Seperti diketahui bersama, bumi yang kita diami sekarang sedang menderita 'penyakit' yang cukup berbahaya, yakni penyakit pemanasan global (bahasa kerennya sih GLOBAL WARMING). Efek yang paling terasa dari pemanasan global ini adalah kacau balaunya iklim di negara2 di seluruh dunia serta mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan serta salju2 abadi di gunung2.

Sudah banyak tindakan dan usaha yang dilakukan untuk mengatasi pemanasan global ini, termasuk dengan mendirikan organsisasi pemanasan global. Bahkan Al Gore sendiri berhasil meraih nobel Perdamaian dari aktivitasnya menanggulangi pemanasan global (aneh juga, bergerak di bidang lingkungan kok bisa dapat nobel perdamaian?bingung).

Indonesia, negara yg kita ini, tidak luput terkena efek pemanasan global ini. Sudah beberapa tahun terakhir ini, musim kemarau dan musim hujan, 2 musim yg dominan di negara kita ini, sudah amburadul jadwal hadirnya.

Kita sudah hafal, bahwa bulan2 yang berakhiran -ber identik dengan musim hujan. Jadi, mulai bulan September, musim hujan sudah mulai wakuncar ke Indonesia, menyapa para petani yg sudah sekian lama ditinggalkannya serta (seperti biasa) membuat penduduk Jakarta bersiaga karena 'mbak' banjir akan datang di tengah-tengah mereka.cekikikan

Hingga pertengahan 80an, aku masih ingat, menjelang bulan September, yang namanya jas hujan mulai dipajang, penjualan payung meningkat. Musim hujan akan 'berakhir' seiring dg tahun baru Cina, Imlek, datang. Sekitar bulan Maret-April, giliran 'mas' kemarau yang datang.

Aku masih ingat, saat kemarau datang adalah waktu-waktu yang menyenangkan untuk berenang, main layangan, dan aktivitas di luar rumah. Terlebih lagi jika liburan sekolah tiba. Walhasil, saat musim sekolah tiba, ketika kita berbaris untuk upacara, akan terlihat siapa2 saja yg kulitnya bertambah gelap.ngakak

Ok..ok...kita hentikan nostalgia itu..kita kembali ke masa sekarang.

Hari Sabtu pagi lalu, aku berangkat ke client untuk lembur *halah...*. Berangkat jam 12.05 WIB, aku dapati daerah di sekitar Kalibata - Warung Buncit diguyur hujan sejak pukul 10.40an WIB. Walhasil aku memilih menggunakan sepatu sandal daripada mengenakan sepatu.

Menempuh perjalanan sejauh 2-3 km menuju arah Kuningan, saat memasuki daerah perempatan Mampang-Kapt Tendean, aku dapati daerah itu KERING. Matahari masih bersinar meski malu2. Sementara ketika aku tengok ke belakang, awan mendung masih menggelayuti Warung Buncit.

Cerita tidak berakhir di sini.

Memasuki daerah Kuningan, tepatnya di belokan menuju RNI, aku melihat jalan2 di depanku basah merata...dan benar saja, aku ternyata memasuki daerah hujan...!!

WAH, APA2AN INI..??!! SEBUAH GEJALA CUACA YG BENAR2 TIDAK LAZIM!!

Bagaimana tidak lazim, jika sebuah daerah 'kering' diapit 2 daerah dengan hujan yang cukup deras!! Dapat dibayangkan bagaimana bingungnya para motoris, karena badan mereka mesti merasakan 2 jenis cuaca yg ekstrim dalam waktu yg cukup singkat. Tidak heran banyak motoris yg jatuh sakit dengan perubahan cuaca seperti ini.

Aku sendiri masih bersyukur melewati daerah basah-kering-basah. Bisa dibayangkan jika melewati daerah basah-kering. Akan banyak orang terbengong-bengong melihat aku mengenakan jaket dan jas hujan yg basah kuyup, sementara daerah di situ kering kerontang. "Aih, ada motoris gila yg baru kecemplung lewat..." Mungkin begitu pikiran mereka.ngakak

Well...mari kita ikut berpartisipasi dalam 'mengobati' bumi ini dari penyakit global warming. Caranya mudah, memperbanyak menanam pohon, mengurangi pemakaian sumber-sumber alam secara berlebihan, serta mulai menggunakan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.

*gambar diambil dari sini dan sini*