Selama seminggu ini, aku sempat membaca beberapa pernyataan pak Menkominfo, mengenai sikap dan tindakan yg akan diambil pemerintah, berkaitan dengan peredaran film Fitna. Sebagai penyegar, film Fitna adalah sebuah film 'kacangan' yg dibuat oleh Geert Wilders. Di side A sendiri, aku menyatakan bahwa dari judulnya saja, si Wilder sebenarnya hendak memberitahukan bahwa isi filmnya itu berisi fitnah.

Nah, pak Nuh menyatakan bahwa pemerintah, melalui departemen yg beliau pimpin, AKAN MENUTUP SITUS YOUTUBE, apabila pihak Youtube tidak bersedia menghapus file film Fitna. Pihak Youtube sendiri tetap bersikukuh bahwa pihaknya tidak akan menutup atau menghapus file2 film Fitna.

Aku juga sempat membaca, sayangnya lupa sumbernya, bahwa pemerintah akan menutup semua situs yg terkait (langsung/tidak langsung) dengan file film Fitna. Itu berarti, jika blogku ini menyediakan tautan atau bahkan mengarahkan para pembacanya untuk bisa mengunduh file film Fitna, maka pemerintah akan punya kuasa untuk menutup akses ke blogku ini.halah...!!

Dan hari Minggu lalu, aku sempat membaca beberapa berita, bahwa situs Youtube tidak bisa diakses! Adinoto sendiri menyatakan penutupan situs Youtube berarti kita kembali ke jaman pertengahan yg gelap. Halah...terlalu hiperbolik, menurutku.

Memang, jika kita perhatikan dengan teliti, Youtube menanggung resiko terhadap diunggahnya file film Fitna. Di Pakistan sendiri, pemerintahnya juga bersikap keras dengan menutup akses ke situs Youtube.

Nampaknya pemerintah RI berusaha meniru langkah2 dan sikap2 pemerintah Pakistan. Hanya saja, menurutku langkah dan sikap yg dilakukan pemerintah RI justru menjadi blunder. Mengapa? Yaaa..karena sikap yg dilakukan pemerintah, seperti yg aku tulis di atas, justru hendak menutup semua situs yg terkait dg Fitna.

Apabila semua situs yg terkait dg Fitna ditutup, maka aku 'sepakat' bahwa bangsa (atau masyarakatnya) ini akan kembali ke jaman pertengahan yg gelap. Karena, sebuah situs yg menyuguhkan diskusi ttg Fitna akan ditutup. Dengan kata lain, kebebasan berpikir dan berpendapat (yg sehat, tentu saja) akan tumpul (dg 'terpaksa') karena aksi sensor (membabi buta) yg dilakukan pemerintah.

Idealnya, menurutku, pemerintah (via Depkominfo) tidak perlu berbuat sejauh itu, dg menutup akses ke youtube dan situs2 yg terkait dg Fitna. Proses pencekalan terhadap si Wilders serta pernyataan keberatan kepada pemerintah Belanda, bagiku, sudah cukup menampilkan ketidaksukaan (protes) pemerintah terhadap film Fitna dan pemerintah Belanda.

Yg lebih 'mengerikan', Ditjen Postel menyatakan akan mencabut ijin penyelenggara bila tidak memblok Fitna.

Yg jelas, dengan ditutupnya Youtube, aku kehilangan tempat untuk mencari clip2 film, lagu, dan hal2 yg mengasyikan lainnya.frustasi