Seperti kita ketahui, Indonesia sedang mengalami krisis listrik yg cukup mengkhawatirkan. Bahkan bisa dikata, ini adalah krisis listrik terburuk yg pernah aku alami sejak aku mbrojol di dunia ini. Bagaimana tidak buruk, jika rencana pemadaman bergilir yg hendak dilakukan dirasa bukan sebagai solusi terbaik.

Pemerintah, melalui PLN, selaku pihak yg bertanggung jawab terhadap ketersediaan listrik, malah memberikan solusi yg tidak masuk akal.

Beberapa solusi tidak masuk akal itu antara lain:
1. Mall tidak boleh beroperasi setelah jam 22.00 WIB.
Lho, mengapa mall tidak boleh beroperasi? Apakah para pembeli tidak bisa lagi menikmati hidangan di sebuah mall gara2 jam 10 malam para pemilik mall mesti mematikan listrik? Padahal para pembeli kan menggunakan uangnya, bukan uang pemerintah.

Dapat dipastikan, para pengunjung hypermarket tidak bisa lagi menikmati jam2 belanja murah meriah.

2. Stasiun televisi tidak boleh beroperasi selama 24 jam, alias mesti mengurangi jam tayangnya.
Ini juga hal yg aneh, tapi di sisi lain menguntungkan. Jika pengurangan jam tayang ini diberikan atau diberlakukan kepada stasiun2 tv ga jelas seperti yg pernah aku tulis di sini, jelas aku akan bersyukur banget. Tapi jika Metro TV atau stasiun2 tv lain yg manfaatnya cukup besar juga mesti mengurangi jam tayang, jelas aku keberatan. Informasi2 bermanfaat akan kian berkurang, meski tayangan2 bodoh itu juga menghilang.nyengir

3. Peralihan jam kerja untuk pabrik dan buruh.
Dari 2 poin di atas, aku melihat poin no 3 ini yg super duper ga masuk akal. Bagaimana tidak, para pemilik pabrik mesti mengalihkan jam kerja (bahkan hari libur) untuk para buruhnya. Suatu kebijakan yg benar2 tidak bijak, karena hal ini jelas akan mengganggu ritme hidup mereka (terutama para buruh).

Jika yg dituju adalah efisiensi, apakah ada jaminan bahwa hal itu akan menjaga efisiensi kerja? Bukankah justru akan menurunkan produktivitas para buruh karena pikiran mereka akan terpecah.

"Lho, pecah pikiran gimana?"

Ya jelas pikiran akan pecah, karena jadwal mereka dengan keluarga akan bentrok. Ketika si ibu liburnya bergeser, otomatis waktu untuk bertemu keluarga akan terganggu. Misal minggu menjadi hari kerja bagi buruh, dan kamis menjadi hari libur, jelas sekali si ibu tidak bisa berinteraksi secara maksimal dengan anak2nya.

Pemadaman listrik secara bergilir sendiri sudah mulai berlaku. Di daerah Pasar Minggu, sempat terjadi pemadaman, itu berarti daerah Kalibata juga terkena pemadaman. Tapi komplek sekitar rumah justru masih terang benderang. Malahan komplek Pomad yg terkena pemadaman.

Usut punya usut, ternyata di komplek Kalibata Tengah dan sekitarnya banyak pejabat2 yg berdiam di situ. Walhasil, PLN ndak berani mematikan listrik di situ, hehehe...

Anda sendiri bagaimana? Sudah terkena giliran pemadaman listrik?

Kembali ke krisis listrik. Pemerintah via PLN memang aneh. Para pengusaha dan warga sebenarnya kan MAMPU MEMBAYAR untuk penggunaan tiap watt listrik yg digunakan, tapi MENGAPA DIBATASI? Jelas akan berpengaruh pada kualitas barang yg diproduksi serta tingkat persaingan produk2 Indonesia dengan bangsa lain.

Jadi, yaaaa...ah, entahlah. Beginilah jika pengusaha menjadi penguasa, selama menguntungkan dirinya yaaa...egepe dg urusan oranag lain dah.geleng2...