Kartu kredit, siapa sih yg tidak kenal dg kartu (dg teknologi) ini? Di jaman sekarang, aku yakin di antara para pembaca sudah memiliki kartu kredit, minimal 1 buah kartu. Maksimalnya? Entahlah...barangkali lebih dari 5 kartu?Entahlah!

Aku sendiri, hingga artikel ini ditulis, masih merasa belum perlu memiliki kartu kredit. Wify sendiri pernah memiliki kartu kredit selama hampir 2 tahun, namun akhirnya ditutup pada Oktober 2007 lalu. Ditutupnya kartu kredit tidak ada kaitannya dengan hutang yg kian menumpuk, tapi karena ada urusan dengan perkreditan rumah.

Ada beberapa alasan mengapa aku belum tertarik dengan kartu kredit:
1. Bukan tipe penghutang (dan tukang belanja).
Aku bersyukur bahwa aku (dan Wify) bukan tipe penghutang. Saat Wify punya kartu kredit pun, Wify tidak banyak menggunakan kartu kredit, kecuali saat membeli barang2 elektronik kebutuhan rumah tangga. Itupun kami beli dengan rincian yg ketat serta kami cari barang elektronik dg cicilan 0%, hihiii...xixixi..

2. Terlalu banyak kasus antara para pemilik kartu kredit dengan bank.
Seringkali aku membaca, adanya kasus antara pemegang kartu kredit dengan bank yg mengeluarkan kartu kredit tersebut. Adaaaa saja masalahnya, mulai dari metode penagihan yg kasar, lalu adanya biaya2 siluman, tagihan2 yg tidak jelas ujung pangkalnya.

3. Kasus Fraud
Ok, anggap saja poin no 2 tidak masalah. Mempunyai kartu kredit memang asyik, terutama jika hendak transaksi online. Tapi toh, masih ada kejahatan/masalah yg mengintai, yakni fraud atau pencurian data (kartu kredit). Banyak carder (bahkan dari Indonesia) yg siap mendapatkan data kartu kredit anda dan tagihan kartu kredit yg datang akan membuat anda membelalakkan mata (bahkan bisa jadi jantungan).d'oh

4. Pencurian data offline
Metode kejahatan lain yg masih akan mengincar anda, para pemilik kartu kredit, adalah telpon2 dari orang2 yg mengaku dari bank yg mengeluarkan kartu kredit yg anda pegang. Beberapa temanku terkecoh dg tipuan ini, dan ada beberapa di antara mereka yg terkena jebakan betmen ini. 'Tanpa sadar' mereka memberitahukan digit2 penting kartu kredit kepada si penelpon, padahal belum tentu si penelpon ini adalah orang suruhan bank.

5. Korban skem
Percaya atau tidak, ada beberapa bank (yg mengeluarkan kartu kredit) di Indonesia yg menjual data nasabah mereka kepada pihak ketiga, tanpa sepengetahuan dan seijin customernya. Walhasil, banyak sekali telpon2 yg datang menawarkan ini itu. "Bah...!! Berisik kaliiii...!", demikian omelan seorang pemilik kartu kredit yg aku kenal, yg berulangkali mendapatkan telpon2 'ndak jelas'.

Karena aku masih ingin hidup tenang dan nyaman, serta terbebas dari hal2 'ga penting' seperti itu, aku putuskan untuk tidak punya kartu kredit terlebih dahulu. Namun dari 5 alasan di atas, penyebab utama aku tidak punya kartu kredit adalah karena TIDAK PERNAH ADA YG MENAWARI KARTU KREDIT...!!nyengir