*artikel ini didapat terkait kasus peneliti IPB yg tidak mengumumkan hasil penelitiannya kepada masyarakat luas*

Yth. Rekan Alumni-FI

Akhir-akhir ini tampaknya makin trend para peneliti mempublikasikan hasil penelitiannya di media massa (koran, TV, dll) bukan di jurnal ilmiah atau dokumen ilmiah lainnya yang lazim dilakukan komunitas ilmiah di belahan bumi lain. Hasilnya memang jelas. Sang peneliti menjadi selebritis dalam sekejap. Ketenaran akan lebih cepat lagi kalau hasil penelitian tersebut mengandung unsur kontroversi.

Dulu pernah kontroversi tentang kajian islam liberal yang dimuat di salah satu koran nasional. Kontan reaksi kontra yang luar biasa muncul terhadap hasil tersebut. Dan sang penulis menjadi luar biasa terkenal. Terlepas dari apakah hasil penelitian tersebut benar atau tidak, sebaiknya media yang tepat untuk mempublikasikan hasil kajian tersebut adalah jurnal ilmiah yang terkait. Kalaupun perdebatan muncul, perdebatan tersebut hanya terjadi antar peneliti sebidang dan tidak membawa dampak keresahan pada masyarakan luas.

Tentang hasil penelitian energi air di Jogya, sebenarnya akan lebih bagus kalau dipublikasikan di jurnal ilmiah, apakah nasional atau internasional. Biarlah para peneliti sebidang berdebat habis-habisan. Justru yang terjadi saat ini adalah pemberian harapan yang berlebihan pada masyarakat akan adanya alternatif pemecahan masalah krisis energi yang belum tentu benar.

Juga muncul berita tentang peneliti di sebuah perguruan tinggi yang sedang membangun teori bernoulli II untuk memecahkan masalah lumpur lapindo. Sepanjang sejarah ilmu pengetahuan, hampir tidak ada peneliti yang memberi nama pada teori-teori yang mereka bangun. Nama itu biasanya diberikan oleh orang lain sebagai penghormatan pada penemu teori/hukum tersebut. Ini belum apa-apa sudah diberi nama. Tapi imbas dari cara ini sudah jelas, yaitu peneliti tersebut menjadi tersohor karena sedang membangun sesuatu yang luar biasa yang sejajar dengan apa yang dilakukan Bernoulli. Sebagai dosen fisika dasar yang mengajar persamaan bernoulli tentang fluida, saya jadi tidak mengerti tentang penerapan teori bernoulli untuk lumpur lapindo. Teori bernoulli sebenarnya hukum kekekalan energi yang diterapkan pada fluida ideal yang bergerak. Lumpur lapindo bukan fluida ideal, bahkan sangat menyimpang dari fluida ideal. Kok bisa ya teori bernoulli dipakai. Untuk fluida yang sedikit menyimpang saja orang sudah harus menggunakan persamaan navier-stokes yang rumit itu.

Dan yang tidak kalah menarik lagi, para ilmuwan lain (termasuk di ITB mungkin) begitu responsif menyikapi laporan di koran/TV tentang riset-riset tersebut, walaupun riset tersebut kadang bertentangan dengan pemahaman ilmiah yang ada. Sepertinya berita-berita di koran/TV adalah suatu yang harus ditanggapi serius. Padahal kebanyakan apa yang ditulis wartawan di koran adalah sesuatu yang bisa menarik pembaca sebanyak-banyaknya. Yang saya baca di koran-koran luar, biasanya hasil penelitian yang dimuat di koran adalah penelitian yang sudah dipublikasikan di jurnal ilmiah dan telah terbukti kebenarannya serta memberi dampak yang besar bagi masyarakat luas.

Wass.

Mikrajuddin Abdullah
KK Fismatel-FMIPA