Kuliner kali ini, aku hendak mengajak anda semua menikmati buntut bakar. Yak, buntut bakar. Mungkin terdengar aneh, karena selama ini kita lebih mengenal sop buntut dibandingkan buntut bakar. Aku sendiri baru tahu saat mencoba.

Lokasi kuliner kita cukup mudah untuk dikenali dan dijangkau, yakni di gedung Trans TV, di daerah Tendean, tempat aku menonton Tukul tempo hari.

Anda masuk ke gedung bank Mega, kemudian turun ke lantai Basement. Di sana terdapat sebuah food court yg cukup baik dan terawat kondisinya. Nah, di dekat kasir, terdapat kios buntut bakar ini, milik bu(?) Poppy.

Tidak terlalu lama menunggu pesanan kita datang, dan tadaaaa...inilah sosok dari 1 porsi buntut bakar.

Tiga potong buntut bakar (jika anda beruntung, anda akan mendapatkan 3 buah buntut bakar berukuran besar) tersaji seperti anda bisa lihat di samping kiri ini. Bentuknya mungkin tidak menggiurkan karena warna hitam, tapi percayalah, wangi buntut bakar ini akan membuat anda tidak sabar untuk segera menikmatinya.ngiler

Seporsi nasi disajikan bersamaan dengan buntut bakar ini. Berikutnya adalah 1 mangkok kuah buntut bakar, gunanya agar kerongkongan tidak seret karena kondisi makanan kering semua. Selain itu, sayur2 yg ada akan menjaga 'netralitas' lemak yg dihasilkan buntut bakar.

So, aku tidak menunggu waktu terlalu lama. Dalam hitungan sekitar 15 menit, berpindahlah 1 porsi buntut bakar ini ke dalam perutku.nyengir

Memberi tambahan tempe dan perkedel jagung akan menambah selera. Namun, khusus untuk perkedel jagung, aku sarankan dimakan usai menu utama (buntut bakar) selesai dimakan. Alasannya, kita bisa menikmati rasa dari perkedel jagung itu dg lebih santai. Aku sempat mencoba beberapa gigitan perkedel jagung ini seraya makan buntut bakar. Menurutku, rasanya jadi tercampur.

Oya, untuk harga....GRATIS...karena aku dibayari oleh clientku, hahahaa...ngakak Nampaknya tidak terlalu mahal kok! So, jangan ragu untuk mencobanya ya?!