Beberapa hari ini, aku cukup sibuk dengan urusan2ku, baik kerja maupun hal2 lain, sehingga blog ini sedikit terlantar. *halah...gaya. Cuma 2 hari ga posting saja dibilang terlantar, xixixi...*

Sehubungan dengan 'dihilangkannya' beberapa tanggal cuti bersama, yg sebelumnya menjadi ketentuan pemerintah, aku jadi berpikir dan sedikit merenung, sebenarnya berapa lama sih jumlah hari kerja yang normal? Setidaknya yg cocok untuk diterapkan di Indonesia.

Jika merujuk pada kebanyakan negara, jumlah jam kerja 'normal' dalam seminggu adalah 40 jam/minggu. Dengan kata lain, sehari 8 jam, alias 1/3 hari digunakan untuk bekerja. Ini jika diasumsikan kita kerja 5 hari/minggu. Setidaknya ini yang berlaku di Jakarta, meski ada juga yg menerapkan 9 jam kerja/hari (yg aku tau, kerja 9jam/hari ini berlaku di Bandung, mungkin tidak semua sih).

Nah, mungkin cuma di Indonesia, ada ketentuan cuti bersama. Jika kita menoleh ke belakang, asal muasal munculnya cuti bersama ini disebabkan dampak dari ledakan bom Bali yg pertama, yg mengakibatkan pariwisata mendadak seret memberi kontribusi. Walhasil, Hamzah Haz, wapres ketika itu mengusulkan adanya cuti bersama, sehingga turis domestik lebih digenjot.

Well, usaha ini sah2 saja, namun ternyata ada efek negatifnya. Yak...mudah diterka...orang Indonesia jadi keasikan libur. Masuk kantor hanya sekedar menunggu waktu libur (panjang) tiba. Padahal ga usah ditunggu, hari libur itu akan datang juga toh?

Oke, kembali ke masalah hari kerja.

Jadi, sekarang berapa hari idealnya kerja itu? Tidak ada aturan baku, meski mungkin makin maniak kerja maka MESTINYA dia lebih PRODUKTIF. Ambil contoh gampangnya, orang Jepang yg sedemikian maniak kerja, bahkan hingga larut malam masih berkutat...ternyata mereka memang produktif. Negara mereka cukup maju.

Sementara, di Indonesia, seringkali orang kerja datang ke kantor seharian penuh...tapi ndak produktif blass...!!dzigh Lha wong saat waktu kerja Senin - Sabtu, mereka juga malas2an...eh, tidak semua sih. Tunjuk langsung saja, yg aku maksud para PNS itu, hehehe... *baca juga di sini*

Sebenarnya tidak mau main tunjuk orang, namun aku berusaha untuk lebih 'netral'.siyul2

Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu ambil pusing masalah 5 hari kerja atau 6 hari kerja, asal mereka senantiasa PRODUKTIF. Apa gunanya seharian di kantor, jika dia tidak menghasilkan sesuatu yg bermanfaat bagi kantor? Sementara, kadang kita temui ada orang2 yg jarang di kantor, tapi ternyata mereka melakukan banyak deal bernilai besar yg bermanfaat bagi kantornya. Yang aku maksud tukang kluyuran adalah tim marketing dan kuli bangunan (seperti foto di sebelah, mereka sudah mempraktikkan kerja keras meski bukan bekerja cerdas). Sementara yg banyak ga produktif itu...errr...ah, sudahlah...ga perlu dibahas.xixi

Yang aku rasakan langsung dari 6 hari kerja menjadi 5 hari kerja adalah menurunnya layanan yg diberikan para PNS. Paling mudah, aku pernah mesti mengurus nilai akademis. Namun, karena hari Sabtu libur, para pegawai di ITB tentu saja libur, dan walhasil aku mesti membolos untuk mengurusnya.

Karenanya, usulan ini mungkin perlu diperhatikan.

Seorang temanku pernah cerita pengalamannya ke Filipina. Di sana, pernah diusulkan hari kerja selama 4 hari saja, karena pemerintah Philipina melihat para rakyatnya terlalu bekerja keras. Halaah...gile yaa...TERLALU BEKERJA KERAS...!! Kapan juga bangsa kita bisa meniru seperti itu...BEKERJA KERAS?

Banyaknya, rakyat Indonesia terlalu bekerja keras mengkritik. Adaaa sajaaa yg dikritik. Pemerintahnya dikritik, blogger2 lain kena kritik juga, kejadian alam dikritik, pokoknya bekerja keras untuk mengkritik lah...

Namun, dari sekian banyak orang2 bekerja 'ga jelas'...aku sebenarnya kasihan dg diriku, kok bisa2nya sampai bikin artikel seperti ini. Berarti aku ga jelas juga bekerjanya ya?

TAPI, YANG PALING GA JELAS...YAAA ANDA2 INI, ORANG2 YG MAU BACA ARTIKEL INI SAMPAI HABIS...APALAGI SAMPAI GA NULIS KOMEN...BENER2 GA JELAS KERJANYA...MBACA DOANK, GA KOMEN..!!ngakak guling2