Melihat kesuksesan film Ayat-ayat Cinta, yg begitu melegenda dan menjadi sensasi, aku melihatnya sebagai hal yg biasa. Eitsss...bukan karena aku iri, karena hingga kini aku masih belum nonton AAC, tapi karena aku melihat kesuksesan AAC karena berhasil mendobrak tema film nasional.

Lho, memangnya kenapa dg tema film nasional?auk ah!

Jika anda cukup teliti, serta cukup jadul, anda akan melihat bahwa tema film2 nasional belakangan ini mirip sekali dengan tema film nasional di era 80an, yakni tidak jauh dari SEKS DAN MISTIK!

Silakan anda hitung, si Pocong sudah berapa kali muncul di bioskop serta dengan berapa tema sudah dia maiankan? Belum lagi hantu2 gentayangan lain, yg jelas2 isi filmnya TIDAK BERMUTU SAMA SEKALI! Di sisi lain, film dg tema sex tidak kalah gencar muncul, dengan berbagai kemasan. Beberapa film tema sex yg sempat aku tonton adalah Radit dan Jani serta eXtra Large.

Tidak heran jika saat AAC muncul, langsung disambut hangat. Selain memang mempunyai cerita yg memang ok punya, laris manisnya novel AAC juga menunjang kesuksesan film AAC, serta buruknya tema film2 nasional ini.

Nampaknya para sineas muda Indonesia terpengaruh dg film2 yg pernah mereka tonton saat mereka kecil ya? Akibatnya mereka berusaha membangkitkan lagi tema2 film yg mereka tonton, dg tidak ada (atau sedikit sekali) niat mereka untuk mencerdaskan masyarakat.geleng2

Nampaknya memang tidak ada sesuatu yg bisa diharapkan dari film2 nasional Indonesia.