Jika anda penggemar taksi Blue Bird, anda akan menemukan di sisi kiri dan kanan, sebuah stiker seperti yg terlihat pada gambar di sebelah kiri ini. Di sana tertulis Cancellation Fee Rp 5000. Diterjemahkan secara bebas, ongkos pembatalan sebesar 5 ribu rupiah.

Apa sih yg dimaksud dg ongkos pembatalan ini?

Jadi begini, apabila anda memesan taksi Blue Bird via telepon, seperti yg tertulis pada stiker di atas, maka ada 2 persyaratan minimum yg mesti dipenuhi:
1. Ongkos minimal sebesar Rp 25 ribu.
Dengan kata lain, jika jarak yg anda tempuh (bersama Blue Bird) ternyata hanya membuat argo berlari hingga angka Rp 20 ribu, anda tetap MESTI membayar Rp 25 ribu.
2. Ongkos pembatalan Rp 5 ribu.
Jika anda sudah memesan layanan taksi, kemudian membatalkannya, maka anda dikenai biaya batal sebesar Rp 5 ribu.

Aku ada pengalaman menarik dengan 2 hal ini.

Satu waktu, aku memesan taksi Blue Bird, untuk tujuan dari rumah, sekitar Kalibata ke daerah Simatupang, ternyata argo menunjukkan angka Rp 18 ribu sekian. Saat aku berikan uang Rp 20 ribu, ternyata pak sopir menegurku. Dia memberitahuku bahwa aku mesti membayar Rp 25 ribu, karena aku memesan Blue Bird melalui telpon.

Di lain waktu, aku konfirmasi hal ini dengan sopir Blue Bird lain. Dia juga mengamini tindakan temannya itu. Jadi, bila kita mencegat taksi Blue Bird di jalan, kita tidak akan dikenai ongkos minimum. Sementara jika kita memesan via phone, akan dikenai ongkos minimum.

Aku tidak tahu persis, apakah hal ini berlaku juga untuk jenis taksi Blue Bird lain, seperti Silver Bird atau Limosine.melet

Sementara untuk poin 2, aku alami hal yg unik.

Jadi, satu waktu aku pesan Blue Bird via phone untuk pergi ke daerah Senayan. Ternyata hingga 15 menit berlalu, tidak ada konfirmasi atau tanda2 si taksi datang ke kediamanku. Berhubung aku tidak boleh terlambat, sementara kedatangan taksi tidak bisa diperkirakan, aku segera pergi ke jalan Mampang, dan mencegat taksi lain. (Red Banzai tidak ikut serta, karena sesuatu dan lain hal)

Saat aku hendak sampai tujuan, aku ditelp oleh pihak Blue Bird. Mereka konfirmasi ttg kedatangan taksi Blue Bird di kediamanku. Aku katakan bahwa karena kelamaan, akhirnya pakai taksi. Ketika mereka tanya, apakah aku telp ulang Blue Bird untuk pembatalan...DEG...aku baru ingat bahwa aku tidak menelpon pembatalan pemesanan.

Selanjutnya pihak Blue Bird menyatakan bahwa aku terkena ongkos batal Rp 5000. Ok, aku sanggupi untuk membayarnya. Namun, hingga kini, aku belum membayarnya karena aku tidak tahu kepada siapa uang Rp 5000 ini aku serahkan?

Dalam kesempatan lain, aku sempat berbincang dengan sopir Blue Bird yg lain. Dia menjelaskan bahwa uang pembatalan itu mesti diberikan kepada sopir yg datang. Dalam kasusku, aku mestinya memberikan kepada sopir A (katakan demikian), karena aku membatalkan pesanan taksi. Ketika aku jelaskan bahwa saat pembatalan itu aku sudah di taksi lain dan sudah hampir tiba di tujuan, pak sopir ketawa. "Ya sudah, Mas, ga perlu dipusingkan. Toh, uang Rp 5000 itu sebenarnya hanya 'formalitas' saja. Sekarang Mas mau kasih ke kantor Blue Bird, masa iya masa hanya untuk urusan Rp 5000 mesti ke kantor. Sementara jika hendak diberikan ke sopir, toh Mas tidak tahu siapa sopirnya."

Aku terdiam saja mendengar penjelasan pak sopir. Memang, nominalnya tidaklah besar, Rp 5000, namun beban moral tetap saja aku sandang. Namun betul juga, jika aku ke kantor Blue Bird, apakah 'sebanding' dg uang 'hanya' Rp 5000?

Daripada pusing2, akhirnya aku ambil solusi 'tengah'. Uang Rp 5000 aku sumbangkan dan minta keikhlasan pada sopir taksi Blue Bird (siapapun dia) dan jika ada waktu cukup luang, aku sempatkan ke kantor Blue Bird untuk bayar Rp 5000 ini.

Case closed tho?!ngakak

Anda sendiri punya pengalaman dg kedua poin di atas?