8/31/2007

Sifat manusia (atau hanya bangsa Indonesia) kadang aneh. Mereka sering membeli suatu barang yg sebenarnya tidak mereka BUTUHKAN. Alam bawah sadar mereka 'memaksa' mereka untuk membeli barang yg mereka INGINKAN, padahal barang tersebut tidak segera mereka gunakan. Bahkan seringkali setelah dibeli, barang tersebut tersimpan dan teronggok di satu tempat dan akhirnya dilupakan.

Untuk beberapa kasus, bahkan seringkali kita membeli berlebih untuk sesuatu barang yg sifatnya sebenarnya 'tahan lama'. Sebagai contoh, seperti judul artikel ini. Sebuah ballpoint harganya 2000 perak, tapi dasar si pedagang otaknya lebih pinter (dan pakai ilmu psikologi, meski ybs mungkin tidak pernah mengenyam bangku kuliah dan belajar khusus ttg ilmu ini), biar dagangannya cepet laku dia nawarin 5000 untuk 3 ballpoint.

Taktik dagang seperti ini tidak saja dilakukan oleh tukang ballpoint. Banyak sekali pedagang lainnya yg menggunakan jurus yg sama. Sebagai contoh, di sebuah supermarket, aku melihat ada 3 buah minuman bersoda dijual dg harga yg bedanya 'tidak jauh', sekitar 3-5ribu rupiah. Kemudian ada juga yg menggabungkan beberapa produk dalam 1 paket, misalnya sabun mandi, shampoo, sikat gigi dan odol.

Jika itung2an harga satuan, memang contoh2 jual 'paket' di atas jauh lebih murah...masalahnya hanyalah, KITA MEMBUTUHKAN ATAU HANYA MENGINGINKAN?

Tidak salah jika trik psikologis ini selalu dilakukan para pedagang, akibatnya jelas, kita-kita menjadi orang yg kejangkitan 'penyakit' KONSUMERISME. Tidak heran jika ada kampanye "Hari Tidak Berbelanja" (berikut entry di Wiki). Menurutku, ini merupakan satu cara untuk mengerem (namun tidak menghentikan) nafsu berbelanja.

*yg menjadi korban psikologis tukang ballpoint, beli 3 untuk menghemat serebu...padahal 1 ballpoint aza ga akan habis dalam sebulan, hahahah...ngakakdzigh*

Posted on Friday, August 31, 2007 by M Fahmi Aulia

3 comments

8/30/2007

Artikel keluhan kali ini menampilkan BNI sebagai tersangka utama.nyengir

Usai mendarat di tempat client, daerah Setiabudi, aku mampir dulu di BNI, biasa mecahin rekening, biar ga cepet habis. Selesai mengisi form formulir setoran, aku langsung menuju teller. Hmm...ada 2 mbak yg memanggil, dg ilmu pemindai, aku pilih yg di sebelah kiri, soalnya lokasinya paling dekat dengan tempatku berdiri. Kalo pilih mbak sebelah kanan, aku musti jalan lagi sekian meter. Cape deehh..whew!

T1:"Selamat pagi...pak Fahmi"
F:"Pagi mbak..."

T1:"Ada yg bisa dibantu?"
*nyodorin form setoran* F:"Mau nabung nich mbak.."

T1:"Baik...sekian ratus juta..?"
F:"Betul mbak..."

*hening sesaat*

T1:"Pak...karena ini transaksi di luar kota, Bapak Fahmi dikenai tarif tambahan."
*NGEK...!!* F:"Lho, beberapa waktu lalu saya setor di sini juga, tidak ada tarif tambahan."

T1:"Tapi ini transaksi luar kota.."
F:"Lho, ini kan rekening saya sendiri? Kenapa saya mesti bayar?"

Sedang seru2nya tarik urat...seorang teller ikut nimbrung
T2:"Ada apa?"
F:"Masa saya mesti bayar tarif tambahan, padahal ini kan rekening saya sendiri?"

T1:"Lho aturannya kan begitu?"
T2:"Bapak menabung ke rekening sendiri?"
F:"Ya iya lah..."

T2:"Oww..berarti tidak perlu tarif tambahan"
T1:"Tapi ini benar punya bapak?"
F:"YA IYA LAH..." *sudah mulai pasang jurus menerkam*

T2:"Ada atm-nya kan pak? Atau buku?"
F:"Saya bawa nich atmnya...apa perlu saya perlihatkan?"

T2:"Tidak usah..."

Sementara T1 akhirnya menyelesaikan transaksi.

T1:"Terima kasih, pak Fahmi" *sambil ngedip*
F:"Ya ya ya...sama2.." *dongkol*

Phew...hanya untuk duit Rp 2500, gw mesti tarik urat ama mbak T1 ini. Padahal cantik, tapi kok ngototan ya?? Apa semua yg cantik itu memang suka ngotot?? *lirik2 Wifycekikikan*

Mandiri saja sudah membebaskan tarif tambahan, BNI juga di setoran2ku sebelumnya tidak pernah meminta biaya tambahan, tapi kenapa sekarang masih ada yg minta biaya tambahan? BCA misalnya...padahal nabung ke rekening sendiri. Heran deeehhh...halah..

Sebenarnya pengen skrinsut si mbak T1, tapi kasian ah kalo wajahnya muncul di sini...siyul2

komplen lain, ttg bii, bisa dibaca di sini.

Posted on Thursday, August 30, 2007 by M Fahmi Aulia

8 comments

Untuk Anda, Kandidat Terbaik

PT Indonesia Power mengundang Warga Negara Indonesia berintegritas tinggi, profesional, dan menyukai tantangan untuk bergabung dengan tim kerja inovatif dalam memberikan pelayanan terbaik bagi pengembangan kelistrikan nasional melalui seleksi penerimaan pegawai dengan profesi :

1. Enjinir Muda Pengoperasian dan Pemeliharaan Mesin (Teknik Mesin konversi energi, metalurgi, material)
2. Enjinir Muda Pemeliharaan Listrik (Teknik Elektro arus kuat)
3. Enjinir Muda Pemeliharaan Instrumen (Teknik Elektro arus lemah non telekomunikasi, Teknik Fisika Instrumentasi)
4. Enjinir Muda Kimia (Teknik Kimia, Teknik Lingkungan)
5. Analis Muda Keuangan (Akuntansi)
6. Analis Muda Hukum (Hukum)
7. Analis Muda SDM (Psikologi, Manajemen SDM)

Persyaratan Utama :
1. Pendidikan minimum tingkat S1, bidang studi sesuai profesi
2. IPK minimum 2,75 (untuk profesi 1 - 4). IPK minimum 3.00 (untuk profesi 5 - 7)
3. Usia Maksimum 27 tahun per 31 Desember 2007
4. Mampu berbahasa Inggris secara lisan maupun tertulis

Penyampaian Lamaran dan Seleksi :
- Formulir aplikasi dapat didownload dari http://www.indonesiapower.co.id
- Formulur aplikasi beserta hasil scan transkrip akademik dikirimkan melalui email paling tambat tanggal 16 September 2007 dengan mencantumkan pada email subject: KODE_Nama Lengkap Anda.
- Seleksi akan diselenggarakan di Jakarta
- Hanya pelamar dengan kualifikasi terbaik (shortlist candidates) akan diikutsertakan dalam proses seleksi selanjutnya
- Keterangan lebih rinci mengenai persyaratan umum, mekanisme penyampaian lamaran dan tahapan seleksi dapat dilihat pada http://www.indonesiapower.co.id

PT INDONESIA POWER adalah anak perusahaan PT PLN (Persero) sebagai pemasok tenaga listrik terbesar di Indonesia.

*info terbaru di sini*

Posted on Thursday, August 30, 2007 by M Fahmi Aulia

No comments

8/28/2007

Dear All,

Puji syukur kepadaNya bahwa pada hari Sabtu tanggal 25 Agustus 2007 di ruang 1201 telah terpilih secara aklamasi Bpk. Muhammad Zakie (Fi 79, Dirut Elnusa Drilling Co.) untuk memimpin IAFI. Beliau menggantikan/meneruskan Bpk. Triyono Hadi (Fi 78) yang dalam 10 tahun terakhir memimpin IAFI.

Ada banyak saran yang dicatat Ibu Widayani (Dosen, Fi 79) dari anggota untuk menjadi agenda IAFI. Ketua IAFI mengaharapkan partisipasi, saran dari seluruh anggota dan dipilihnya wakil masing-masing angkatan untuk diikutkan dalam kepengurusan IAFI. Visi pak Ketua adalah agar alumni berperan luas baik bagi mahasiswa dan alumni maupun dalam kancah nasional.

Program kerja awal sudah dibuat pada pertemuan terbatas hari minggu 26 Agustus 2007 dengan melibatkan Ketua Prodi Fisika (Pak Pepen Arifin), anggota majlis wali amanah ITB (Pak Sukirno), pengurus Himafi (Ketua dan pengurus lain) serta beberapa orang senior IAFI, termasuk Kang Iman dan Kang Lemet (Fi 90), Ibu Ariadne (Dosen UI, Fi 81) dan Ibu Dessy Savitri (Fi 82) serta Pak Agus Gunawan (Fi 79). Finalisasi program akan dirumuskan pada minggu pertama ramadhan nanti. Sekali lagi, partisipasi dan masukan ibu/bapak sekalian sangat diharapkan.

Mohon berita ini disebarluaskan ke seluruh alumni fisika ITB.

Posted on Tuesday, August 28, 2007 by M Fahmi Aulia

No comments

Jadwal Ramadhan 1428H (khusus Jakarta) bisa diambil di sini.
Kota lain, cek di sini. Kota Padang, click di sini. Kota Minahasa/Menado, click di sini. Kota Mataram click di sini.

Pemerintah sudah menyatakan bahwa 1 Ramadhan dimulai 13 September 2007.

Posted on Tuesday, August 28, 2007 by M Fahmi Aulia

2 comments

8/27/2007

Kebetulan nemu file foto ini, jadinya aku teringat pengalaman makan nasi gandul ini. Nasi gandul, hmmm...sebuah nama menu yg aneh kan? Aku jadi teringat gundal gandul, hihihih.. Apakah itu yang gundal gandul?? xixixix..cekikikan

Aku sendiri baru tahu ada menu nasi gandul ini, ketika mencoba bebek bakar tempo hari. Namun karena saat itu aku sedang ingin mencicipi bebek bakar, si nasi gandul ini aku skip saja. Lokasi warung nasi gandul ini dekat dengan bebek bakar. Jika aku tidak salah, hanya beda 1 tenda/warung saja. Oya, hampir lupa, lokasi kedua tempat makan ini ada di depan TMP Kalibata Jakarta Selatan.

Nah, beberapa hari kemudian, aku dan Wify berkesempatan lagi berwisata kuliner. Dan kali ini, aku mencoba makan nasi gandul ini. Sementara Wify pesan bubur karena sedang sariawan, aku pilih menu nasi gandul ini.

Agak lama menunggu sajian ini, sekitar 15-20 menit. Dan akhirnya setelah perutku sudah mulai berontak dan protes, akhirnya datang juga menu nasi gandul ini.

Seperti yg terlihat pada foto di sebelah kanan ini, 1 porsi nasi gandul tidak banyak (dan ini terbukti kemudian). Menggunakan daun pisang sebagai alas, nasinya lembek tapi masih cukup padat, kemudian ada beberapa jeroan+daging serta kuahnya yg (menurut laporan lidahku) mengandung santan cukup banyak. Vetsin (penyedap rasa/msg) aku rasakan cukup kentara juga, meski tidak terlalu banyak, nampaknya.

Langkah pertama, hirup dalam2 aromanya...karena kuahnya masih cukup panas. Hmmm....sedaappp sekali menghirup aroma kuah santan yg ditempatkan di atas daun pisang. Kemudian kuahnya yg agak kental aku cicipi sedikit...sluurrrpp...hmmm...GURIH, DG RASA SANTAN SANGAT TERASAngiler. Kebetulan, daging yg ada di piringku kebanyakan berupa paru-paru dan sedikit daging biasa.

Daging paru2nya agak kenyal, jadi kita bisa kunyah agak lama sebelum akhirnya ditelan. Mirip dg 'makan' dan mengunyak permen karet. Tapi ini jelas lebih enak lhoooo...hihihih..ngiler Lalu suapkan 1 sendok nasi...jangan lupa dicampur dulu dg kuahnya itu, lalu telan dan biarkan lidah anda yg berkomentar.

Dijamin, mak nyussszzzzz....ngiler

Namun, seperti aku tulis sebelumnya, porsinya terlalu sedikit. Tidak sampai 5 menit, 1 porsi nasi gandul ini sudah 'pindah alam'. Hanya saja, aku sarankan untuk tidak menambah makan, karena cukup lama menunggu. Jadi, jika anda memang hendak makan 2 porsi, lebih baik anda pesan 2 sekaligus saat datang, jadinya bisa 2 porsi disikat langsung tanpa pake lama.

Silakan datang ke seberang TMP Kalibata dan cicipi menu ini. Aku jamin ketagihan deehhh...

Posted on Monday, August 27, 2007 by M Fahmi Aulia

7 comments

8/26/2007

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Posted on Sunday, August 26, 2007 by M Fahmi Aulia

No comments

Free Image Hosting at www.ImageShack.usDapat dari sini infonya. Aku perkirakan mirip dengan Teleport Pro, karena saat artikel ini dibuat masih mengunduh installernya dari sini.

Posted on Sunday, August 26, 2007 by M Fahmi Aulia

1 comment

Tahun ini TOKI berhasil meraih empat medali perunggu dalam Olimpiade Komputer tingkat internasional di Zagreb, Kroasia. Selamat untuk Brian, Ricky, Karol, dan Riza.

Semoga lebih sukses lagi tahun depan, di Olimpiade Komputer di Kairo, Mesir.

Posted on Sunday, August 26, 2007 by M Fahmi Aulia

No comments

8/25/2007

Operator telekomunikasi XL sedang gencar-gencarnya melakukan promosi. Jelas tidak mau kalah bersaing dengan operator lain, dengan melakukan perang tarif (yg cukup gila2an) usai Esia melakukan aksinya, dengan membuat iklan yg 'menonjok' operator2 lain.dzigh

Usai menurunkan tarif dari Rp 25/detik (sebagai efek perang tarif), XL pun berusaha bersaing dengan operator Fren, yg menerapkan tarif Rp 10/detik. Banyak iklan yg diluncurkan XL yg mempromosikan tarif murah ini, Rp 10/detik, sebagai upaya mengimbangi tarif Fren, bahkan diklaim sebagai iklan termurah.

Namun, sebenarnya, jika ditilik lebih lanjut dan lebih teliti, ada SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU, yakni tarif Rp 10/detik ini berlaku untuk 2 kondisi:
1. Jika SESAMA XL, secara OTOMATIS tarif ini langsung berlaku.
2. Jika BEDA OPERATOR/PSTN, tarif ini berlaku SETELAH PEMBICARAAN 2 MENIT (120 detik). Dengan kata lain, setelah 'nyumbang' Rp 1500, barulah tarif murah ini berlaku. Gampangnya, ADA SYARAT DAN KETENTUAN YANG BERLAKU!!

Free Image Hosting at www.ImageShack.usSayangnya, XL berlaku TRICKY untuk poin 2. Di sebuah iklan besar yang dipasang di daerah Suryo, tidak ada tulisan syarat dan ketentuan berlaku. Hanya ada iklan yg menyebutkan bahwa tarif ke siapa saja (asumsiku termasuk ke operator lain) Rp 10/detik. *Silakan lihat foto di sebelah kiri.*

Beberapa waktu belakangan ini, XL kembali membuat program baru. Yakni tarif Rp 1/detik untuk sesama XL. Dan lagi2 XL berlaku tricky. Di sebuah media, aku kutip langsung tulisan yg dimuat di media itu.
Jakarta - PT Excelcomindo Pratama Tbk. (XL) mengandalkan program pemasaran tarif promosi pada produk kartu prabayarnya sebagai senjata menghadapi kompetisi serta demi mengejar target pelanggan.

Direktur Pemasaran XL, Nicanor V. Santiago III, mengatakan faktor tarif murah merupakan salah satu alternatif yang menjadi pilihan pelanggan dalam memilih kartu prabayar. "Program tarif Rp 1 per detik untuk produk kartu prabayar Bebas yang akan kami tawarkan secara nasional merupakan senjata kami dalam menghadapi kompetisi dan mengejar target pelanggan," ujarnya dalam press gathering XL Bebas, Omah Dhowur, Yogyakarta, Jumat (24/8/2007).

GM Marketing Prepaid Product Bayu Samudiyo, menambahkan, promosi tarif merupakan salah satu dari tiga strategi XL untuk menghadapi persaingan pasar. Dua strategi lainnya, lanjut Bayu, adalah cakupan jangkauan dan kualitas layanan.

Bayu menjelaskan, program tarif Rp 1 per detik merupakan program promosi pemasaran lanjutan yang sebelumnya telah digelar di Sumatera dan Sulawesi. Dengan program ini, Bayu mengklaim telah terjadi peningkatan jumlah pelanggan dan trafik yang cukup signifikan.

"Di Sumatera dan Sulawesi yang memiliki pelanggan 300.000 dan 200.00 trafik percakapan kami naik dua kali lipat. Dan pelanggan aktif juga bertambah 25 persen dalam waktu 5 minggu sejak program ini diberlakukan. Dengan promosi baru, ekspektasi kenaikan di area lain sama," harapnya.

"Sebelum rata-rata minutes of usage (lama precakapan-red) di Sumatera dan Sulawesi sekitar 40 detik per pelanggan. Dengan program itu naik menjadi 97 detik per pelanggan," ujar VP Network Planning XL, Kukuh Saworo.

Kukuh mengatakan program tarif tidak akan berhasil tanpa kehandalan dan kinerja jaringan. Ia mengungkap XL saat ini telah membangun lebih dari 9.000 pemancar telekomunikasi, 1.200 di antaranya adalah pemancar 3G.

"Jumlah BTS kami akan meningkat 80 persen dari tahun lalu. Dari sekitar 6.000 BTS akan menjadi 10.000 sampai 11.000 BTS," paparnya.

Tapi saat melihat iklannya, ternyata ADA SYARAT DAN KETENTUAN YG BERLAKU, yakni tarif super murah itu berlaku SETELAH 2 MENIT PEMBICARAAN. Dengan kata lain, setelah 'nyumbang' Rp 1200, barulah tarif super murah itu berlaku.

Yeeee....menerapkan tarif murah tapi 'menyembunyikan' syarat dan ketentuan berlaku adalah HOAX KE DEMAK deeehhh...siyul2

Posted on Saturday, August 25, 2007 by M Fahmi Aulia

4 comments

8/24/2007

Ternyata Firefox cukup lambat, terutama untuk me-load javascript. Diminta bantuannya untuk voting di sini. Terima kasih, teman2+pengunjung blog..

Posted on Friday, August 24, 2007 by M Fahmi Aulia

No comments

8/23/2007

Usai membuat kehebohan, lihat postingan Meteorologi = Ilmu TOLOL?, akhirnya ybs meminta maaf. Ybs juga sudah menghapus semua isi 'hujatannya'.

Berikut aku kutip

Pernyataan Permohonan Maaf

I give up. I'm so young and unexperienced. Waktunya saya belajar lebih bertanggung jawab atas perkataan dan perbuatan sendiri.

Bersama post ini saya menyatakan bahwa.

Nita Permata K

Mengakui kesalahannya.

Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada pihak-pihak terkait yang merasa tersakiti dengan pernyataan saya sebelumnya.

Saya salah karena sudah mendiskreditkan satu nama atau lebih, dengan cara yang tidak menyenangkan dan tidak enak, menuliskan hal-hal yang tidak memiliki relevansi dalam berbagai artian, dan tidak berpikir panjang atas apa yang saya tuliskan pada suatu tempat yang salah dengan bentuk yang salah.

Kondisi psikologis tertekan dan kekesalan karena mengalami beberapa kerugian akibat kekurangtepatan ramalan cuaca pada saat itu adalah pemicu utama keluarnya tulisan yang kontroversial tersebut, dan pada saat itu saya berpikiran bahwa blog ini adalah tempat saya menumpahkan unek-unek dan berbagai kekesalan, terlepas bahwa ini adalah konsumsi publik, dan sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan orang sebagai suatu senjata untuk menyerang, karena sebelumnya blog saya ini terhitung sepi sehingga muncul anggapan bahwa tidak ada orang yang mau meluangkan waktu untuk membacanya.

Mulai sekarang saya akan mawas diri dan lebih memperhatikan kata-kata serta tindakan saya dalam menulis. Saya jadikan ini pembelajaran seumur hidup, dan saya harap semua orang yang pernah membaca tulisan saya, baik meninggalkan komentar atau tidak, sama-sama memetik pelajaran dari kejadian ini.

Terlepas dari masih menarik atau tidaknya topik ini untuk di blow-up atau dimaki-maki, saya tidak ingin berkomentar lebih lanjut. Saya salah, saya akui itu, saya minta maaf, dan tidak akan saya ulangi lagi sepanjang sisa umur saya. Dan saya berharap masalah ini tidak diperpanjang lagi karena saya tidak melihat adanya keuntungan dari dua belah pihak, baik saya maupun yang kontra dengan saya, apabila masalah ini diteruskan berlarut-larut.

PS :
1. Saya tidak mau dijadikan istri kedua, ketiga, atau seterusnya.
2. Jika terpuaskan dengan menyebut saya tolol atau apapun, silahkan saja. Memaki dalam bentuk tulisan adalah satu bentuk terapi stres, setidaknya bagi saya, selama tidak diucapkan secara lisan di depan orang yang bersangkutan.
3. Dan bagi siapapun yang berbaik hati telah menyalin postingan saya sebelumnya ke forum Rileks, bisakah saya minta kebaikan hatinya sekali lagi untuk menyalin post yang ini ke Rileks? Saya sedang tidak berada di tempat yang bisa mengakses Rileks, dan saya akan sangat berterimakasih jika ada seseorang yang berbesar hati berniat baik untuk membantu menyelesaikan masalah dengan menyalinkan postingan ini ke forum tersebut.

Regards,

Nita Permata K


Bagus jika ybs akhirnya menyadari kesalahannya dan meminta maaf..peace sign

Posted on Thursday, August 23, 2007 by M Fahmi Aulia

3 comments

8/22/2007

Pada umumnya, di postingan yg ke-100, 500, 1000 atau angka2 'keramat' lainnya, si blogger akan menampilkan/memuat artikel yg sifatnya narsis, bahkan sampe ke demak jika diperlukan. Sayang sekali, aku bukanlah blogger pada umumnya, seperti yg aku sebut di atas, karena di postingan ke-1000 ini, aku malah berniat menulis artikel dg tema dan bahasan yg cukup serius. *halah...*halah

Sebenarnya ide artikel ini sudah aku siapkan agak lama, rencananya hendak aku muat di tgl 9 Februari mendatang untuk menyambut hari Pers. Namun, setelah sang pakar bikin heboh dan (bakal) bikin heboh lagi, nampaknya aku majukan saja penerbitan artikel ini.

Aku hendak bahas dulu media dan wartawan.

Sudah mafhum bagi banyak orang, bahwa menjadi wartawan (junior dan (menuju) menengah) harus mampu memenuhi kebutuhan berita bagi media tempat dia bekerja. Mengejar narasumber, konfirmasi dan cross check terhadap berita yg didapat, tenggat waktu yg kian dekat sementara bahan masih belum mencukupi untuk layak muat, merupakan sepenggal kisah para wartawan. Sepenggal kisah yg aku sebut itu masih 'mendingan' jika dibanding dg pelecehan wartawan, entah oleh pengusiran wartawan oleh 'ulama', ataupun pelecehan yg dilakukan oleh pimpinan DPRD. Bahkan aku pernah baca (sayang, lupa sumbernya) ttg pemecatan wartawan senior Kompas (sayangnya juga, aku tidak terlalu mengikuti berita itu).

Gaji seorang wartawan (terutama wartawan lapangan) tidaklah besar. Dalam satu waktu, aku sempat ketemu dg Budi Putra, salah seorang wartawan senior yg kemudian banting setir dengan menjadi blogger full time, beliau bercerita ttg kisahnya saat menjadi wartawan pemula. Salah satu hal yg diceritakannya adalah gajinya saat itu (sekitar tahun 92-93, jika aku tidak lupa) sekitar Rp 60rebu saja. Kecil? Tentu saja, karena menurut penuturannya, pada saat yg bersamaan, gaji seorang wartawan di Jepang (dg tingkatan yg sama) berkisar Rp 2juta (jika dikurs). Njomplang kan?

Tuntutan media kepada wartawan sendiri sangatlah besar. Istilah: POKOKNYA™ berita ini akan dimuat besok, kamu mesti dapat infonya dari sumber X, sementara sumber X sendiri entah di mana. Walhasil wartawannya yg keleyengan dan kelimpungan mencari info keberadaan sumber X. Belum lagi jika ada pertemuan (meeting, bahasa kerennya) yg sifatnya dadakan, padahal si wartawan sedang ingin ketemu dengan teman2nya. *uhuk...*siyul2

Apabila penghargaan yg diterima si wartawan sebanding dg jerih payahnya, mungkin tidak ada masalah. Namun, bagaiman jika hadiah door prize yg diperoleh si wartawan pun 'dicomot' oleh pihak kantor dg alasan bahwa wartawan ybs hadir di acara sebagai perwakilan kantor. Nah, jika ini terjadi, memang kebangetan deh kantornya...dzigh

Dengan kata lain, media di Indonesia 'berkesan' (atau memang) pelit terhadap para wartawan (terutama wartawan lapangan). Dan ini nampaknya berlaku di berbagai tipe media. Kisah temanku yg lain, yg pernah kerja di sebuah stasiun tv yg terkenal dg proses penerimaannya, gaji seorang wartawan berkisar Rp 1.5juta, tanpa tambahan lain2 (jika aku tidak salah dengar). Pendapatan baru dirasakan apabila dia telah bekerja selama 4 tahun atau lebih, dg asumsi selama 4 tahun itu dia telah promosi dan mempunyai kinerja yg baik.

Sementara itu, di Indonesia, istilah pakar sudah identik dg narasumber. Ingin keterangan detail? Silakan kontak pakar. Istilah pakar sendiri bahkan sudah dikelompokkan sesuai bidang yg dia tekuni (dan berdasar keahliannya, YANG SUDAH DIBUKTIKAN SECARA ILMIAH tentunya). Pakar sejarah (sejarah Bandung, Jakarta, dll), pakar penerbangan, pakar kelautan, pakar kebumian, dan masih banyak pakar2 lainnya yg bisa semalaman jika ditulis semua. *cape deehh....*whew!

Para pakar ini tentu saja tidak muncul begitu saja. Berbagai penelitan, karya ilmiah baik berupa tulisan ilmiah maupun penelitian ilmiah yang telah diuji oleh para ahli lainnya, pernyataan2 yg cerdas, tidak berkesan menggurui, BISA MENJELASKAN DG BAHASA YG MUDAH DIMENGERTI, TIDAK MEMPERBODOH MASYARAKAT, SERTA MUDAH DIHUBUNGI merupakan sebagian alasan yg menurutku WAJIB dipenuhi apabila seseorang hendak diakui sebagai pakar. *tentu saja alasan2 ini bersifat pribadi dan bisa disanggah jika perlu*

Wartawan (lapangan) tentu saja akan merasa terbantu dg kehadiran para pakar ini. Setidaknya 68% bahan untuk sumber berita bisa dia dapatkan dg menghubungi 1 orang pakar, bahkan disertai dg data yg valid dan tidak asal. Sisanya, 32%, bisa dia karang2 sendiri lah...*ahak...ahak...*ngakak

Sayangnya, pada kenyataannya para pakar ini SULIT DIHUBUNGI. Aku lupa darimana cerita ini aku dapat, maksudku, aku lupa teman mana yg cerita bahwa dia sulit sekali menghubungi seorang pakar pada saat dia sedang membuat berita. Tidak hanya melalui email, dia sudah kontak via hape, menunggu di rumah, via sekretarisnya, sang pakar tidak muncul juga untuk dimintai keterangan dan dijadikan nara sumber. Akibatnya, jelas...seringkali dia tidak optimal dalam bekerja, karena berita yg dia buat kurang didukung informasi dan data.

Ada pakar yg kompeten dan bisa dihubungi, eh...ternyata saat menjelaskan sang pakar ini begitu doyan mengobral istilah teknis yg njelimet. Alih2 mendapat pencerahan dan muncul ide, sang wartawan kita ini malah sibuk googling mencari arti dari istilah2 teknis yg dilontarkan si pakar.

Kasus paling parah, si pakar malah membodoh2i si wartawan. "Ah, masa gitu saja ga mengert??" "Bego banget sih kamu...ini kan mudah saja.." dan sederet kalimat yg menyakitkan diterima mentah2 oleh si wartawan, tanpa ada filter yg bisa mengubah atau menyamarkan kalimat hinaan tersebut. Lah kalo si wartawan ngerti, ngapain juga datang ke si pakar? Bahkan bisa jadi si wartawan itu tidak akan jadi wartawan, malah menjadi pakar juga. Gimana sih??auk ah!

Larangan memberi amplop pada wartawan, menurutku, mestinya disikapi dengan bijak. Memang, mendapat pemberian, tidak saja berupa uang/materi, ditolong dg non materi pun akan membuat seseorang terbebani untuk balas budi dan bisa berujung pada tidak berimbangnya pemberitaan yg dia lakukan. Nah, mestinya media 'melawan' hal ini dengan pemberian kompensasi yg (lebih) layak. Sayangnya, seperti aku bilang, itu tidak mesti bisa dinikmati para wartawan (lapangan), bahkan cenderung HOAX.

So, makin keliatan kan susahnya jadi wartawan? Makanya, aku juga kadang heran, kok masih ada yg mau jadi wartawan sih? siyul2

Eh...eh...masih ga bosan kan membaca ocehanku ini??nyengir

Nah, ternyata ada tokoh yg memanfaatkan 'peluang' ini. Berbekal pengetahuan yg ala kadarnya, tidak didukung dg background dan latar belakang yg mumpuni, jam terbang yg kadang2 masih diragukan, namun mempunyai jaringan yg luas, 'royal' memberikan informasi bahkan tidak segan melakukan konferensi pers, membuat sang tokoh ini dengan cepat meraih popularitas. Bahkan 'gelar' pakar pun disematkan pada tokoh ini, tanpa ada penjelasan lebih detail siapa yg memberi gelar pakar dan atas dasar apa. Aku sendiri hingga kini masih curiga, ada pihak2 tertentu yg memang menginginkan gelar pakar ini disematkan pada tokoh ini.

Berbagai temuan serta konferensi pers yg diselenggarakan Roy Suryo ini kian mengukuhkan dirinya sebagai seleb, sikap tidak peduli dg berbagai komentar (yg dianggapnya) miring serta 'keberaniannya' untuk memutarbalikkan fakta di lapangan (dg kemampuan ngelesnya yg kadang afkiran) membuat sang Roy Suryo ini kian jumawa (juara makan di warung)ngakak sampe guling2.

Sang Roy Suryo ini dikenal tidak pelit untuk berbagi informasi (ga penting). Bahkan menurut penuturan temanku, Roy Suryo tidak malas untuk meng-sms sekian wartawan untuk melakukan press release sebagai upayanya mengukuhkan diri sebagai pakar.

Nah, 'fitur' berbagi informasi ini yang paling dicari oleh para wartawan (lapangan). Mereka tidak perlu bersusah payah mencari berita, justru mereka diundang sang Roy Suryo untuk diberi penjelasan (ga penting) oleh Roy Suryo.

Terus terang, aku salut pada sang Roy Suryo atas kemampuannya mengolah kata serta menyisipkan istilah2 yg membuat dirinya seakan-akan paling pinter. Sayangnya, sang Roy Suryo sempat salah menggunakan istilah telur Columbus. Kepleset ni yeee... Belum lagi kemampuannya untuk mengeles dan memutarbalikkan fakta serta menggertak (gertak sambal) pihak2 yg dirasakannya berlawanan pendapat dengan dirinya.siyul2

Cerita temanku yg lain cukup lucu. Temanku ini satu waktu diundang sebagai pembicara di sebuah acara seminar (atau simposium atau sejenisnya). Eh, tak dinyana Roy Suryo kita muncul juga di sana, sama2 sebagai pembicara. Temanku yg punya ilmu sesuai (kompeten) dg tema seminar itu, ternyata mengaku tidak bisa berbuat banyak menghadapi polah Roy Suryo kita, yg cenderung menyudutkan temanku dan membuat temanku seakan-akan tidak kompeten. Malu banget temanku itu.dzigh

Lain waktu, teman yg lain bercerita serupa tapi tak sama. Dia diundang untuk menghadiri wawancara tv, dg Roy Suryo kita tentunya. Saat briefing menjelang on-air, temanku ini mendapati Roy Suryo sedang mencekoki para kru tv dengan definisi yg salah. Ketika definisi tersebut diralat temanku, eh, Roy Suryo malah 'ngamuk' karena disalahkan dan berkelit bla bla bla... Walhasil, ketika wawancara tv, definisi 'salah' tersebut tetap dilontarkan Roy Suryo dan, DHUENG, tertipulah sekian juta para pemirsa yg menonton acara tersebut...!!halah..plis deehh..

Sebenarnya tidak masalah jika Roy Suryo bersikap seperti itu, apabila WARTAWANNYA SENDIRI MELAKUKAN KONFIRMASI DAN CROSS CHECK. Sayangnya masih banyak wartawan yg tidak bertanggung jawab. Mereka mengambil sumber dari narasumber yg salah, lalu tidak konfirmasi. Bahkan aku sering dapati wartawan dari sebuah media online cenderung cari berita yg sensasional, padahal beritanya ngaco bin salah alias ngawur.cekikikan

Dengan kata lain, wartawan 'bego' dan narasumber yg haus publikasi adalah kombinasi yg pas untuk pembodohan masyarakat!!

Saat Roy Suryo sedang mengungkap kasus mp3 Habibie-Andi Ghalib dan sedang dibahas dg ramai di milis ITB, sudah banyak orang yg tidak setuju dg cara RS mengungkapkan 'kasus' ini. 'Counter attack' dg penjelasan yg ilmiah langsung disumbangkan para alumni dan mahasiswa ITB.

Namun kenyataannya, nyaris tidak ada counter attack yg berhasil meredam langkah Roy Suryo ini. Aku tidak dapati satu media (cetak dan televisi) yg memuat dan menyiarkan bantahan ini.

Saat itu, sudah ada usulan dari member milis ITB, bahwa counter attack yg dilontarkan di milis itu PERLU PUBLIKASI serta MESTI ADA PENYAJI YG KOMPETEN. Hanya saja satu masalahnya, SIAPA YG MAU UNTUK PRESS RELEASE TANDINGAN?

Para pakar (terutama IT) di Indonesia sangat mempunyai ego yg tinggi. Meski tidak menjatuhkan secara langsung, namun sangat sulit menyatukan pendapat serta menunjuk seseorang untuk menjadi juru bicara resmi. Tiap orang merasa perlu untuk menyatakan pendapatnya, sebagai bukti bahwa dirinya adalah ahli IT. Ini tentu saja bagus, karena tiap pendapat dari pakar ini akan memperkaya khazanah pengetahuan. SAYANGNYA, SEDIKIT SEKALI AKSES para pakar ini ke media yg mumpuni untuk menjelaskan.

Oke...melalui blog mungkin lebih banyak orang yg bisa tahu apa yg ada di dalam pikiran para pakar. Namun, seberapa banyak orang yg mengerti blog? Jangankan paham (yg cukup mendalam) tentang blog, orang yg melek internet saja masih sering salah memasukkan alamat emailnya dan url website saat komentar di blog. Sebagai contoh, ada orang yg menuliskan http://wahyu@yahoo.com di bagian email dan http://yahoo.com di bagian url website. Aku sih berpikiran positif, artinya wahyu ini kerja di yahoo...cuma kayanya ga mungkin yahoo mempekerjakan wahyu, karena menulis alamat emailnya saja salah.ngakak

Tidak heran Roy Suryo begitu benci dan tidak suka dg blog, karena dia merasa tersaingi dan tidak bisa membodohi masyarakat.

So, bagaimana cara 'melawan' Roy Suryo?

Menurutku, blog saja tidak cukup. Seorang pakar (merangkap juru bicara) juga tidak cukup. Istilah2 yg canggih juga tidak cukup. Bahkan upaya beberapa wartawan untuk menggunakan blog sebagai narasumber, aku rasakan masih belum cukup.

Lalu cukupnya apa donk Mi?

Yaa...cukup sekian saja ocehanku ini...ahak...ahak... Kapan2 disambung lagi kalo ada yg numpang lewat di pikiranku.

ps: aku tidak bermaksud membenci Roy Suryo, apalagi melakukan karakter asinan terhadap dirinya. Aku hanya berharap ada pihak2 yg mempunyai persyaratan dan kemampuan yg mumpuni serta ada akses untuk 'melawan' press release yg dilakukan Roy Suryo.

thx juga buat obrolan warga kampung gajah...banyak masukan yg aku peroleh. sorry banget ga sempet aku sebutkan satu persatu para kontributor masukan....but thanks alot.

Posted on Wednesday, August 22, 2007 by M Fahmi Aulia

6 comments

Iseng2 nemu di sini, ternyata my estimated life span is:

77.5 years

The table below shows how each response affects your overall life expectancy.

Ideal weight: good
Activity level: average
Stress level: average
Smoking habits: good
Drinking habits: good
Cholesterol level: good
Saturated fat intake: average
Blood pressure: bad
Parents' health: good
Siblings' health bad
Income level: bad
Education: good
Traffic violations: good
Use of safety belt: good

How much you smoke, drink, and exercise and what you eat all influence how many (or few) years you have left and how much you will be able to enjoy them.

If you don't like the number, give some thought to your habits and the changes you should make to live a longer and healthier life.

Mau ikutan coba? Click ini. Oya, di sana nanti mesti register, gratis kok.

Posted on Wednesday, August 22, 2007 by M Fahmi Aulia

No comments

Posted on Wednesday, August 22, 2007 by M Fahmi Aulia

1 comment

Usai sholat dan mandi, kami bergerak lagi. Keinginan Wify sih jalan2 menyusuri Legian - Pantai - Penginapan. Hmmm..aku pikir jaraknya tidak terlalu jauh, so akhirnya kami berdua mulai lagi berjalan, 'menghitung jarak' Legian - Pantai - Penginapan.

Baru berjalan beberapa belas meter, perut kami berdua sudah keroncongan. OMG, sudah lapar lagi? Ya sudah, akhirnya kami berdua mencari rumah makan. Sebenarnya kami berdua ngiler melihat ikan2 laut yg disajikan di beberapa rumah makan, namun aku merasa makan sea food di Legian bukanlah keputusan yg tepat. Penyebabnya adalah aku tidak yakin dg kualitas makanan yg disajikan. Makan sea food di Jimbaran tentunya lebih menyenangkan....hanya saja, apa sempat ke Jimbaran??auk ah!

Akhirnya menuju sebuah restoran fast food, daripada kepala +puyeng gara2 kehabisan tenaga. Selesai makan....SWOOOSSSHHH...energi muncul kembali. Bolang siap memulai aksinya kembali!!nyengir

Tidak lama berjalan, kami berdua tiba kembali di pantai Kuta. Kali ini, karena cuaca sudah sore, suasana pantai terasa nyaman sekali. Bwaaahhh...suasana ini yg sudah 20 tahun lebih aku tinggalkan...yg aku rindukan... Enaaaakkkk sekaliiiiii menghirup udara pantai...apalagi ketika ombak berdebur ke pantai. *bagi yg belum pernah ke Bali, imajinasikan sendiri ya....?? bagi yg pernah ke Bali, silakan bernostalgia... Oya, maaf tidak semua foto2 suasana pantai tidak dipublish untuk umum, hihihih...*

Aku sempatkan diri untuk mejeng, apalagi suasana sudah menjelang sunset, alias matahari tenggelam. Aku berharap bisa berfoto dg efek sunset. Tapi nampaknya hasilnya kurang memuaskan. Ya sudah, gpp...yg penting sempat foto2.

Tak lama usai aku mejeng, sunset pun tiba. Aku berhasil abadikan beberapa momen yg oke punya, sunset di Kuta, Bali. Setidaknya, 3 foto ini aku rasakan sangat kuat pesona sunsetnya. Click saja fotonya, untuk mendapatkan hasil yg lebih jelas. Oya, bagi yg ingin foto original, tanpa tanda air (terjemahan bebas dari watermark), bisa kontak aku...ok?


Kami berlama-lama di pantai, bukan apa2...suasananya sangat asyik bangeetttt....kami betah deh. Dan waktu terasa lambaaaaaaaaaaaaaaatttttttttttt banget berjalan. Saat aku lirik jam, lho, ternyata kami berdua baru menghabiskan waktu 30 menit saja. Buset, serasa sudah berjam-jam nongkrong di pantai.

Akhirnya setelah matahari benar2 sudah hilang di horizon, kami berdua mulai bangkit. Usai membersihkan celana dari pasir (lupa bawa kain pantai, karena semula kami ga berniat nongkrong lama), kami berdua mulai berjalan menyusuri pantai.

POKOKNYA DUNIA MILIK KAMI BERDUA...YG LAIN NGONTRAK ATO NGEKOS AJE DEEHH...!!!
*hihihih....*

Kami berdua berjalan ke arah kiri dari pantai Kuta. Bertemu banyak orang dg berbagai pola tingkah. Ada yg teriak2 ga jelas, lalu ada yg sambil minum softdrink ngobrol ga keruan. Kemudian ada ce bule yg ngobrol serius dg co Bali...kaya yg lagi flirt...atooo whatever...aku tidak ambil pusing. Lalu ada juga co-ce lagi asik pelukan, nampaknya masih menikmati suasana pantai, belum lagi suara motor dari arah belakang....lalu tampak yg lagi bonceng2an. SIT SUIWWW...!!! hahaha..

Kian jauh berjalan, ternyata kami berjalan menjauhi keramaian karena suasana makin sepi dan kian gelap. Nampaknya pantai Kuta ini 'tidak merata' distribusi keramaiannya. Aku sendiri melihat ada beberapa hotel yg didirikan di sana, tapi nampaknya sepi pengunjung. Bahkan 2-3 kafe yg ada di situ juga tidak terlalu hingar bingar suasananya. Cenderung adem ayem. Sayangnya aku tidak sempat mengabadikan...bukan apa2, aneh saja rasanya mengabadikan suasana sepi.

Seraya berjalan, tentu saja kami ngobrol, macam2 lah ngobrolnya...yg jelas tidak akan dimuat di sini. Ahak...ahak...ngakak

Bujubune...ternyata cukup jauh jarak yg kami tempuh. Namun jarak tempuh ini memang agak lama kami lalui, selain karena kami asyik ngobrol, langkah2 kamipun tidak tergesa-gesa. Santai saja lah...namanya juga liburan. Santaiiiiiiii...

Akhirnya kami tiba kembali di daerah sekitar penginapan setelah hampir 2 jam berjalan, pasca sunset. Jadi, lebih kurang kami tiba jam 8 malam. Untunglah perut kami masih agak kenyang usai makan di restoran fast food, jadi setelah sholat Isya kami pilih untuk tidur.

Sebenarnya aku sempat kontak warga kampung gajah yg di Bali, yakni Jeng Ayu dan Saylow. Tapi keduanya tidak ada respon. Seingatku Jeng Ayu reply sms-ku agak tengah malam...yg membuatku terbangun dari tidur. Sementara sms ke Saylow malah 'not delivered'.halah

Semula aku hendak bertemu dg saudaraku yg ada di Denpasar (ternyata ada saudara sepupu yg berdomisili di Denpasar). Tapi aku sendiri sudah teler usai 2 jam jalan kaki, kaki pegel banget. Mau mengundang saudaraku ke hotel, ga etis banget...masa tuan rumah yg disuruh datang? Tapi mau ke Denpasar, dah lemes juga. So, akhirnya sebelum tidur, aku sempat ngobrol agak lama dg keluarga di Bandung dan saudaraku di Bali (Denpasar, Singaraja dan Buleleng). Hampir 1 jam ngobrol...hehehe...

Usai menelpon, tidoooorrrrr....tidur

Posted on Wednesday, August 22, 2007 by M Fahmi Aulia

3 comments

*sang pakar heboh ternyata ada yg bela lho...meski err...ah, nilai sendiri saja. aku beri komentar (dg huruf miring) pada bagian2 yg aku rasa perlu*siyul2

Di tangan orang yang tidak berpengetahuan, sebatang kayu hanyalah sekedar sebatang kayu yang nampak tidak berharga. Tetapi di tangan seorang seniman ahli ukir, sebatang kayu bisa menjadi sebuah adikarya.

Kenangan apa yang akan bangkit dari diri Anda ketika mendengar "judul lagu" Indonesia Raya? Saya yakin sebagian besar orang akan menjawab - Upacara Bendera.

Dua kalimat diatas perlu saya tulis sebagai paragraf pembuka untuk mencoba menjelaskan arti penting statemen Roy Suryo yang mempublikasikan lagu Indonesia Raya tempo doeloe *memangnya apa sih pak arti pentingnya?*. Meskipun klip lagu yang ditemukan Roy Suryo memang sudah lama dibiarkan kleleran dan hanya jadi pajangan saja di Internet, namun sebelum Roy Suryo mempublikasikan hasil risetnya orang belum sadar benar arti penting sebuah lagu yang berjudul Indonesia Raya *ah, masa sih pak? Bapak saja kaleee...lagian riset darimana pak?Dari hongkooong kaleee...*.

Sudah 62 tahun Bangsa Indonesia merdeka, namun selama itu pula lagu yang kita kenal sebagai Lagu Kebangsaan itu seolah tidak mempunyai arti apa-apa *lah menurut Bapak, artinya apa? kok ga ngasih tau arti menurut bapak seperti apa...*. Fungsinya sampai hari inipun nampaknya semakin mengalami degradasi saja karena hanya sekedar menjadi nyanyian ritual tanpa jiwa yang setiap hari Senin dinyanyikan dengan suara fals dan ogah-ogahan oleh pegawai negeri dan anak sekolah yang memang masih mengadakan upacara bendera dan mempunyai kewajiban untuk menyanyikan lagu tersebut; atau hanya sekedar jadi pembuka seremonial saja misalnya pembuka adu tinju, badminton ataupun acara-acara sejenis lainnya. Paling banter, kita melihat kesan agak serius ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya pada acara 17 Agustus-an saja, itupun hanya acara yang ditayangkan di televisi semisal 17 Agustus di Istana Negara.

Apa arti sebuah lagu kebangsaan pun , hari ini mungkin tidak banyak orang yang memahaminya benar apalagi lantas tergugah dan terkenang dengan negara yang bernama Indonesia dari awal kelahirannya sampai dinyatakan merdeka *Bapak sendiri sudah paham belum? jelasin donk pak*. Bukan saja bagi generasi muda Indonesia yang tidak mengalami langsung peristiwa bersejarah lahirnya lagu kebangsaan, bahkan bagi pelaku sejarah yang sudah uzur pun nampaknya lagu Indonesia Raya hanya sekedar menjadi lagu nostalgia semata. Bahkan, yang membuat saya heran, pelaku sejarah yang menyimpan arsip lagu tersebut malah terkesan menjadi terkaget-kaget ketika lagu Indonesia Raya kembali dipublikasikan oleh media masa *ya gimana ga kaget, lah wong sudah basbang ke demak pak paaakk...*.

Polemik yang berkembang sekitar publikasi lagu Indonesia Raya sebenarnya polemik kekanak-kanakan yang menunjukkan kedangkalan bangsa Indonesia secara umum *dangkal mana pak dg yg koar2?* ketika merespon suatu sentakan informasi yang semula nampak sepele menjadi tajam berkilau bagai pedang. Tanggapan yang muncul disana sini disekitar klaim siapa yang pertama justru menjadi tidak relevan dibandingkan dengan arti penting dan nilai dari obyek yang dipublikasikan serta pengaruh situasionalnya. Celakanya, kita justru terjebak membicarakan yang tidak penting itu. Publikasi lagu lama Indonesia Raya oleh Roy Suryo dewasa ini menurut saya mempunyai arti penting dan strategis bagi Bangsa Indonesia *oh yeaaahhh....???*. Apalagi publikasi ini menyangkut suatu identitas kebangsaan bagi bangsa yang secara teknis sudah mendekati ambang batas kehancuran di segala bidang secara sistematis, baik software-nya maupun hardware-nya *hwalah...si bapak ini maen hantam kromo software dan hardware. penjelasannya mana pak??*. Rebutan siapa yang pertama, siapa yang duluan, satu stanza, dua stanza atau tiga stanza dan remeh temeh lainnya, menunjukkan kalau kita umumnya masih terjebak dalam pola pragmatis serba instan tanpa melihat fungsi dan manfaat dari temuan itu dalam jangka panjang, khususnya dikaitkan dengan kesadaran bersama kita sebagai suatu bangsa yang berdaulat dengan identitas yang majemuk, yang lahir dari perjuangan penuh pengorbanan. Maksud saya, menjadi yang pertama itu tidak penting, yang penting adalah menjadi yang pertama kali menjadikan sesuatu yang nampak sudah tidak bernilai menjadi bernilai kembali. Windows Apple dan Windows Microsoft *ahak...ahak...bapake iki kok jadi tipikal pak kumis?ngakak aku pak paaakk...* menjadi contoh di abad dijital bagaimana yang pertama (Windows versi Apple) justru menjadi kurang berhasil dibandingkan dengan yang memberikan arti penting dengan manfaat yang lebih luas (Windows Microsoft).

Ada apa dengan Bangsa Indonesia ? Nampaknya nampaknya harus mulai dipersoalkan kembali karena sebagian besar Bangsa Indonesia nampaknya sudah menjadi tumpul daya pikir dan olah rasanya sehingga mempunyai kecenderungan untuk tidak tanggap dengan situasi dan kondisi tanah airnya sendiri; tanah air tempat dimana mereka justru numpang menghirup kehidupan dan bertahan untuk tetap hidup selama ini *hwalah...bapak sendiri gimana? jangan2 ikut tumpul gara2 pak kumis...*.

Polemik yang muncul setelah Roy Suryo mempublikasikan lagu Indonesia Raya versi awal nampaknya polemik yang muncul dari kedangkalan daya pikir kita yang sudah tidak bisa membedakan lagi antara batu dan permata *jadi, siapa batu siapa permata pak? kok jadi ngelantur dari lagu ke batu. apa bapak penjual batu? coba jualannya di jatinegara pak..banyak yg jual batu...batu akik*. Kedangkalan ini sebenarnya merupakan salah satu ciri saja bahwa sebagian besar dari kita sejatinya memang gelagapan dan gamang menghadapi era banjir informasi dan era keterbukaan pengetahuan dan tidak mampu memanfaatkan dengan optimal era banjir informasi (serta infrastrukturnya) untuk kepentingan bersama sebagai suatu bangsa. Boro-boro digunakan untuk mencapai kesejahteraan material yang nyata, bahkan untuk secara kolektif memanfaatkan perkembangan teknologi informasi itu agar menjadi bangsa yang lebih berpengetahuan juga masih sangat susah, padahal semuanya terbentang lebar dengan gratis *gratis dari hongkooongg?? benwit mahal kok dibilang gratis...*.

Di era information overloaded kedangkalan daya pikir ini akan menyebabkan orang tidak mudah untuk memilah informasi mana yang berharga dan mana yang tidak. Kecondongan hanya untuk mengambil manfaat praktis untuk kepentingannya sendiri dibandingkan dengan manfaat yang bernilai strategis dan menyangkut kepentingan banyak orang, misalnya kepentingan suatu bangsa, akan semakin membuat daya pikir manusia Indonesia justru tumpul padahal sarana dan prasarana yang tersedia dapat digunakan untuk kepentingan dan manfaat yang lebih besar, khususnya manfaat kolektif yang berhubungan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang lebih pengetahuan. Untuk bisa membedakan antara informasi yang tidak bernilai dan yang bernilai memang diperlukan keahlian khusus, perlu ketelatenan dan tentunya tujuan dari si pemilah informasi itu sendiri. Bagi orang biasa, lagu Indonesia Raya memang nampak begitu-begitu saja karena terlalu seringnya dinyanyikan. Jadi, bagi orang biasa lagu itupun mirip batu tak berharga. Sampai-sampai, meskipun sudah sekian lama beredar di Internet, kita yang memang tidak berilmu dan seringkali keluyuran di Internet tanpa tujuan tidak pernah menduga kalau lagu itu mempunyai makna yang penting sekali.

Hanya seorang Roy Suryo lah yang menyadari arti penting dan betapa berharganya informasi tentang lagu Indonesia Raya tempo dulu itu untuk mengungkit kesadaran historis bangsa Indonesia. Dengan kata lain, kalau kita hadapkan temuan Roy Suryo dengan situasi Bangsa Indonesia saat ini yang kualitasnya ambur adul maka temuan Roy itu semestinya direspon dengan antusias sebagai upaya menggugah Bangsa Indonesia yang sudah melupakan sejarahnya dan melupakan tujuan kolektifnya sebagai suatu Bangsa Berdaulat bukan bangsa budak atau bangsa jajahan atau pun bangsa tong sampah hasil produksi. Oleh Roy Suryo, dengan keahliannya sebagai praktisi telematika dan ketertarikannya dengan sejarah Bangsa Indonesia, batu yang membungkus lagu Indonesia Raya itupun dibuka dan dipolesnya kembali menjadi permata yang menyilaukan karena memang Roy membukanya didepan kilauan lampu kamera media massa. Kita mestinya patut mengacungkan jempol kepada upaya dan keberanian Roy Suryo yang sudah bersusah payah meluangkan waktunya untuk mengadakan riset tentang lagu Indonesia Raya itu dan akhirnya mempublikasikannya supaya nilainya yang semula bagi kebanyakan orang nampak tak berharga benar-benar menjadi berharga bagi Bangsa Indonesia. Setidaknya, upaya Roy Suryo bisa menyentakkan kesadaran kita bahwa Lagu Indonesia Raya sangat bernilai dan patut dihargai *ahak...ahak...pernyataan bapak ini kok mendewa-dewakan pak kumis ya? pak kumis kan ngopi file doank pak, bukan tertarik dg sejarah...apalagi riset, ahak...ahak...kalimat2nya narsis banget sih...jangan2...hihihhi...*.

Daya sentak publikasi Roy Suryo memang luar biasa. Berbagai komentar pun bermunculan, baik dari kalangan muda yang pernah melihatnya di internet, pernah memajangnya di blog-nya, sampai kalangan tua pelaku sejarah yang justru sebenarnya masih menyimpan klip aslinya namun tak pernah diteliti dan dikemas kembali untuk mengaktualkan nilainya. Yang lebih memprihatinkan, para pejabat pemerintah Indonesia juga mulai ikut-ikutan berkomentar dengan kedangkalan visinya sehingga ada kesan supaya masalah lagu Indonesia Raya ini hanya sebatas asli atau palsu, sudah selesai dengan versi ini atau itu dan akhirnya justru melemahkan semangat yang baru dikilik-kilik oleh Roy Suryo *ahak...ahak...dikilik-kilik sih geli pak, bukan lemah. aya-aya wae si bapak ini..ahak..ahak..*dengan temuannya itu. Bagi sebuah bangsa yang mulai runtuh, sejarah yang benar itu perlu bahkan peribahasa lama masih tetap berlaku bahwa "Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang mengenal sejarah dan pahlawannya" bukan bangsa yang mengubur apalagi menghapuskan sejarah. Bangsa yang menghapuskan sejarah dan para pahlawannya adalah bangsa yang dipenuhi dengan tukang tipu, para pembohong, tukang fitnah, oportunis dan kaum munafik dengan kecondongan pada kepentingan perut sendiri *jadi dg kata lain pak kumis = contoh warga dari bangsa besar, dan yg lain = tukang tipu, fitnah bla bla bla?ahak..ahak...lucu si bapak ini, aku jadi suka gaya lawaknya...*. Kita mestinya patut malu kepada Roy Suryo yang bisa menyepuh batu menjadi permata lagi yaitu lagu Indonesia Raya *lho, katanya Roy Suryo itu praktisi telematika, tapi kok menyepuh batu? jangan2 praktisi penyepuh, maksudnya membuat sesuatu menjadi sepuh (tua) kali ya pak?? ahak...ahak..*. Selamat untuk Roy Suryo yang berupaya untuk membangunkan jiwa-jiwa Bangsa Indonesia yang kelamaan tidur dengan sentakan lagu Indonesia Raya tempo doeloe *zzzz..zzzz...zzz...tidur ahh..cape deehh...*.

.....

Bangunlah jiwanya

Bangunlah badannya

Untuk Indonesia Raya

.....


Kota Patriot (Bekasi), 6 Agustus 2007 *sejak kapan Bekasi jadi kota patriot?gedubrak deh*

Atmonadi

(catatan penulis: tulisan ini merupakan materi untuk opini di harian Media indonesia)

Posted on Wednesday, August 22, 2007 by M Fahmi Aulia

No comments

8/21/2007

Ternyata sekarang gmail tidak gratis lagi, kita akan disuruh bayar, jika HENDAK MENAMBAH KAPASITAS inbox kita.

Free Image Hosting at www.ImageShack.usYa ya ya..bukan berita baru, mungkin, tapi aku baru alami siang tadi, ketika telah login dan membaca email, muncul pesan di bagian atas. Isi pesannya seperti gambar di kiri ini. *click untuk perbesar*

Hmmm...untuk pilihan kiri, solusi yg ditawarkan Gmail adalah MENGHAPUS email dari TRASH. Yaaa..ini mah udah tau lageee...so, aku coba click bagian kanan. Ternyata muncul pesan seperti berikut:
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Seperti yg anda2 bisa lihat, ada beberapa pilihan kapasitas inbox (dan harga).

Hmmm..aku sendiri, meski telah menggunakan 2.68 Gb dari total 2.82 Gb (95% lebih kurang), aku tidak berniat untuk 'membeli' tambahan kapasitas inbox. Tinggal hapus saja file2/email2 yg ga penting...nampaknya aku masih bisa dapat kapasitas lebih dari 68% lah...hihihih..cekikikan

So, ada yg berminat membeli tambahan kapasitas inbox??siyul2

Posted on Tuesday, August 21, 2007 by M Fahmi Aulia

4 comments