Sudah sebulan ini, di mailing list IA ITB Jakarta ramai sekali bursa dan kampanye calon ketua IA ITB (Pusat). Berbagai postingan, penting dan ga penting (terutama di bagian debat kusir), hanya membuat inbox-ku penuh.

Terus terang, aku tidak terlalu antusias dengan event pemilihan ketua IA ITB (bahkan cenderung skeptis). Jabatan ketua IA ITB seringkali dimanfaatkan untuk kepentingan2 sesaat yg hanya menguntungkan ketua IA ITB dan konco2nya. Sementara sekian banyak alumni ITB yg telah menyumbangkan suaranya, dibuang ke recycle bin, seperti kata pepatah "habis manis sepah dibuang".

Banyak sekali cara untuk menarik perhatian para pemilih. Dari sekian banyak cara, cara makan2 (gratisan) adalah cara yg masih efektif (namun tidak bagiku). Kebetulan, saat kampanye (terselubung) ini digelar, bulan Ramadhan juga tiba. Walhasil, berbagai undangan makan2 gratis disodorkan para calon kandidat ketua IA ITB. Aku sendiri dapati, lebih kurang dari 10 undangan makan2 mampir, baik di inbox maupun di handphone. Tentu saja bukan kandidat yg langsung mengundang, melainkan para punakawannya.siyul2

Aku sendiri bukan termasuk orang yg tergiur dg makan gratis seperti itu. Apalagi aku sendiri melihat, IA ITB cenderung TIDAK BERMANFAAT BAGIKU, baik langsung maupun tidak. Aku melihat peran IA ITB tidak cukup banyak, selain hanya ajang hura2 sesaat. Event2nya pun tidak sering aku dengar, setidaknya di milis ITB tidak cukup banyak informasi yg aku dapatkan mengenai event IA ITB.

Sekarang sedang diobral janji oleh masing2 calon kandidat...dan aku sudah cukup muak dg segala obral janji2 itumual Juga yg dilakukan oleh para tim kampanyenya. Seringkali cara yg mereka lakukan sangat tricky. Meski demikian, aku jauh lebih tidak suka dg para penjual suara (broker suara).

Apa itu broker suara?

Broker suara semula aku pikir hanya isu, namun ternyata keberadaan mereka sesungguhnya real alias nyata. Para broker suara ini biasanya menyebarkan formulir2 dan selebaran2. Isinya sih, katanya,
alumni ITB mesti mengisi data untuk database. Namun, sesungguhnya, data para alumni ini yg akan dijual kepada salah satu calon kandidat.

Aku tidak tahu persis berapa bayaran per-data alumni. Namun, jika merujuk pada isu yg sempat aku dengar, harga data per alumni bisa mencapai Rp 50 ribu - Rp 100 ribu. Bayangkan jika si broker berhasil mengumpulkan data 60 orang alumni ITB...setidaknya Rp 6 juta masuk ke kantong. *pssttt...ini sih baru sekedar isu, tidak ada hitam di atas putih...jadi validitasnya masih sekitar 68% lah...hihihi...cekikikan*

Ah, intinya sih aku akan absen dari pemilihan ketua IA ITB. Penyebabnya jelas, IA ITB tidak memberikan manfaat buatku. So, buat apa aku mesti 'bercape-cape' mengikuti event ini?

Apatis? Halah...ga usah idealis lah ndul...!! Aku sih pragmatis saja deh...!!ayolah