1/31/2007

Meski basbang ke demak, kasus flu burung yg benar2 membuat masyarakat berada dalam situasi H2C (harap-harap cemas) setidaknya membuka mata kita, bahwa pemerintah TIDAK BISA diharapkan. Semestinya, dari masing-masing diri kita yg mulai membenahi dan menata lingkungan serta lebih peduli dengan kesehatan (diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar). Gw tulis seperti ini, karena tindakan pemerintah cenderung 'bertahan' dan terkadang 'main seruduk' dalam membuat aturan....seperti pembantaian unggas.

'GONG' pembantaian unggas yg ditabuh Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian membuat para pedagang unggas panik dan menderita kerugian yg teramat besar. Penggantian biaya yg diberikan pemerintah kepada para pedagang unggas, ditolak oleh mayoritas pedagang unggas, terutama pedagang unggas hias (burung hias, ayam bangkok, dst). Pemerintah HANYA bersedia mengganti unggas yg hendak dimusnahkan dengan uang sebesar Rp 12.500!! Padahal, seekor burung perkutut bisa dihargai lebih dari Rp 3juta/ekor.

Jika seorang pedagang unggas mempunyai 10 ekor burung perkutut, yg harganya (gw pukul rata) sekitar Rp 2 juta, maka keuntungan yg bisa diperolehnya sebesar Rp 20 juta. Bayangkan, jika 10 ekor burung perkutut tersebut diganti HANYA Rp 125.000. Perbandingannya 1:160!!!dzigh Istilah ganti rugi tidak tepat...karena pedagang burung SUPER RUGI BANGED!!!

Seorang temen gw, istrinya bekerja dg berjualan ayam potong. Saat flu burung mulai melanda Jakarta, sekitar akhir 2005, dia cerita bahwa omset penjualan turun 'hanya' sekitar 40-50%. Namun, kini...kerugian yg diterima bener2 di luar perkiraan dia...!!! Penjualan turun bahkan hingga tersisa 20%!! nangis

Semula gw pikir temen gw menderita kerugian yg cukup besar...namun, satu waktu, gw lihat berita di TV. Di situ, diperlihatkan PEMBANTAIAN BESAR-BESARAN TERHADAP BEBEK!!! Pembantaian yg dilakukan bener2 membuat gw trenyuh dan miris. Betapa tidak...sebuah peternakan bebek di daerah pinggiran Jakarta, mempunyai lebih dari 500 (LIMA RATUS) ekor bebek.

Akibat instruksi pembantaian unggas, sang pemilik peternakan akhirnya mencampur dan menambahkan racun pada pakan bebek yg hendak dia sajikan kepada unggas ternaknya. Ketika makanan beracun tersebut dihidangkan ke sebuah kandang bebek (gw perkirakan berjumlah 100an ekor bebek), para bebek tersebut berebut nyosor...tanpa tahu bahwa makanan tersebut akan menjadi makanan terakhirnya. Dan dalam sekejap...bebek2 malang tersebut bergelimpangan.

Terus terang, melihat bebek2 itu mati..gw sedih banget. Padahal, kalo gw ga salah, menurut pemilik peternakan tersebut, bebek2nya dalam keadaan sehat, karena dia menjaga kesehatan binatang piarannya. Namun, apa boleh buat, perintah (bengis) pemerintah lebih menakutkan dirinya. Sehingga akhirnya dia memilih meracun bebek2nya.

Semestinya pemerintah bisa bersikap lebih bijak donk. Yg dimusnahkan itu cukup UNGGAS YG SAKIT saja!! Sementara yg SEHAT, CUKUP DIJAGA KESEHATANNYA SERTA KONDISI LINGKUNGAN. Sikap pukul rata yg diteriakkan pemerintah mengakibatkan kerugian tidak hanya bagi pedagang, namun juga masyarakat...karena jadi ragu2 dalam mengonsumsi makanan (ayam).

Layanan masyarakat yg berusaha 'memperbaiki' kesalahan pemerintah, dg menyatakan bahwa daging ayam dan telur aman dikonsumsi jika dimasak dg suhu lebih dari 70 derajat, menurut gw tidak banyak berpengaruh...ketakutan dan trauma masyarakat akan membuat kerugian pedagang unggas kian besar. Bahkan, kabar terakhir yg gw baca di koran (lupa gw korannya) disebutkan bahwa harga ayam anjlok hingga Rp 3500/kg...dari harga normal sekitar Rp 12 ribu-14ribu/kg.

Pemerintah sendiri nampaknya sadar bahwa instruksi pembantaian unggas yg sempat terlontar bukan tindakan bijaksana, sehingga mereka langsung menyediakan 'aturan' tambahan (yg sifatnya berusaha menenangkan) bahwa unggas yg sehat, pemiliknya bisa mendaftarkan ke dinas kesehatan setempat.

Tapi, yaaa....gw sendiri sudah skeptis dg kebijakan pemerintah. Jadi, yaaa...kok gw merasa ga punya pemerintah ya??siyul-siyuldzigh


Artikel terkait:
- [hoax][kesehatan][koran] Flu Burung vs Sodom&Gomorah di Kompas


Posted on Wednesday, January 31, 2007 by M Fahmi Aulia

1 comment

1/30/2007

Membaca KoTe edisi Senin, 29 Januari 2007, gw merasakan dejavu...ketika gw membaca rubrik Digital, di halaman C4, di kolom "byte". Di sana, tertulis: "Baca Berita AP dari Wii". Saat gw cek KoTe edisi Minggu, 28 Januari 2007....VOILA....ternyata ARTIKEL YG SAMA SUDAH DIMUAT!!!dzigh

Semula gw pikir ada perbedaan dalam artikel kembar yg dimuat di edisi Senin...tapi ketika gw baca lebih detil...ALAMAAAAKKKKK...ARTIKELNYA 100% SAMA BAHKAN SAMPAI TITIK KOMA!!! PERKEDEL....!!! AIHH...BOOOO...CAPE DEEEHHH....masa gw mesti langganan sebuah koran yg memuat berita yg persis sama??siyul2ngamuk

Sebenarnya, dimuatnya artikel kembar pada sebuah koran/media, bukanlah hal baru...karena di beberapa media, gw juga sering melihat dan membaca artikel serupa (tapi tak sama) dimuat. Sebut saja di Detik, Kompas, bahkan KoTe Interaktif. Kadang gw berpikir, APAKAH KORAN-KORAN DAN MEDIA-MEDIA INI KEKURANGAN BERITA HINGGA MENAMPILKAN BERITA YG SERUPA?? atauuuu...REDAKSI YG KURANG JELI dalam meneliti dan memilah artikel yg mesti dimuat? atauuuu KERJA WARTAWAN YG TUMPANG TINDIH...atau bahkan, kasarnya, KEHABISAN IDE...sehingga memuat berita yg sama (berasal dari sumber yg sama pula)?auk ah!

Ok...gw berusaha maklum untuk dimuatnya artikel kembar pada sebuah media online. Tenggat waktu serta derasnya informasi yg muncul disamping tidak ingin ketinggalan berita (atau ketinggalan tren?), membuat wartawan dan redaksi media menjadi (lebih) kurang teliti dalam memilih, memilah dan memuat sebuah artikel.

TAPI....GW GA BISA TOLERAN (baca: JENGKEL ABISZZZ) jika hal yg sama terjadi di media cetak, apalagi di KoTe. Alasan gw ga toleran untuk 'kesalahan' ini...jelas donk. Pertama, selama ini gw percaya wartawan KoTe punya 'instink' yg baik dalam menerbitkan/menyetor artikel yg akan dimuat (ga tau kalo temen gw yg satu itu...barangkali kejar setoran..xixixi...cekikikan, atau dia lagi stres karena server blognya amburadul?ngakak). Soalnya, melihat nama wartawan yg menulis...hmmm...tertulis DODY. HOI, DOD...IS DEAD ELO YG NULIS DAN MEMUAT ARTIKEL INI 2X? AIHHHH... *tonjok Dodi*dzigh Kedua, gw tau mas Budi Putera, salah seorang redaksi grup Tempo. Meski dia ndak langsung menangani KoTe, tapi melihat mas Budi terpilih sebagai kontributor CNET membuat gw yakin bahwa redaksi (Koran)Tempo bukan orang sembarangan. At least, ketelitian dan ketajaman analisis redaksi (Koran)Tempo selevel lah dg mas Budi. Ketiga, di mata gw, KoTe punya citra yg cukup ok...well...bisa dibaca di sini.

Hmmm....membandingkan antara kenaikan harga yg diberlakukan serta kualitas KoTe, yg menurut gw, menjadi TIMPANG...dalam artian, KoTe KIAN MAHAL TAPI KUALITAS JADI KIAN JELEK!!siyul2

Ya ya ya...gw termasuk orang/pelanggan yg cerewet...tapi gw pengen KoTe kian berkembang. Jadi, gw lihat dulu 1-2 bulan ke depan....kalo masih ada kesalahan TOLOL upsss....SEPELE seperti ini lagi, mending gw ganti koran aza dah. BUKAN KORAN MURAH YG GW CARI...TAPI KORAN YG BERKUALITAS... Dengan kata lain, walo harga langganan (lebih) mahal, tapi kalo kualitas korannya lebih baik dari KoTe, kenapa gw ga pindah?kenapa tidak?

'Parahnya', di koran Selasa, 30 Januari 2007, TIDAK ADA RALAT ATAU PERMINTAAN MAAF dari KoTe, atas kecerobohan yg terjadi. Apa mereka ga sadar bahwa mereka (pernah) memuat ulang artikel yg sama?

ps: ternyata artikel Wii ini, dimuat 2x juga di websitenya. Ini yg hari Minggu, dan ini yg hari Senin. Beda kategori doank...yg satu Digital, yg satu Teknologi Informasi.
AIHH...BOOOO...CAPE DEEEHHH....ngomel2&ngritik2 molooooo....ngakak

Posted on Tuesday, January 30, 2007 by M Fahmi Aulia

No comments

1/29/2007

Once, I wrote about hoax of the Adam Air discovery. Recently, there is a new hoax about Adam Air. You can read here.
*sigh*d'ohnot talking

Posted on Monday, January 29, 2007 by M Fahmi Aulia

No comments

1/28/2007

Well...I got from my brother, some movie clips.
Enjoy
- 300
- Shrek Third
- Teenage Mutant Ninja Turtle

Posted on Sunday, January 28, 2007 by M Fahmi Aulia

1 comment

1/27/2007

Sebenarnya, berita ini bukan berita baru...karena gw sudah dengar isu ini sejak pemkot DKI berencana membangun koridor baru busway. Gw sendiri mengalami 2 tarif busway, yakni tarif awal sebesar Rp 2000 (thx koreksinya, mas Cahyomelet), yang dikenakan sejak awal munculnya busway (2004), hingga Rp 3500, yang setau gw kenaikan ini diterapkan sejak kemunculan koridor 2 dan 3 (sekitar 2005).

Sebagai eks pengguna busway, gw punya beberapa pengalaman terkait dengan busway...yakni ngerjain Dodi di busway (halo Dod...!!), hingga 'dodolnya' layanan Busway. Ya ya ya...mayan nambah pengalaman hidup nih...nyengir

Meski gw sekarang menjadi seorang motoris, namun kadangkala gw masih menggunakan busway sebagai sarana transportasi, terutama kalo gw lagi 'nanggung'...maksudnya, tujuannya deket, en cuma sebentar...lebih enak pake busway. Gw ga perlu mikir dan repot bawa si Red Banzai. Sebagai contoh, kalo ke ke plaza semanggi (pas jam makan siang) atau idBan, mendingan gw pake busway.

Nah, gw banding2in 'rasanya' naek busway jaman dulu dg belakangan ini, gw merasakan KETIDAKNYAMANAN...dengan lamanya menunggu busway datang, panjangnya antrian, adanya pembatasan penumpang yg masuk (oleh petugas busway di halte), penuhnya (berdesak-desakannya) penumpang di dalam (bahkan gw jadi bingung, sekarang apa bedanya busway dg metromini???auk ah!mikir-mikir).

Bahkan, gw sempet nemu di sebuah blog, gw lupa blognya sapa...mengenai 'parahnya' antrian pembeli tiket busway di blok M. Di blog itu, ada skrinsut, betapa kacau balaunya...carut marutnya...serta berantakannya pengelolaan busway sekarang.

Gw sendiri ga tau persis penyebab kian penuhnya busway...maksudnya, apakah memang banyak para pemakai mobil pribadi yg beralih ke busway, atau yg mobil pribadi jalan teruss...sementara para pemakai busway sekarang adalah yaaa...(gw yakin) orang2 yg ga punya kendaraan pribadi...atau orang2 yg 'nanggung' kaya gw sebut di atas tadi.

DENGAN SEMUA BURUKNYA LAYANAN TERSEBUT, APA MASIH MAU NAEKIN TARIF BUSWAY HAH???dzigh *jawab pemda DKI,"Yaaa..tetep naek lahhhh...egepe ama buruknya layanan busway...toh gw ga naek ini...!!" halah euy...xixixix..alamak*

Posted on Saturday, January 27, 2007 by M Fahmi Aulia

3 comments

Artikel ini cukup panjang, jadi kalo merasa ga terlalu peduli dg hoax, bisa diskip, hihihi..

Hoax ini dimulai dengan artikel di bawah ini, yang dimuat di Kompas, tgl 19 Januari 2007:

***kutipan artikel mulai***
Petaka Sodom dan Gomora

F Rahardi

Flu burung (avian influenza, AI) tiba-tiba menjadi hantu yang sama menakutkan dengan AIDS. Inilah kutukan dari Sodom dan Gomora modern.

Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus menantang hukum Allah. Itulah yang harus diubah, bukan hanya sekadar restrukturisasi menyangkut pembagian kapling.

Flu sebenarnya merupakan penyakit lama. Ada tiga tipe virus influenza: tipe A yang bisa menyerang hewan maupun manusia dan tipe B serta C yang hanya bisa menyerang manusia. Virus tipe A masih terdiri atas beberapa subtipe, yakni H (1-15) dan N (1-9). AI sendiri sudah terdeteksi sejak 1978 di Italia, tetapi AI subtipe baru dengan virus H5N1 pertama kali terdeteksi di Hongkong tahun 1997. Sejak itu, flu burung menjadi mirip AIDS, menimbulkan gejolak atas bisnis perunggasan, sekaligus mengancam hidup manusia.

Ketika AI menyerang unggas, virus ini belum menjadi wabah yang mendunia. Agroindustri perunggasan lalu menjadi massal dan mendunia, dengan benih (DOC/DOD), pakan, hormon pertumbuhan, antibiotik, dan obat-obatan dalam dosis tinggi secara intensif. Inilah pemicu utama terciptanya virus subtipe baru. Terlebih setelah agroindustri peternakan hanya mementingkan keuntungan, tanpa memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan.

Wabah sapi gila di Inggris juga kutukan. Virus penyakit gila ini sebenarnya hanya berjangkit pada domba, dan tidak pernah menjadi wabah. Namun, agroindustri peternakan di Inggris terlalu rakus. Limbah dari rumah potong hewan, terutama tulang-tulang-terdiri tulang domba, kambing, sapi, babi, dan ternak lain-digiling dan dicampurkan ke konsentrat. Tujuannya adalah efisiensi. Dampaknya, terjadi degradasi genetik dan penularan penyakit. Penyakit gila yang sebelumnya hanya menyerang domba berjangkit pula ke sapi.

"Nuggets" dan sosis tulang

Pada agroindustri perunggasan, terutama ayam petelur, yang akan dipelihara hanyalah DOC betina. DOC jantan harus dibuang. Jika DOC jantan diberikan kepada ikan, dampak negatifnya hampir tidak ada. Namun sekali lagi demi efisiensi, DOC jantan langsung dimasukkan ke penggilingan dan dicampurkan ke pakan. "Kanibalisme" inilah antara lain yang telah mengakibatkan degradasi genetik, sekaligus ikut berperan memicu terciptanya virus AI subtipe baru.

Namun itu semua belum terlalu mengerikan. Kini, tampaknya konsumen kurang jeli melihat (atau tidak menduga) sosis (sapi dan ayam), nuggets (ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan dari daging, tetapi limbah tulang-belulang. Limbah rumah pemotongan hewan dan rumah pemotongan ayam selalu menghasilkan limbah berupa tulang keras, tulang rawan, sumsum, urat, dan sedikit daging yang masih melekat. Tulang kerasnya dipisahkan dan disebut MBM atau meat and bone meal. Ini merupakan bahan campuran industri pakan ternak, termasuk unggas.

Tulang rawan, urat, sumsum, dan daging disebut meat and debone meal (MDM). Produk inilah yang semula menjadi bahan campuran industri sosis, kornet, dan nuggets. Kini, MDM menjadi bahan utama makanan pabrik itu. Terlebih dalam sosis ayam. Yang dimaksud MDM unggas sebenarnya semua limbah ayam digiling, sebab sekeras apa pun tulang ayam masih amat lunak untuk menjadi sosis dan nuggets. Kita tidak pernah diberi tahu oleh Asosiasi Produsen Makanan Olahan Daging (National Association Meat Producer = NAMPA), berapa persen sebenarnya kandungan MDM pada tiap sosis dan nuggets. Jangan-jangan sudah 100 persen.

Pola industri ternak seperti ini sebenarnya sudah melawan hukum alam, sekaligus hukum Allah. Sapi dan domba aslinya herbivora. Dalam industri modern mereka dipaksa menjadi karnivora, bahkan kanibal. Unggas makan biji-bijian dan kadang serangga serta cacing. Tetapi mereka tidak pernah kanibal. Bahkan elang dan gagak yang karnivora pun tidak pernah kanibal. Tetapi manusia telah memaksa ayam dan itik menjadi kanibal. Bahkan DOC, anak ayam yang baru menetas pun, harus kembali digiling untuk dimakan oleh induk-induk mereka. Ini sudah lebih sadis dibanding kisah Sodom dan Gomora.

Limbah dari AS

Rakyat AS relatif cerdas dalam melihat "penyimpangan" atas hukum alam ini. Selain cerdas, mereka kaya. Itu sebabnya mereka tidak menyantap bagian lain dari ayam, kecuali daging dada. Kulit, daging paha, daging sayap, hati, ampela, tabu disantap. Apalagi kepala, leher, pantat, dan ceker. Semua itu harus dibuang. Lembaga konsumen AS juga ketat hingga limbah itu tidak bisa digiling begitu saja dan dijadikan pakan. Kasus sapi gila di Inggris membuat rakyat AS lebih waspada.

Ke manakah limbah yang masih layak makan itu dibuang? Tentu ke negara yang penduduknya banyak dan ekonominya lemah. Sasaran utama membuang paha dan sayap ayam adalah RRC, India, dan Indonesia. MDM hasil penggilingan limbah unggas juga dibuang ke negara berkembang dan negara miskin. Untuk sarana pembuangan, kota-kota besar di negara berkembang siap dengan restoran cepat saji dan pasar swalayan. Saat memungut sosis ayam dan nuggets, ibu-ibu pasti tak pernah membayangkan, bahan utama produk itu bukan daging, tetapi limbah.

Sebenarnya pemerintah harus mulai memperkuat agroindustri perunggasan tradisional peternakan itik sebagai penyeimbang. Kelembagaan peternakan rakyat ini sebenarnya sudah amat kuat. Hanya alokasi modal dan fasilitas lain tidak pernah tertuju ke mereka, sebab mereka bukan pengusaha yang punya kapling dalam Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (Gappi). Jika para peternak itik yang sudah massal pun tak tersentuh perhatian pemerintah, ayam kampung lebih tak terperhatikan lagi. Rakyat memang harus tabah dalam menerima petaka Sodom dan Gomora modern berupa wabah flu burung.

F Rahardi Wartawan; Penyair

***kutipan artikel selesai***

Tak berapa lama, banyak bantahan yg masuk, terutama dari seseorang yang mengaku bekerja sebagai Direktur Ekskutif NAMPA (instansi yang terkait dengan makanan). Berikut adalah bantahannya

***bantahan dimulai (diedit tanpa mengurangi makna)***
Soalnya saya kebetulan adalah Direktur Ekskutif NAMPA yang dia sebut tidak mau memberi tahu berapa persen MDM yang ada, padahal saya tahu pasti dia tidak pernah bertanya pada kami.

Lalu lagi dia salah mengartikan kepanjangan MDM sebagai Meat Deboned Meal, seharusnya Mechanical Deboned Meat, yaitu daging yang diperoleh dari pemisahan daging yang masih tertempel di tulang ayam, misal di kerongkongan yang memang masih banyak dagingnya, ataupun kalau Ibu melihat di supermarket menjual paha atau dada ayam tanpa tulang. Maka sebenarnya di tulang yang sudah diambil dagingnya dengan manual itu masih bisa diambil lagi daging dengan suatu mesin modern yang namanya Meat Bone Separator.

Dalam syarat MDM untuk makanan manusia , ditentukan bahwa kadar calcium di bawah 0,5 % (angka pasti saya carikan nanti ya), ini akan menunjukkan bahwa daging itu tidak tercampur tulang ayam secara signifikan significant, artinya jauh di bawah 1 persen dan terbentuknya juga sangat halus.

Kita tahu, bahwa kita juga suka mengerogoti kerongkongan ayam yang memang masih banyak dagingnya, apalagi kalau untuk sop ayam.

Kadar gizi daging ayam MDM ini cukup baik kadar proteinnya adalah sebesar 15 %, dalam range 13 sampai 16 persen.

Saat ini baru dua produsen Indonesia yang memproduksi MDM ini yaitu Charoen Phophand dan Ciomas yang grupnya Japfa, dua perusahaan amat besar yang nggak akan sembarangan memproduksi Mereka juga memproduksi nugget dan sosis. Mereka perusahaan berskala dunia.

Perlu diketahui MDM ayam itu benar daging ayam dan bukan tulang, di negara maju seperti Australia , Prancis juga diproduksi, saya punya spesifikasinya kalau Ibu mau, dan jelas itu fit for human consumption.

Mengenai jumlah yang dipakai , umumnya jauh di bawah 30 persen, dan dipakai untuk menggantikan sebagian daging ayam yang mahal dan sebagian filler/tepung yang murah. Lha memang ketersediaan MDM-nya juga sedikit..

Sebagai akibat, karena daging utuh diganti daging MDM (daging utuh yang mahal itupun harus di hancurkan/digiling kalau mau di bikin sosis) maka mutu (misal kadar protein) tetap dipertahankan, sementara dia juga bisa digunakan sebagai pengganti tepung filler dan fat, yang malah menaikkan mutu, karena kadar protein MDM jauh lebih tinggi dari Fat dan tepung filler (pengikat), sehingga malah bisa menaikkan mutu tanpa menaikkan harga.

Walhasil... dalam situasi daya beli rendah, penggunaan MDM dapat jadi solusi membuat produk berprotein hewani tinggi dengan harga terjangkau dan sama sekali nggak ada tulang.

Rakyat bisa jadi sehat walau kantong relatip tipis..

Begitulah kejamnya fitnah Rahadi yang menyebut sosis tulang , dan dimuat lagi oleh koran Kompas, tanpa mengecek ke industri bersangkutan. Sampai Ibu pun merasa tertohok

NAMPA ingin menurunkan artikel balasan tentang ini, sudah berpikir negatip, bahwa tak akan dimuat oleh Kompas, karena pengalaman saya terdahulu dalam issue daging impor.

Ada teman di FPK, yang bisa menolong atau menjamin , klarifikasi Nampa dimuat Kompas ??

Kami seyogianya, mendapat tempat yang sama banyak dengan saudara Rahadi, yang penyair ahli peternakan dan makanan ini.

Kalau sdr Rahadi membaca ini, boleh juga menghubungi saya..

Buat Ibu-ibu, saya ingin meyakinkan bahwa anggota NAMPA, semuanya adalah perusahaan bonafide, yang tidak akan berkompromi terhadp keamanan pangan.

Seluruh produksi anggota kami yang beredar telah memiliki no pendaftaran MD yang berarti sudah di periksa keamanannya oleh pihak BPOM.

Dan memang tidak ada sosis atau nugget yang menggunakan tulang.

Buat ahli hukum... bisa nggak sih tulisan Rahadi begini di bawa ke pengadilan???

Buat orang Pers, bagaimana sih kebijakan pers dalam memuat suatu berita bohong yang dampaknya bisa buruk pada indsuti bersangkutan, sementara sektor riil kita jelas lagi menderita...??

Atau anda berpendapat yang penting koranmu laku ???

Padahal saya yakin ada orang Kompas tahu dimana bisa hubungi NAMPA, lalu saya yakin Rahadi juga bisa cari info alamat NAMPA.

Kompas korann besar yang bisa membei dampak besar.. mohon lebih cermat dengan issue sensitip.. jangan hanya hati hati denganissue agama aja dong... (mana berani siar berita poligami misalnya , .. ya kan Bu Mariana??)..

Ketika Trans TV bikin berita soal bakso tikus.. berapa kerugian yang timbul kepada pengusaha bakso dan tukang bakso di pinggir jalan. Padahal barangkali yang bikin begitu cuma satu pengusaha. Andai aja Trans TV bisa memberitakan sekaligus menjaga agar dampak buruknya tak terjadi... ?

Kasus itu pun kami laporkan pada Komisi Penyiaran Indonesia, tapi Sinansari Ecip cuma jadi juru pos, yang meneruskan surat kami ke Trans TV lalu, mengirim jawaban Trans TV ke kami.

Kompas??? Your comment please... bikin susah ibu-ibu ... bikin berat pikiran ibu ibu dengan berita nggak benar.... ??

NAMPA ingin sekali melakukan klarifikasi .. tapi mohon Kompas mau memfasilitasinya dengan kesempatan yang setidaknya sama dengan tulisan Rahadi.

Tulisan ini, masih tulisan pribadi saya, walau jabatan Direktur Ekskutif Nampa dan kesarjanaan teknologi pangan memang kebetulan melekat pada saya. (Kalau statement NAMPA ya harus liwat prosedur kan..)

Adakah Rahadi bersama pihak pihak yang ingin menghancurkan sektor riil yang sudah babak belur.. agar negara ini hancur sekalian..dengan menyiarkan berita bohong.??

Lha tahu arti MDM sebenarnya aja nggak nggak (buktinya salah memperpanjang).

Mengenai jumlah MDM yangd ipakai , sekali lagi karena hanya dua produsen yang ada, justru kita tidak mungkin memakai banyak karena suplainya memang sedikit... sebaliknya jika ada banyak... maka rakyat Indonesia bisa menikmati sosis begrizi tinggi dengan harga terjangkau, tepat seperti saudara saudara kita di Malaysia, di Filipina di Thailand bahkan di negara maju..

Jadi misalnya Ibu ke supermarket dan beli sosis ayam merk Doux, maka itu juga ada MDM nya.., begitupun produk Malaysia..

Bayangkan bahan baku yang memang berstandar "fit for human consumption" dengan kadar protein bisa mencapai 16 % ..murah lagi... Kalu kita tahu permasalahan bangs asaat ini, dimana rakyat nya butuh protein hewani yang tinggi tapi murah .. tentu mikir sejuta kali menurunkan berita bohong ini.


Rahadi pun eksplisit berani bilang kita bodoh karena mau mengkonsumsi paha ayam dan sayap..buntutu dan ceker, karena dalam tulisannya dia bilang orang Amerika pintar karena tidak mengkonsumsi hal diatas..

Pertanyaannya benarkan kita kita ini, yang makan paha ayam, dan sayap bodoh? atau Rahadinya yang bodoh..?

Biar Rahadi penyair yang ahli makanan yang menjawabnya.

Salam

Haniwar

***bantahan selesai***

Well...ternyata Kompas kecolongan berita bohong alias hoax...siyul2 Mudah2an artikel ini berguna... nyengir

Posted on Saturday, January 27, 2007 by M Fahmi Aulia

2 comments

1/25/2007

Sekitar 2-3 bulan terakhir ini, jalur busway Ragunan - Kuningan sudah mendekati penyelesaian. Ini berarti jalur khusus busway sudah siap untuk digunakan, karena menurut rencana, Januari 2007 ini 4 jalur baru busway akan diresmikan bang Yos.

Nah, kesiapan jalur busway ini ternyata tidak luput dari 'inceran' para motoris...termasuk gw. Cukup sering, meski tidak tiap hari, gw melintas di jalur busway ini...terutama di awal2 jalur ini 'dibuka'. Alasan klisenya, kalo jalur biasa bakal nemu macet...terutama karena jumlah lajur kendaraan di Mampang-Warung Buncit sudah berkurang, dicomot 1 lajur untuk busway. Walhasil, jalur Mampang-Warung Buncit, yg semula 'cukup' tertib karena ada jalur cepat dan jalur lambat, kini menjadi campur baur...motor, mobil, metromini, bus 102, bus 86, bus 48, semua melewati jalan yg (kian) sempit.alamak

Alasan 'tidak' klisenya...ya jelas...gw pengen testing motor dan jalur busway ini. Bisa ngebut hingga 80 km/jam di jalur busway menimbulkan kenikmatan dan sensasi bermotor yg tidak ada duanyasiyul-siyul. Selain itu, dengan lewat jalur busway ini, gw bisa hemat hingga 10 menit perjalanan dibanding biasanyanyengir.

Nah, sejak sekitar awal Desember 2006, pak polisi setempat membolehkan kendaraan lain menikmati fasilitas 'VIP' ini. Hal ini merupakan pukulan telak bagi gw dan para motoris, karena keberadaan kendaraan lain jelas membuat situasi kian tidak nyaman. Hal ini dikarenakan jalur yg semula bisa memuat 3-4 motor, kini kadang harus 'habis' karena tertutup mobil2 SUV atau bus dan metromini yg bodynya bengkak2 kaya orang inihee hee.

Akibatnya jelas, waktu tempuh gw menjadi lebih lama...bahkan belakangan gw hitung, gw jadi makin telat 10 menit datang ke client, karena semua lajur terbuka untuk umum...alias tidak ada lagi previlage bagi motorissedih euy.

Sementara itu, peresmian jalur busway baru ternyata diundur. Semula dijadwalkan 15 Januari 2007, yang bertepatan dengan 4 tahun busway. Namun, karena sesuatu hal, diundur menjadi 27 Januari 2007.

Sudah sejak minggu kedua Januari 2007, nyaris bersamaan dengan pemberlakuan jalur kiri dan menyalakan lampu bagi motoris (meski masih tidak konsisten), jalur busway Ragunan - Kuningan ini dibenahi. Penutupan jalur mulai dilakukan, karena para pekerja mesti memperbaiki kondisi jalan serta membenahi 'printal printil' sebagai penyelesaian akhir. Walhasil, motoris mesti rela lewat jalur 'lemot'...bersaing dg kendaraan2 lain yg lebih besarsedih euy. Pak Polisi setempat pun banyak berjaga di sekitar perempatan, mencegah para motoris 'nakal' yg berusaha memakai jalur busway ini.

Sekitar hari Selasa kemaren, saat berangkat ke client, gw mendapati jalur busway sekitar Mampang - Mampang Prapatan VII terbuka. Tidak seperti jalur busway di perempatan sebelumnya, Mampang - Duren Tiga, yg dijaga Pak Polisi serta jalur ditutup dengan pagar khusus. Dasar motoris, meski gw merasa ada kejanggalan...melihat peluang ini, gw ga sia2kan...segera gw masuk ke jalur busway ini, dan ngebut...tancap gas cooyyy...ngakak *tawa kemenangan dan senang, terutama karena jalur busway-nya bener2 kosong...*

Eh, ternyata kejanggalan yg gw rasakan emang beralasan. Sekitar sepertiga jalan akan menuju perempatan Mampang / Tendean, gw melihat BEBERAPA MOTOR POLISI DIPARKIR di ujung jalan!!! GEMBEEEEEEEEELLLL... RUPANYA ADA JEBAKAN BETMEN!!!dzigh Pantesan sedikit sekali motor/kendaraan yg lewat jalur busway ini, rupanya emang ditutup motor polisi. 'Dodolnya' awal jalur tidak dijaga...nampaknya jebakan betmen ini emang sengaja disiapkanngakak.

Ckiiiittt...gw segera rem, lalu ngecek di sekitar motor yg diparkir itu, apa ada semak2...yaa...kali aza si pak polisi ikut2 iklan, nyamar jadi semak2...xixixix...cekikikan Setelah yakin tidak ada polisi yg jaga di sekitar situ, saatnya cari cara keluar dari jebakan betmen ini. Muter balik jelas ga mungkin...TENGSIN BOW..!!melet Selain itu, muter balik malah cuma buang2 bensin. Akhirnya gw nekad, nerobos pembatas jalur busway. Untungnya, di pembatas jalur busway itu ada celah...meski semula gw ga yakin bisa lewat, akhirnya pelan2 Red Banzai bisa lewat jugafiiuuhhhhh!. Akhirnya gw meneruskan perjalanan lewat jalur lemot...dan untungnya cuma telat 5 menit, heheh...

Belakangan gw tahu, ternyata ada motoris yg DITILANG karena terkena jebakan betmen itu. Mereka terus melaju hingga ujung jalur dan tak dinyana dan tak disangka...ada pak Polisi nongol dan menilang mereka!!! Gw ga tau persis penyamaran yg dilakukan pak polisi, sampe sukses menilang para motoris itu, kayanya pada nyamar jadi pembatas jalur busway, gwakakak..ngakak

Moral story:
- JANGAN LEWAT JALUR BUSWAY, KECUALI ADA POLISI YG MENYURUH...MESKI ADA RESIKO JEBAKAN BETMEN SUDAH DISIAPKAN...gwihihihihih...

- JANGAN TERLALU PANIK KALO NGELIAT PAK POLISI SUDAH NONGKRONG DI UJUNG JALUR. SEGERA CARI JALAN TERDEKAT UNTUK KELUAR DARI JEBAKAN BETMEN.


Posted on Thursday, January 25, 2007 by M Fahmi Aulia

8 comments

1/24/2007

Minggu lalu, saat gw kembali ke Jakarta (setelah pulang sebentar ke Bandung), seperti biasa...gw naek kereta. Berhubung telat beli tiket bisnis, yaa...sudahlah...naek argo gede.siyul-siyul Toh, udah lama gw ga naek argo gede...ga ada salahnya sesekali gw memanjakan diri gw dengan kenyamanan berkereta api.

Saat antri tiket, gw baru menyadari adanya nuansa yg berbeda pada porter (kasarnya mah, kuli angkut) yg hilir mudik di stasiun kereta Bandung. Perbedaan itu adalah SERAGAM yg mereka kenakan. Di sana ada logo INDOSAT. Sayangnya, gw ga sempat ambil gambar...mungkin kali lain deh, kalo gw pulang ke Bandung, gw sempetin untuk motret seragam KA-Indosat ini.nyengir

Selesai antri, saat masuk ke peron, gw melihat ada informasi TELEPON GRATIS DARI XL. Wah...wah...wah...ada gratisan nich. Bisa dimanfaatkan biar ga mubazir donk...nyengir Gw baca lagi info yg tertera....telepon gratis ini ada di stasiun dan kereta. Gw celingukan ke kiri dan kanan, kok tidak ada petunjuk tempat telpon gratis dari XL ini ya?mikir Akhirnya, gw lupakan telepon gratis XL ini, soalnya kereta sudah siap berangkat.

Setelah tidur selama 1 jam, gw bangun....en teringat lagi dengan telpon gratis XL ini. Segera gw tanya staf kereta di kereta makan. Mereka segera menunjukkan gw lokasi telpon gratis XL. Ternyata telpon gratis XL ini berlokasi di sebuah bilik di kereta makan, DIGABUNG DENGAN TEMPAT SHOLAT.alamak Gw jadi bingung dengan kebijakan ini....bingung

Lalu, ya sudah...gw manfaatkan fasilitas gratis ini. Telpon ke rumah (adik gw yg pake XL) dan temen2 lain yg pake XL juga, wahahaha...ngakak

Buat gw, ide kerjasama PT KAI dengan 2 operator seluler adalah terobosan yang cukup baik..menguntungkan kedua belah pihak, baik berupa promo ataupun sisi bisnis lainnya.mata duitan Ya ya ya...semoga kerjasama ini akan berlangsung cukup lama...biar gw bisa telpon gratisan terus, ihihiih...cekikikan

Posted on Wednesday, January 24, 2007 by M Fahmi Aulia

5 comments

1/22/2007

Setelah (Kepolisian) Surabaya dan Jakarta menerapkan peraturan motoris MESTI menyalakan lampu di siang hari, nampaknya mulai Februari 2007 mendatang, motoris Bandung juga mesti bersiap melakukan hal yg sama seperti rekan2nya di 2 kota tersebut.

Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Jabar, AKBP Drs. Bambang Sukamto, menyatakan bahwa minggu ini (katakanlah hingga akhir bulan), Polda Bandung akan melakukan sosialisasi terhadap peraturan baru ini, sebelum akhirnya diterapkan. Dengan kata lain, selama masa sosialisasi, TIDAK BOLEH ADA PENILANGAN terhadap motoris yg tidak menyalakan lampu.

Gw sendiri menganggap hal ini sebagai sesuatu yg positif...karena walaupun sepengetahuan gw, motoris di Bandung belum mencapai tingkat yg 'membahayakan', setidaknya langkah ini merupakan upaya preventif menekan angka kecelakaan di Bandung (dan Jabar, nantinya).

So, mari kita dukung upaya Polda Jabar ini...ASAL KONSISTEN YA PAK!!!nyengir Jangan seperti di DKI Jakarta, peraturan malah bikin pusing motoris...
*kabur*

Adapun berita ttg rencana peraturan tersebut bisa dibaca di sini.

Posted on Monday, January 22, 2007 by M Fahmi Aulia

2 comments

1/21/2007

Rejeki sebesar Rp 50 juta yang diterima pak Bakri, sebagai hadiah karena kesediaan dirinya menyerahkan temuannya berupa potongan pesawat Adam Air yang hilang, ternyata mempunyai dampak yg kurang baik (bahkan cenderung 'membahayakan')...setidaknya menurut gw. Lho, mendapat hadiah kok berbahaya, apa sebabnya?bingung

Ah, elo mah suka mengada-ada aza dech Mi...cekikikan

Eh, ga lah...serius gw nih...
Gw sebut berbahaya, karena hadiah yg diberikan (wapres) kepada pak Bakri akan membuat nelayan-nelayan (tetangga pak Bakri) berpikir,"Mending gw nyari kepingan pesawat aza daripada melaut...soalnya hadiahnya lumayan nich.." Akibatnya jelas, mereka lebih memilih 'ngorek-ngorek' laut untuk mencari kepingan pesawat, yang belum tentu juga ada di sekitar laut daerah itu, dibandingkan mencari ikan. Alih-alih mendapatkan bonus/hadiah seperti yg diterima pak Bakri, mereka sendiri akan mengalami kesulitan keuangan dan pangan karena tidak ada pendapatan/penghasilan yg didapat.alamak

Hal berbahaya ini tidak berhenti di sini...
Bagi masyarakat yg TELAH MENEMUKAN KEPINGAN (yang diduga) pesawat, gw yakin mereka TIDAK MAU memberikan temuan mereka TANPA MENDAPATKAN HADIAH seperti yg didapat pak Bakri. Ini merupakan efek dari apa yg gw sebut di atas...perubahan pikiran (mindset) dari para nelayan, yakni menjadikan pencarian kepingan pesawat sebagai mata pencaharian mereka. Otomatis mereka menggantungkan hidup mereka dari temuan yang didapat. Menjadi hal yang wajar jika mereka 'menetapkan' harga pada tiap keping temuan mereka.mata duitan

Jika sudah begini, siapa yang salah? Pemerintah (yg telah memberikan hadiah)? Masyarakat (yg mudah berubah mindset serta 'terlalu' mengincar hadiah)?auk ah!

Posted on Sunday, January 21, 2007 by M Fahmi Aulia

8 comments