disclaimer: Artikel ini ditulis dan dimuat bukan untuk menjadi duta taksi!!!

Satu waktu, hampir tengah malam, aku mencegat sebuah taksi, lalu dg ramahnya si pak sopir menyapa usai aku duduk di kursi. Taksipun mulai melaju, menembus keheningan malam di jalan Mampang.

Seperti biasa, aku mulai ngajak ngobrol pak supir taksi ini, sebut saja namanya pak Ihsan, brerhubung aku ndak sempet melihat kartu identitasnya. Banyak sekali yg kami obrolkan, mulai dari berapa lama beliau kerja di perusahaan itu, rumahnya di mana, asalnya dari mana, pokoknya seabreg.

Ternyata pak Ihsan ini sudah bekerja di perusahaan taxi ini cukup lama. Dia cerita, sudah EMPAT BELAS TAHUN...!! Buset deh...cukup lama juga untuk ukuran sopir taksi. Karena selama ini, sopir2 taksi yg aku temui rata2 di bawah 5 tahun bergabung di perusahaan taksi ini.

Menurut penuturannya, selama 14 tahun kerja di perusahaan taksi itu, dia sudah bisa MEMILIKI 3 MOBIL dari taksi yg dia pegang. Wah, berarti 1 mobil ~ 5 tahun. Hebat juga si bapak Ihsan ini. Gigih dan ulet sekali beliau untuk berjuang dan mencari nafkah. Beliau juga cerita bahwa dirinya sudah punya rumah di daerah TB Simatupang, juga hasil menjadi sopir taksi ini.

Pertanyaannya: di mana pak Ihsan ini bekerja?

Jawabannya mungkin mengagetkan, beliau bekerja di EXPRESS TAKSI...!! BUKAN DI BLUE BIRD!!

Aneh sekali bukan? Selama ini pikiran kita 'dicekoki' bahwa perusahaan Blue Bird adalah perusahaan yg paling memperhatikan sopir bla bla bla...tapi itu semua dibantah oleh pak Ihsan. Mengapa? Mari kita dengar lagi penuturannya.

Menurut pak Ihsan, BB justru merupakan perusahaan yg paling tidak peduli dg karyawannya (sopir2nya), ketika aku tanya kenapa beliau tidak pindah ke BB. Apa sebab? Menurut beliau, sistem komisi yg diterapkan BB, justru membuat sopir jadi malas. Asal sudah memenuhi setoran, sudah merasa tenang. Sementara pak Ihsan berkata, di ET, beliau bisa banting tulang, karena yakin bahwa duit2 yg masuk akan jadi haknya.

Selama perjalanan, aku mendengar dg tekun omongan pak Ihsan ini.

Pak Ihsan menyatakan bahwa ET sedang kebanjiran lamaran kerja dari sopir2 BB. Hal ini disebabkan karena banyaknya permintaan taksi ET oleh para pelanggan. Eh, ternyata, pak Ihsan ikut mengkritik manajemen ET. Menurutnya, manajemen ET masih kurang handal di bidang pelayanan terhadap pelanggan. Sulitnya mengontak ET adalah salah satu hal penting yg 'diabaikan' oleh manajemen ET.

Usai memberikan ongkos taksi, seraya berjalan ke rumah kontrakan, aku merenungi kembali ucapan pak Ihsan. Terkadang orang salah sangka dg apa yg dia lihat. Di balik 'kenyamanan' yg ditawarkan perusahaan, ternyata hal itu justru BISA 'membunuh' agresivitas dan daya juang seseorang.

So, jangan terlalu mikir2 muluk ttg suatu perusahaan...nanti kecewa lho..!!xixixi..siyul2