Merokok, siapa sih yg tidak kenal dengan kegiatan/aktivitas ini? Hampir mustahil kita tidak temukan tempat yang tidak ada perokok. Dalam gedung ber-ac sekalipun, terkadang masih ada (maaf, aku kasar sekali) manusia tolol yg merokok. Padahal, merokok di ruangan ber-ac adalah tindakan yg berbahaya karena asap rokok akan 'terkurung' di dalam ruangan, sehingga para penghuni ruangan akan terus menerus menghisap asap beracun itu.

Sudah banyak penelitian dan pengumuman yg dipasang dan diwartakan, terkait dengan bahayanya asap rokok ini. Bahkan, di kalangan ulama (agama Islam, maksudnya) ada yg MENGHARAMKAN rokok karena besarnya bahaya yg ditimbulkan. Meski, masih banyak juga ulama (terutama pemilik pondok pesantren) dg cueknya merokok saat menjelaskan ilmu agama.geleng2 kepala

Meski sudah tahu bahwa rokok itu racun, masih saja ada orang yg merokok. Yg lebih parah, merokok sudah merambah ke anak usia sekolah dasar!!d'oh Bayangkan, anak2 SD, yg masih dalam masa pertumbuhan, masih segar2nya untuk menerima ilmu, malah menghancurkan dirinya dengan rokok!

Sudah sering aku lihat anak2 SD merokok, tidak hanya di Bandung, bahkan juga di Jakarta! Dg gaya yg sok dewasa, mereka memainkan rokok. Tingkahnya membuatku tertawa sekaligus miris. Lha wong duit saja masih subsidi dari orang tua, kok yaaa...dipakai merokok? Aku sendiri yakin, uang jajan mereka lebih banyak dihabiskan untuk merokok daripada digunakan untuk membeli makanan.

"Lho, jadi kalo sudah bisa cari duit sendiri, boleh digunakan untuk beli rokok?"

Yaa...tetep saja tidak boleh.

Aku sendiri tidak tahu persis mengapa anak2 SD itu merokok. Padahal saat aku masih SD, jika ada anak SD merokok, wah...bakal diejek dan disindir habis2an. Namun, kini...bahkan segerombolan anak SD asik menikmati asap2 ndak jelas itu.

Tampaknya, di jaman sekarang, jika tidak merokok, justru akan diejek sebagai banci lah, kurang lelaki lah. Bah, aku seringkali tidak habis pikir, kenapa ejekan2 seperti itu masih 'berlaku' ya? Padahal tidak ada hubungan tidak merokok dengan sifat banci!! LHA WONG SEKARANG AJA BANCI JUGA MEROKOK!!xixi..

Yang menyebalkannya, perusahaan2 rokok ini seringkali menjadi sponsor di banyak tempat. Mulai dari acara dugem hingga kegiatan olahraga! Jelas, ini hal yg menguntungkan!

Lalu, apa solusinya?

Jika mau ekstrim, yaaaa gampangnya adalah TUTUP PABRIK ROKOK! Namun, hal2 klise berikut selalu dijadikan alasan:
1. Cukai dari rokok sangat besar dan menguntungkan negara.
Ya ya ya....cukai nampaknya lebih penting daripada kesehatan dan masa depan negara! Aku pernah baca, sayangnya lupa sumbernya, bahwa dana kesehatan yg dibutuhkan untuk pengobatan para pecandu rokok, jauh lebih buesaaaaaar dibandingkan dengan cukai yg diterima.

Jadi? Ah, tau sendirilah (aparat) negara ini seperti apa. Ngurus BBM saja ndak becus.siyul2

2. Jika pabrik rokok ditutup, pekerjanya disuruh kerja apa?
Nah, ini juga hal klasik yg seringkali disodorkan para pro rokok. Lha, kalo mindsetnya saja sudah 'repot', akibatnya solusi2 alternatif (yg bisa jadi lebih baik) tidak akan terpikir. Lagipula, para pro rokok justru dg tega membiarkan saudara2nya berkecimpung di dunia rokok, tanpa adanya perbaikan masa depan!

Aku sendiri, alhamdulillah, hingga kini tidak pernah jadi pecandu rokok. Meski memang, sering menjadi perokok pasif, karena adakalanya para perokok dg seenaknya menghembuskan asap beracun itu ke sekelilingku. Dua kali aku pernah mencoba rokok, saat SD dan SMA. Itupun hanya 2x isap, dan aku berhasil batuk2 berkepanjangan dg sukses, sebagai pertanda aku bukan orang yg cocok untuk merokok.

Godaan dan rayuan untuk merokok bukannya tidak ada. Bahkan dari mbak2 spg yg menawarkan rokok, demikian berusaha menggodaku untuk membeli rokok (dan menghisapnya).

Nenekku, dari pihak Bapak, meninggal karena gangguan paru2, karena beliau pernah terlibat dg rokok. Bapakku, alhamdulillah, sudah berhasil mengurangi konsumsi rokok. Dari semula 1 hari hingga 2 bungkus, kini 1 bungkus 1 minggu.

Aku sendiri tidak keberatan dg perokok, asal tidak mengganggu orang2 di sekelilingnya dg asapnya. Terlebih para perokok yg sudah dewasa dan berpenghasilan sendiri, yaaa...itu sih aku yakin mereka sudah berpikir untung ruginya.

*artikel ini dibuat untuk memperingati hari Anti Tembakau Sedunia, 31 Mei, yg telat posting, hahah...*