Besok, 20 November 2007, setahun sudah aku (dan Wify) menyandang jabatan kontraktor. Well...sebuah jabatan yg MUNGKIN tidak prestisius, bahkan bisa jadi memalukan bagi banyak orang. Tapi, bagi kami berdua, toh tidak masalah, malah menjadi sebuah tantangan bagi kami berdua.

Jadi, hampir setahun yg lalu, kami berdua sepakat untuk meninggalkan tempat kos yg sempat menjadi rumah sementara kami, usai pernikahan. Banyak alasan mengapa kami berdua memutuskan sesegera mungkin cabut dari tempat kos, namun yg jelas, kami tidak ada konfrontasi/masalah dg ibu kos.

Alasan-alasan yg menjadi pertimbangan kami menjabat kontraktor:
1. Sewa kos yg terlalu mahal.
Ini faktor utama mengapa kami memutuskan cepat keluar dari tempat kos. Bayangkan, harga sewa SATU KAMAR KOS (dilengkapi dg 2 tempat tidur, lemari) sebesar Rp 650 ribu/bulan. Ini belum termasuk peralatan listrik, masing2 sebesar Rp 25ribu/peralatan. Jadi misalnya kami memasang tv, kipas angin, laptop, printer, berarti tambahan Rp 100rebu/bulan mesti disiapkan.

Mahal buanget kaaann...??

2. Privacy yg terbatas.
Sebagai keluarga baru, jelas kami butuh privacy lebih daripada penghuni kos lain yg masih membujang. Repot banget tooohhh?? siyul2 Belum lagi jika anak2 pemilik kos ber-wik en-ria di rumah si ibu kos. Wah, makin repot saja...

Padahal kan kita juga pengen asik2an berdua tooh??love struck

3. Duit habis 'ga jelas'.
Terus terang, duit kami berdua jadi habis ga jelas, terutama karena poin 1 (untuk biaya2 tambahan) itu. Bayangkan, jika kami hendak beli kulkas, dan peralatan elektronik lainnya. Bisa2 untuk barang elektronik yg dayanya makin gede, duit yg keluar bukan lagi Rp 25k/bulan, mungkin bisa Rp 100k/bulan.

4. Penggunaan barang2 yg terbatas.
Sebenarnya ibu kos ini masih rada2 baek, masih membolehkan para penghuni kos untuk menggunakan beberapa peralatan elektroniknya. Namun tetap saja ada batasan. Seperti mesin cuci, aturannya repot banget. Sementara kalo kami hendak beli, yaa...kepentok lagi masalah tambahan biaya.

Akhirnya, kami berburu rumah kontrakan, dan kami dapatkan sebuah rumah kontrakan yg sederhana serta cukup mungil. Tipe 21, barangkali memang tidak cukup bagi sebagian orang, tapi bagi kami berdua, justru dipacu untuk belajar menghargai.

So, setelah nego dg induk semang alias pemilik rumah, per-20 November 2006 kemarin kami pindah. Beres2 jelas dilakukan. Beli barang ini itu menjadi rutinitas, terutama karena Wify ingin sekali rumah pertamanya (meski ngontrak) ditangani sendiri. Berbagai aturan langsung dikeluarkan oleh menteri urusan rumah tangga.ngakak

Setelah setahun, terasa benar aturan bu Menteri ini sangat berguna. Kondisi rumah yg rapi jali dan senantiasa bersih membuatku semakin betah di rumah. Terutama kerja keras serta ketegasan bu Menteri membuatku makin menyayanginyamuah2.

ps: untuk Wify alias bu Menteri Urusan Rumah Tangga, terima kasih banget untuk omelan2 dan aturan2nya. Jangan kapok negur Pak Presidennya ya??