Semalam, aku dan Wify berkesempatan menonton Kun Fayakuun, sebuah film yg dibuat oleh salah seorang ustad, Yusuf Mansyur. Sengaja menonton di awal penayangan, karena aku tidak mau seperti AAC, yg tidak sempat nonton.

Untuk benang merahnya, silakan baca di sini.

Aku hendak membahas beberapa hal mengenai film ini:
1. Dubbing yg nanggung dan ndak sinkron.
Aku sempat perhatikan, betapa nanggungnya dubbing yg dilakukan. Seringkali suara dan gerak bibir ndak sinkron. Apalagi ketika Desi Ratnasari dan Agus Kuncoro sedang berbincang-bincang, hwaduuuhh...nampak sekali ada jeda antara suara dan gerak bibir.

2. Setting waktu yg tidak jelas.
Jika diperhatikan dg teliti, nampak sekali setting waktu tidak pas. Terutama saat Agus Kuncoro sholat dhuhur, bersamaan dg anaknya. Lalu tanpa ada tanda2 waktu sholat ashar, mendadak sudah magrib. Lho, kapan asharnyaaaaaa???

3. Keajaiban barang dagangan.
Oke..oke..film ini berjudul Kun Fayakuun, yg artinya "Jadi maka terjadilah". Memang, ALLOH SWT bisa berkehendak apa saja. Tapi jika barang dagangan yg ditinggal kemudian tiba2 sudah nangkring lagi di depan rumah, yaaa...ndak logis lah. *mirip dg buku La Tahzan di Nagabonar Menjadi 2*

4. Pemeran yg jauh panggang dari api.
Entah mengapa, melihat Desi Ratnasari menjadi seorang ibu yg miskin kok yaaaa bikin aku garuk2 kepala.melet Belum lagi tampilan mereka yg terlalu bersih, bahkan saat adegan makan, terlihat sekali tangan Agus Kuncoro begitu bersih dan lembut. Ndak cocok ah untuk menjadi seorang tukang kaca.siyul2

5. Ending yg ndak jelas.
Di bagian akhir, nampak sekali ketidakjelasan ending film ini.

Ok...ok...terlepas dari semuanya, aku perhatikan, film ini dibuat untuk ikut menyemarakkan film2 dengan nuansa agama. Jika dibilang mengekor Ayat Ayat Cinta, mungkin 68% benar. Hanya saja, aku lihat film ini tidak ditanggap seramai AAC. Setidaknya, aku lebih mudah mengantri dan dapat tiket. Hal lainnya, Kun Fayakuun tidak ada bukunya, sehingga calon pembaca/penonton tidak punya gambaran.

Oya, ada hal lucu saat membeli tiket.

Saat aku antri tiket, di sebelahku ada pasangan yg gelisah. Mereka bolak balik bertanya ke mbak kasir, ingin menukar tiket yg mereka beli. Aku secara ndak sengaja mendengar obrolannya. Intinya, mereka salah beli tiket. Mereka nampak sekali ngotot ingin menukar tiket.

Hmmm...aku perhatikan keduanya, lalu tiketnya. Hmmmppfff...aku tersenyum sendiri. Ternyata aku melihat memang ada 'misunderstanding', intinya sih yaaa...mereka salah pilih film. Aku teringat pengalamanku dulu, sama2 salah beli tiket, dan merasa beruntung dan lega ketika akhirnya ada yg mau membeli tiket yg salah beli.

So, akhirnya, aku menawar tiket mereka, dan mereka tampak gembira sekali karena mereka akhirnya bisa membeli tiket yg mereka inginkan.

Film dengan durasi hampir 2 jam ini tidaklah jelek2 amat, namun yaaa...cukup mengecewakan, jika perbandingannya dengan AAC. Tapi lebih baik daripada film2 horror yg ndak jelas seperti itu.xixixi...