunda deh.

Apa mungkin kami angkat Sandra Dewi sebagai pembantu rumah tangga ya, mengingat kiprahnya sebagai pembantu di sinetron2 terasa begitu menjanjikan?? Gyakakak...ngakak Boro2 diterima, malah dipelototin Wify, soalnya ntar beneran jadi Sandra Dewi pelayan seksi, hihihi...xixixi...