Free Image Hosting at www.ImageShack.usJika ada film Indonesia (era 2000an) yang membuatku menyesal untuk menonton, aku pikir film Radit dan Jani ini layak mendapat 'gelar' ini. Apa pasal? Film ini benar2 FILM SAMPAH!

Kasar mungkin ya pendapatku, tapi memang kata sampah itu layak disandang film ini. Apa pasal? Berikut daftar yg aku buat, mengapa film ini layak 'disampahi'.

1. Terlalu mengumbar adegan seks!
Film2 Indonesia sekarang, terutama yg dibuat sineas2 muda, kian cenderung mengumbar adegan seks, ciuman, bla bla bla... Anda boleh menyebutku orang yg konservatif ato kolot, aku tidak peduli. Dalam beberapa film, aku cenderung permisif terhadap adegan2 seperti itu. At least jika adegan ciuman itu 'sopan' dan (ehm...) masih 'terkait' dengan skenario, yaa...sudahlah. Anggap saja itu 'bonus' bagi para suami istri muda.cinta...cinta..

2. Skenario yg tidak jelas, terlalu banyak ngambangnya.
Terlalu banyak 'loncatan' dari 1 adegan ke adegan lain. At least menurutku. Aku ga bisa jelasin detail, karena filmnya ditonton beberapa minggu lalu, tapi...pokoknya gitu lah.xixixi...

3. Akting pemain yg PAYAH!!
Melihat akting Vino Bastian, kok aku melihat adanya PENURUNAN YG TAJAM!! Bandingkan dg akting Vino di film "Badai Pasti Berlalu", anda akan melihat sosok Vino yg berbeda banget dibandingkan dg film2 Vino lainnya, seperti "Cerita Akhir Sekolah" atau "30 Hari Mencari Cinta".

Kata2 kasar seperti "Anjing", "Goblok", "Taek.." dan seterusnya, begitu mudah meluncur dari mulut Vino. Aku malah sempat berpikir bahwa isi dialog Vino yaaa..sekitar kata2 makian saja. Mungkin 'disesuaikan' dg kosa kata yang dimiliki Vino.xixixi...

Selain itu, paha si Fahrani yg diumbar kemana-mana membuatku eneg.mual Ok..ok..bagi sebagian cowo (single), melihat paha mulus Fahrani adalah anugerah. Tapi buat para suami, terutama yg menonton disertai istri, yaaa..jengah juga. Bukan apa2, tapi yaa...begitulah.oh go on

Intinya? Nonton film ini hanya buang2 waktu (dan duit 20 rebu, hehehe...)