Jika di cerita sebelumnya aku bercerita tentang pengalamanku mengurus (jaket) gigiku yg patah, maka kali ini aku ingin bercerita tentang layanan kesehatan (ya ya ya...anda bisa baca dari judul artikel ini kok). Cerita ini mungkin berkesan 1 arah alias subyektif, tapi aku pikir ceritaku ini cukup mewakili cerita sebagian besar masyarakat (terutama lapisan bawah) yg hidup di Jakarta.

Ada beberapa alasan mengapa aku pergi ke RSCM untuk mengurus kesehatan. Salah satu hal terpenting adalah BIAYA. Well, jika anda bekerja di perusahaan yg belum bisa memberikan layanan asuransi kesehatan bagi pegawainya, anda akan merasakan bahwa harga kesehatan (terutama gigi) merupakan sesuatu hal yg mesti dipersiapkan, tentunya dengan jumlah yg cukup dan selalu siap sedia setiap saat, karena sakit bukanlah hal yg bisa kita kontrol, terlebih jika sakit tersebut skalanya cukup mengkhawatirkan.

Dengan kata lain, membeli ASURANSI adalah sebuah hal yg patut diperhitungkan. Seperti yg aku tulis di paragraf dua, anda mesti siapkan sendiri asuransi bagi diri anda, terlepas apakah perusahaan menyediakan fasilitas yg serupa. Setidaknya asuransi akan membantu anda (bisa dikatakan cukup banyak) apabila satu saat anda mesti berurusan dengan rumah sakit.

Di artikel ini aku tidak ada niat untuk jualan asuransi, jadi tenang saja, anda tidak akan dicekoki dengan iklan2 ataupun rayuan2 untuk membeli satu produk asuransi tertentu.xixixi...

RSCM memang bukan rumah sakit yg cukup lengkap peralatannya, tapi PERLENGKAPAN DAN PERALATAN yg ada di sana, aku rasa cukup memadai, hmmm...setidaknya untuk kasus gigi yg aku alami. Dalam satu kesempatan 'nyasar', gara2 aku nyari masjid tapi ga ketemu, aku banyak melintas di lorong2 rumah sakit dan ruang2 pengobatan. Ok ok...jangan bandingkan dengan rumah sakit lain yg mewah, apalagi dengan rumah sakit di luar negeri, Singapura katakanlah, yg sering dijadikan rujukan (tempat) berobat bagi orang2 Indonesia yg berkantong tebal.

Namun, dikaitkan dengan poin 1, biaya, peralatan RSCM rasa2nya masih bisa dijangkau, entah itu pasien dengan askes ataupun non askes. Aku rasa yakin biaya perawatan peralatan juga akan terkait dengan ongkos yg mesti dibayar oleh pasien (terutama yg tidak mampu). So, dg biaya yg tidak terlalu menguras kantong, (insya ALLOH) anda bisa manfaatkan perlengkapan kesehatan RSCM dengan optimal.

Melihat daftar DOKTER yg bertugas, setidaknya di klinik gigi, jelas akan terasa sekali bahwa dokter2 yg bertugas adalah dokter2 PNS. Melihat tampilan dan style mereka, aku yakin mereka hidup sudah lebih dari cukup. Heiiii...jadi dokter itu JAMINAN KAYA LHO..!! Apalagi jadi dokter yg bertugas di Jakarta, lebih 68% adalah dokter yg 'super' sugih lah!!

So, dokter2 dengan karakteristik kekayaan yg sudah signifikan, jelas mereka akan lebih konsen untuk bertugas merawat pasien. Maksudnya, KESEJAHTERAAN pegawai (yg relatif cukup) bisa dikatakan merupakan satu hal pokok yg mesti didapat. Masalah dokter2 itu kemudian praktik di luar jam kantor, katakanlah punya klinik pribadi, itu adalah hak mereka. Toh, knowledge dan skill mereka didapat dengan biaya yg tidak sedikit pula. Wajar toh??sok iye

POSISI (LOKASI) RSCM sendiri yaaa...cukup strategis. Beberapa rumah sakit pemerintah memang tersebar di beberapa tempat, namun mesti diingat, kelengkapannya tidak sebagus RSCM (lihat kembali poin2 di atas). Namun sebaran rumah sakit pemerintah (baca: rumah sakit yg terjangkau) di Jakarta ini nampaknya cukup baik. Anda bisa baca di sini.

Hmmm...cukup banyak ternyata poin2 (terkait kesehatan) yg dibutuhkan masyarakat cukup banyak juga ya? Jelas, memenuhi semua poin di atas, apalagi setidaknya di 68% rumah sakit pemerintah, rasanya berat juga ya? Karenanya, aku masih kagum pada beberapa pemimpin daerah yg bisa menyediakan kesehatan GRATIS!! Hal ini dikarenakan, jika melihat poin2 di atas, jangankan memberikan layanan gratis, yg murah saja sudah cukup sulit. Namun, memang, jika pendapatan daerah tersebut cukup besar, penyediaan kesehatan gratis tidaklah sulit.siiiipppp...

Namun intinya, pemerintah MESTI memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. Penyediaan ASKES barangkali sudah cukup menolong, namun masih terbatas. Setahuku, askes masih menjadi 'monopoli' para PNS (mohon koreksinya jika salah). Sementara itu, perusahaan2 asuransi kesehatan sendiri, meski gencar promosi produknya, harga preminya masih sulit dijangkau masyarakat kebanyakan.

Aku tidak tahu persis berapa besar anggaran pemerintah (yg dibutuhkan) untuk bisa memberikan layanan asuransi kesehatan bagi masyarakatnya. Namun, katakanlah jika premi 1 orang Rp 50 ribu, maka untuk menangani 200 juta rakyat yaa.....(*Aku tidak tahu persis berapa besar anggaran pemerintah (yg dibutuhkan) untuk bisa memberikan layanan asuransi kesehatan bagi masyarakatnya. Namun, katakanlah jika premi 1 orang Rp 50 ribu, maka untuk menangani 200 juta rakyat yaa.....(*Aku tidak tahu persis berapa besar anggaran pemerintah (yg dibutuhkan) untuk bisa memberikan layanan asuransi kesehatan bagi masyarakatnya. Namun, katakanlah jika premi 1 orang Rp 50 ribu, maka untuk menangani 200 juta rakyat yaa.....(*Aku tidak tahu persis berapa besar anggaran pemerintah (yg dibutuhkan) untuk bisa memberikan layanan asuransi kesehatan bagi masyarakatnya. Namun, katakanlah jika premi 1 orang Rp 50 ribu, maka untuk menangani 200 juta rakyat yaa.....*&^@#*(@^*(@&^@*&^#@*puyeng melihat angka 0 yg berderet panjang*terhipnotis

Salah satu hal mengapa asuransi itu penting, karena seringkali aku baca (bahkan temanku alami), saat masuk rumah sakit (misalnya istri hendak melahirkan atau ada urusan operasi), yg pertama ditanya adalah JENIS KARTU KREDIT anda! Jika platinum, yaaa...bersyukurlah anda, karena layanan yg akan anda terima akan cukup memuaskan. Sebaliknya, yg tidak punya kartu kredit akan ditanya macam2, mulai dari penjaminan, kerja di mana, bla bla bla...cape deehhh...whew! *nampaknya mesti apply kartu kredit nih...*

'Menyediakan' dokter2 berdedikasi, MUNGKIN tidak sulit. Percayalah, masih banyak kok dokter2 yg punya dedikasi dan idealisme.

Sementara untuk kelengkapan, yaa...mbok ada regenerasi gitu loh. Katakan 1 alat sudah 5 th di RSCM, mungkin bisa 'dipindahkan' ke rumah sakit pemerintah lain yg membutuhkan, dan tentunya biayanya bisa dijangkau masyarakat.

Errr....maaf jika artikel ini dirasa terlalu serius untuk ukuran blog yg biasanya tampil dg artikel 'urakan' dan norak (eh...jangan lupa) serta seringkali narsis ini. Tapi, percayalah, anda akan berpikiran yg sama denganku, jika anda pernah mengalaminya. Bahkan mungkin pengalaman anda jauuuh lebih seru dan menarik.

Semoga artikel ini berguna.