Wiken lalu, aku berkesempatan untuk pulang ke Bandung. Tujuannya tidak hanya menjemput Wify, yg sudah pulang lebih dulu, tapi juga untuk nyoblos, memilih kepala daerah (Gubernur) Jawa Barat yg baru.

Lho, kok Wify pulang duluan?

Yaa...mau bagaimana lagi, Jum'at sore sudah siap2 pulang ke Bandung, eh, ada sms dari pak bos, minta aku lembur di hari Sabtu karena ada keperluan yg mesti diselesaikan.halah.. Walhasil, Wify pulang duluan deh, statusku menjadi bujang untuk 1 hari, 12 April 2008.

Sedikit berbeda dengan pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Saat pilkada DKI lalu, aku tidak didata untuk memilih. Selain itu, aku bisa melakukan analisa2 terhadap proses pilkada. Tidak lupa liputan langsung di beberapa tempat, terutama yg berkaitan dengan masa kampanye.

Nah, untuk pilkada Jabar, aku tidak banyak mengulas dan mengikuti perkembangan. Berita2 yg terkait pilkada Jabar tidak banyak muncul di koran Kompas, baik itu yg cetak ataupun yg online. Di kompas, yg tampak hanyalah polling ttg pemilihan gubernur Jabar. Detik? Aku jarang buka, kecuali kepepet. Terus terang, aku terlupa untuk membuka www.pikiran-rakyat.com!!

Meski demikian, aku tetap melakukan analisa, dengan minimnya berita dan info yg aku dapatkan. Dan yg terpenting, AKU PUNYA HAK MEMILIH...DAN TIDAK GOLPUT!!

Ada 3 pasangan kandidat gubernur/wagub yg muncul:
1. Danny Setiawan - Iwan Sulanjana (Da`i) didukung partai Golkar dan partai Demokrat
2. Agum - Numan (Aman) didukung PDIP dan lainnya
3. Ahmad Heriawan dengan Dede Yusuf (Hade) didukung PAN dan PKS

Hmmm...sebuah komposisi yg menarik, jika tidak dikatakan MENANTANG. Bagaimana tidak? Pasangan no 3, selain umurnya yg masih muda (jika tidak salah, kedua calon masih di bawah 45 tahun), dengan pengalaman politik yg relatif masih baru, akan berhadapan dengan 2 calon 'gaek' yg sudah kenyang makan asam garam dunia politik.

Aku melihat kasus pilkada Jabar ini serupa dengan pilkada DKI, meski dengan situasi dan kondisi yg berbeda. Benang merahnya, PKS dikeroyok oleh partai lain. Bedanya, di Jabar, PAN menemani PKS, sementara 2 partai besar, PDIP dan Partai Golkar, kali ini mengusung jagoannya masing-masing.

Selama masa kampanye, aku melihat begitu banyak (dan sering) wajah pasangan no 1 muncul di koran2 NASIONAL, terutama di Republika. Jargon yg diangkat adalah MEMILIH DENGAN HATI. Dari jargonnya, aku merasa ada kesalahan. Memilih itu dg tangan pak, bukan dg hati, hahaha.. Pak Danny sendiri beberapa kali muncul di tv, tentulah kampanye. Pak Iwan sendiri jarang muncul. Mendadak kok aku ingat dg kasus pilkada DKI. Hmmm...mikir

Sementara pasangan no 2, jarang aku lihat di koran. Namun beberapa kali muncul kampanyenya di tv. DEMI JABAR, demikian jargon yg diusung. Yg mengherankan, seingatku, dalam kampanyenya di tv, kedua tokoh ini jarang muncul. Yang lebih sering muncul adalah slogan DEMI JABAR ini. Dan kembali aku merasakan adanya kesalahan. Yak...dengan jarang munculnya sang tokoh, nampaknya para pemilih akan kebingungan saat memilih, karena TIDAK AKAN ADA tulisan DEMI JABAR di surat suara.mikir

Di milis SMA, banyak sekali suara yg mendukung Agum. Maklum, berasal dari almamater yg sama. Terus terang, aku TIDAK SUKA MEMILIH PEMIMPIN DENGAN DASAR LATAR BELAKANG YG SAMA!! Karenanya aku sempat 'melempar granat' dengan menyatakan protes terhadap suara2 yg mengajak memilih Agum karena berasal dari SMA yg sama!

Pasangan terakhir, no 3, malah aku tidak terlalu menaruh harapan. Hanya sosok Dede Yusuf yg relatif lebih dikenal luas (maaf ya pak Ahmad, aku bukannya menyepelekan anda, tapi saya mesti akui, nama anda begitu asing ketika muncul sebagai calon gubernur Jabar). Sosok artis serta popularitas dan kemunculannya di iklan, terutama iklan BODREX, menurutku merupakan salah satu strategi JITU dari PKS (dan PAN, tentunya). Apa pasal? Pak Ahmad boleh saja jarang muncul atau tidak dikenal, namun iklan Bodrex yg menampilkan Dede Yusuf, jelas merupakan kampanye terselubung, meski tidak menampilkan sosok Dede Yusuf sebagai calon wakil gubernur Jabar.tepuk tangan Yg lebih 'mantap' lagi, menjelang minggu2 akhir kampanye, pasangan HADE ini menampilkan jargon YANG MUDA SAATNYA MEMIMPIN (atau sejenis itu) dalam iklan2nya, baik di tv ataupun di koran. Acungan jempol juga aku berikan kepada tim kreatif HADE, dengan menampilkan potongan2 berita bahwa banyak pemimpin2 dunia (yg cukup sukses) yg berusia muda (40-an).

Aku sempat ikuti dengan serius polling di Kompas dan Detik (jika nyasar). Di sana, aku dapati, pasangan Hade menempati urutan teratas dalam pengumpulan suara. Tentunya, ini kabar yg menggembirakan bagi yg menjagokan Hade.

Namun, aku melihat bahwa hasil polling (baik di Kompas maupun Detik) tidak bisa dijadikan acuan. Sebagai contoh, saat pilkada DKI dahulu, dalam polling, Adang berhasil mengungguli cukup jauh Fauzi Bowo. Jika aku tidak salah, sekitar 60%. Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Adang kalah, meski dg perbedaan yg tidak mencolok (berdasarkan peta kekuatan partai politik yg ada di DKI), dengan nilai 45-48%.

Dugaan terkuatku, Adang - Dany hanya dipilih oleh orang2 yg cenderung berpendidikan serta ingin ada perubahan, terutama keinginan mempunyai pemimpin yg tidak korup.

Hingga menjelang waktu pemilihan, akupun berpikir hal yg sama ttg pilkada Jabar. Perkiraanku, Hade akan menang hanya di kota2 atau daerah2 yg jumlah kaum muda terdidiknya relatif lebih banyak. Mengingat tidak banyak daerah yg memenuhi 'syarat' di atas, maka aku tidak yakin Hade bisa meraih posisi. "Ah, palingan hanya jadi penggembira", demikian pikirku.

Namun, ternyata analisaku salah besar! Hanya 2 jam usai pemilihan, saat muncul berita di tv, ternyata hasil perhitungan cepat menunjukkan Hade sebagai pengumpul suara terbanyak!!! Aku hanya bisa terhenyak...!! BUSEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTT...!! Dan kemudian aku langsung ngakak...gara2 prediksiku salah total!!ngakak

Berita yg tampil di stasiun tv, rata2 serupa. Hade menempati peringkat 1, Aman di peringkat 2, dan Dai terperosok di urutan buncit.

Selamat...selamat...selamat bagi Hade yg telah berhasil meraih suara terbanyak. Itu berarti anda mesti siap bekerja (lebih keras) dan memenuhi janji2 yg telah anda lontarkan selama kampanye. Jangan lupa, sudah banyak rakyat yg mencatat janji2 anda (aku sendiri ga ingat, Hade ini obral janji apa, hihihih..). Dan seperti pernah aku tulis, menjadi pemimpin itu bukan nikmat, tapi merupakan amanah yg mesti diemban dengan baik!

Sayangnya sempat terjadi kericuhan, usai pemilihan ini.
1. Pelemparan kantor PKS dengan botol berisi bahan bakar. Jika pada umumnya benda seperti itu disebut bom molotov, namun pihak Kepolisian Bandung membantah adanya bom molotov, karena tidak ada sumbunya!!ayolah.. Hahahaa...si pak polisi sedang melucu ya? Ah, entahlah. PS: statement ini aku dengar di Selamat Pagi, hari Selasa 15 April 2008.

2. Penurunan secara paksa diikuti dengan pembakaran, spanduk2 yg berisi ucapan selamat kepada pasangan Hade. Aksi (cenderung anarkis ini) dilakukan oleh para pendukung Aman!!halah...!! Lho, bagaimana ini? Katanya Aman? Tapi dengan aksi2 yg anda lakukan, justru membuat Jabar menjadi tidak aman donk!!geleng2

Sebenarnya ada pendapat pribadi yg hendak aku tulis di sini, tapi aku batalkan, karena aku rasa bisa menyinggung perasaan orang, terutama pihak yg kalah.melet

Terakhir, sebagai rasa terima kasihku kepada anda2 yg telah membaca artikel ini dengan begitu tekun (halah...), aku persembahkan sebuah cerita pendek yg bisa anda nikmati semuah. Silakan click 1 per 1 gambar2 di bawah ini untuk lebih jelasnya. Enjoy!! nyengir