Seperti biasa, usai Lebaran merupakan momen bagi para warga daerah untuk berbondong-bondong datang ke Jakarta. Tujuannya? Apalagi jika bukan untuk mengadu nasib, mencari penghidupan yg lebih baik. Penyebabnya? Banyak sekali. (1) Usaha yang dilakoni di kampungnya sudah tidak memadai lagi untuk menutupi biaya hidup, (2) Tergiur dengan keberhasilan teman/kenalannya yang bekerja di kota, (3) Sudah tidak punya apa2 lagi di kampung, karena sawah dan rumahnya sudah pindah tangan.

Walhasil, di stasiun kereta api dan terminal bus, kita akan bisa (dengan mudah) dapati sosok-sosok (maaf) ndeso. Ada yg duduk di atas barang2 bawaannya, adapula yang celingukan kiri kanan (barangkali mencari penjemputnya), ada juga yg melangkah dg pasti (tapi entahlah, apakah dia memang sudah yakin dg tujuannya atau jangan2 malah nyasar?).

Eitss...bukan berarti hanya saudara2 kita dari kampung saja yg menuju Jakarta. Banyak juga orang2 dari pelosok, yg cukup berpenghasilan, ikut meramaikan Jakarta. Tentu saja, mereka masuk Jakarta melalui jalan yg lebih bergengsi...pelabuhan udara.

Pemerintah DKI sendiri memperkirakan lebih dari 100 ribu orang (baru) mendatangi Jakarta usai Lebaran. Banyak pihak yg tidak yakin dg angka itu, karena mereka menduga bahwa angka sebenarnya minimal 2-3 kali dari itu.

Operasi Yustisi (operasi razia ktp) langsung digelar dan dijadikan senjata ampuh (tapi melempem) oleh pemda DKI. Tanggal 1 dan 8 November 2007 lalu, aparat pemda DKI melakukan razia terhadap rumah2 kontrakan dan tempat2 kos di (hampir) seluruh wilayah Jakarta. Hasilnya memang ada, ratusan orang terjaring razia ini di tiap daerah. Bahkan ada yg terjaring hingga mencapai ribuan.

"Berarti metode ini ampuh kan?"

Eittss...jangan salah. Seperti yg aku tulis di atas, metode ini masih melempem. Apa pasal? Karena yg terjaring operasi ini hanyalah RIBUAN...bandingkan dg (perkiraan) jumlah pendatang yg RATUSAN RIBU. Selain itu, orang2 yg terjaring razia kebanyakan orang2 yg tinggal di kontrakan yg tidak memadai. Dengan kata lain, para warga di perkampungan kumuh saja yg mayoritas terkena razia ini.

Padahal, aku yakin, masih boanyaaak para pendatang lain yg sebenarnya bisa terjaring. Aku tidak tahu persis kenapa hanya ratusan pendatang saja yg terkena razia? Barangkali jam razianya yg terlalu siang? Karena dari berita, razia dilakukan jam 9-10 pagi, yg notabene orang2 sudah banyak yg berangkat kerja. Bisa jadi orang2 yg pergi pagi2 itu yg ga punya ktp Jakarta, heheh..

Aku sendiri menilai operasi yustisi tidaklah efektif, mungkin malah tidak bermanfaat jika memang tujuannya hanya menjaring para pendatang/orang2 yg tidak punya KTP. Selain karena hukumannya yg cenderung ringan (7 hari dipenjara atau BAYAR UANG DENDA RP 20 RIBU), banyak para pendatang yg tidak memiliki katepe dikarenakan HARGA PEMBUATAN KTP YG MAHAL!!

Bayangkan saja, biaya pembuatan ktp di Jakarta bisa mencapai Rp 250 ribu!! Bandingkan dengan pembuatan ktp di Bandung, Rp 10 ribu saja!

Jelas....orang2 mikir sekian ratus kali untuk mengeluarkan uang, yg cukup banyak, untuk mengurus ktp ini. Apalagi bagi para kontraktor, yg pindah rumah tiap sekian waktu, uang sebesar itu bisa dipakai untuk biaya kontrakan.cekikikan

Karenanya, daripada hanya mendenda para pemukim Jakarta yang tidak memiliki KTP, lebih baik pemda DKI juga langsung menyediakan fasilitas pembuatan KTP, pada saat menggelar operasi Yustisi itu. Resikonya jelas, penduduk DKI Jakarta akan kian membludak. Namun setidaknya pemda DKI memiliki data yg cukup valid.

Namun, bagaimanapun, ktp ini memang masih diperlukan, minimal di Indonesia. Jadi, jangan sungkan untuk membuat KTP Jakarta ya?! Agar tidak kena razia di jalanan!!nyengir

*ps: semua gambar dan foto diambil tanpa ijin dari situs2 yg tertera pada lokasi foto/gambar.