*dari milis alumni ITB. Artikel lain ttg perbedaan 1 Syawal bisa dibaca di sini*

Rekan2 alumni ...

Saya ingin menyampaikan pendapat saya terhadap permasalahan yang cukup sensitif ini.

Tahun ini kita akan menjumpai lagi perbedaan hari raya Iedul Fitri 1428 H.

Kenapa saya bisa pastikan begitu? padahal pemerintah belum menetapkan kapan jatuhnya 1 syawal 1428 H?

Menurut perhitungan ahli astronomi yang diuraikan dalam harian Kompas tgl 12 September 2007 , posisi hilal pada magrib tgl 11 oktober 2007 nanti akan lebih kecil dibandingkan dengan posisi hilal pada tahun 2006 lalu. Jika pada tahun 2006 posisi hilal berada 4 menit 'dibelakang' tenggelamnya matahari ( sebagai penentuan awal hari qamariyah ) maka pada 11 oktober 2007 nanti posisi hilal berada sekitar 2 menit. Ini berarti posisi hilal nanti akan lebih kecil dibandingkan tahun lalu.

Sehingga kalau tahun 1427 H saja pemerintah- berdasarkan sidang isbats, dimana kebanyakan anggotanya mengikuti rukyat-menetapkan tgl 1 syawal yang berbeda dengan perhitungan hisab maka dapat dipastikan tahun ini pun akan berbeda pula.

Ahli hisab sudah menetapkan tgl 1 syawal 1428 H bertepatan dengan 12 Oktober 2007 karena menurut perhitungan hisab dan astonomi, hilal sudah terjadi (walaupun hanya 2 menit 'dibelakang' tenggelamnya matahari). Sedangkan ahli rukyat kemungkinan besar akan menetapkan 1 syawal 1428 pada tanggal 13 Oktober 2007, karena ahli rukyat kemungkinan besar tidak akan bisa melihat hilal dengan posisi sekecil itu.

Sering kita dengar suara2 yang menyayangkan kenapa sering terjadi penetapan 1 syawal ( atau ramadhan ) yang berbeda antara perhitungan hisab dan rukyat. Namun menurut saya sering komentar itu datang dari orang yang tidak mengetahui masalah pokoknya, sehingga akhirnya komentar itu menjadi kecaman terhadap ketidak-tegasan pemerintah.

Padahal perbedaan pokoknya adalah :

Menurut ahli hisab, permulaan bulan diawali dengan bergesernya ( sekecil apapun ) posisi bulan dari posisi berhimpit dengan poros bumi,matahari dan bulan. Dengan kata lain hilal bernilai positif.

Sedangkan ahli rukyat berpendapat awal bulan dimulai dengan 'dapat dilihatnya' bulan sabit.

Posisi bulan sabit yang memungkinkan untuk bisa dilihat, menurut ahli astronomi adalah jika hilal sudah mencapai ketinggian tertentu. Jika menggunakan teropong yang saat ini sering digunakan petugas Depag maka pernah seorang ahli astronomi mengatakan bahwa visibilitas hilal adalah jika mencapai ketinggian minimal 2 derajat. Sehingga jika hilal kurang dari 2 derajat maka tidak mungkin dapat dilihat oleh mata walaupun memakai teropong. Itu pun pada kondisi cuaca bersih tanpa halangan awan.

Dari perbedaan kedua sudut pandang tersebut maka dapat difahami bahwa sering terjadinya perbedaan penetapan 1 syawal itu disebabkan oleh posisi hilal yang walaupun bernilai positif namun masih terlalu kecil untuk bisa dilihat.

Satu2nya cara untuk menyamakan penetapan awal dan akhir ramadhan adalah Pemerintah harus mengajak semua pihak untuk membuat dan menyepakati satu kriteria yang sama tentang awal penanggalan .

Alternatifnya :

Pertama : disepakati kriteria untuk awal penanggalan adalah jika hilal sudah bernilai positif.

Kedua : disepakati kriteria untuk awal penanggalan adalah jika hilal sudah mencapai nilai tertentu ( misalnya 2 derajat, sehingga bisa dilihat, nilai ini masih bisa berubah tergantung kecanggihan alat yang dipakai ).

Alternatif mana yang akan diambil, tergantung kepiawaian Depag untuk mendiskusikannya dengan anggota sidang isbats.

Menyikapi hal ini saya ingin mengajak anda semua untuk menyimak pemikiran sebagai berikut :

Dalam hal penetapan kapan awal puasa dan kapan mengakhirinya, kaum muslimin mengacu pada Hadits Rasulullah SAW, yaitu shahih Bukhari - Muslim no 175, yang berbunyi sebagai berikut :
" Dari Abdullah bin Umar Rhadiyallahu Anhuma, dia berkata , 'Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : ' Jika kalian melihat bulan sabit, maka berpuasalah, dan jika kalian melihat bulan sabit lagi, janganlah kalian berpuasa. Jika pandangan kalian terhalang, maka tetapkanlah hisab',"

Dari keterangan lain kita tahu bahwa kewajiban berpuasa adalah pada bulan Ramadhan, sehingga untuk memudahkan pembahasan maka penetapan awal puasa kita ganti dengan 1 ramadhan dan akhir puasa berarti akhir ramadhan atau esok harinya adalah 1 syawal tahun Hijriah.

Tahun hijriah atau tahun Qamariyah didasarkan pada posisi bulan, bumi dan matahari. Atau lebih mudahnya kalau disebut posisi bulan dan matahari terhadap bumi, karena kita melihat dari bumi. Bumi berputar sambil mengelilingi matahari dan bulan beredar mengelilingi bumi. Oleh karena itu kita di bumi sering melihat posisi bulan dan matahari yang berbeda - beda, namun sebenarnya mengikuti suatu ritme yang tetap.

Firman Allah SWT dalam surat Yaasiin ( QS 036 ) ayat 38 sampai dengan ayat 40 berbunyi :
" Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui"

" Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah - manzilah, sehingga ( setelah dia sampai pada manzilah yang terakhir ) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua"

" Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing - masing beredar pada garis edarnya".

Demikian pula dalam surat Yunus ( QS 10 ) ayat 5 dan ayat 6 , Allah SWT berfirman :
" Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah - manzilah ( tempat - tempat ) bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan ( waktu ). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda - tanda ( kebesaranNya ) kepada orang - orang yang mengetahui."

"Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar - benar terdapat tanda - tanda ( kekuasaanNya ) bagi orang yang bertaqwa."

Selanjutnya Allah SWT juga berfirman bahwa diperlihatkannya tanda - tanda kekuasaanNya kepada manusia agar manusia menggunakan akalnya.

Surat Ali Imran ( QS 003 ) ayat 190 :
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda - tanda bagi orang yang berakal ".

Dari hadit dan ayat2 Al-Quran diatas dapat kita fahami bahwa :

1.. Allah SWT dalam Al-Quran menjelaskan bahwa
1.. Penetapan waktu ( hari,bulan,tahun ) adalah didasarkan pada peredaran matahari,( bumi ) dan bulan.
2.. Matahari dan bulan beredar secara teratur.
2.. Allah SWT menyampaikan bahwa kejadian alam merupakan tanda - tanda bagi orang yang berakal.
3.. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa penetapan tanggal 1 ramadhan adalah jika bulan sabit sudah dapat dilihat dan penetapan akhir ramadhan adalah jika bulan sabit ( berikutnya ) terlihat lagi.

Dengan perkataan lain Rasulullah SAW ingin menjelaskan bahwa permulaan perhitungan bulan dimulai dengan kemunculan atau terlihatnya bulan sabit.

Dalam siklus peredaran bulan mengelilingi bumi bulan sabit merupakan posisi awal setiap bulan. Posisi tengah adalah bulan purnama dan kemudian posisi akhir adalah bulan sabit lagi dengan bentuk yang terbalik dibandingkan posisi awal. Dalam Al-Quran ( QS 036:39 ) disebut 'kembali sebagai bentuk tandan yang tua '

Hadits Rasulullah SAW itu merupakan suatu kalimat yang sederhana namun cukup jelas sebagai petunjuk bagaimana kita menentukan awal dan akhir bulan (bandingkan dengan sistim penanggalan Syamsiah yang tidak mempunyai tanda permulaan awal bulan).

Namun , sebagaimana juga diingatkan oleh Allah SWT bahwa matahari dan bulan beredar secara teratur dan kita harus menggunakan akal kita,maka penentuan awal dan akhir bulan dapat juga dilakukan dengan perhitungan.

Pada zaman Rasulullah SAW, ilmu astronomi belum berkembang sehingga satu - satunya cara untuk menentukan awal bulan adalah dengan melihat secara langsung munculnya bulan sabit.

Namun pada masa kita sekarang ini, ilmu astronomi apalagi didukung dengan teknologi penginderaan jauh dan sistim informasi maka siklus peredaran bumi dan bulan sudah dapat dihitung dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi.

Salah satu buktinya adalah kejadian gerhana bulan atau gerhana matahari sudah bisa diketahui beberapa tahun sebelumnya dengan tingkat akurasi yang cukup tepat ( perbedaan waktu hanya dalam bilangan beberapa menit).

Dalam hal lain, misalnya dalam penentuan waktu shalat fardu - yang tadinya juga didasarkan pada kejadian alam ( posisi matahari )- kita sudah mau menggantikannya dengan jam. Artinya sudah dilakukan perhitungan posisi matahari setiap hari dalam setiap bulan dan memindahkannya dalam susunan waktu yang dinyatakan dalam satuan jam. Kita tidak lagi memerhatikan posisi matahari untuk melakukan shalat.( kecuali dalam keadaan tidak ada jam ). Misalnya shalat Zhuhur jam 11.58, shalat Ashar jam 15.10 dst.

Dalam kegiatan sehari - hari untuk hal - hal yang berhubungan dengan dimensi ruang ( spatial ) kita sudah sangat mempercayai teknologi.

Dulu mungkin kita tidak tahu dimana lokasinya Red Square, Moscow dan berapa jauhnya jarak dari kita di Bandung kesana. Tetapi sekarang dengan meng-klik Google map kita dengan mudah dapat 'melihat' dimana itu Red Square,Moscow dan berapa jaraknya dari tempat kita.

Dan dengan perantaraan satelit pula, sekarang kita dengan mudah dapat 'melihat' Ka'bah al-Muqarromah, bangunan yang berdimensi tidak lebih dari 25 m x 25m, padahal jarak yang memisahkan lebih dari 5000 km.

Jangankan jarak 5000 km, benda yang berada pada jarak yang lebih dari itu pun sekarang ini sudah bisa 'dilihat'. Kita di planet Bumi ini sudah bisa 'melihat' kondisi di ruang angkasa yang jaraknya ratusan ribu km secara 'on-line'.

Kalau teknologi sudah memungkinkan kita untuk mengetahui posisi bulan dan matahari secara tepat, kenapa kita masih mempertahankan kaidah lama (melihat dengan mata telanjang ) dalam menentukan awal bulan?

Bukankah dengan demikian kita tidak mensyukuri nikmat Allah SWT berupa akal dan pikiran yang sudah Allah SWT berikan pada kita? Padahal Allah SWT sudah berulang - ulang mengingatkan agar kita memikirkan kejadian alam sebagai petunjuk bagi orang yang berakal!.

Menurut saya, memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk menentukan awal dan akhir bulan tidaklah bertentangan dengan hadits Rasulullah ( Bukhari - Muslim no 175 ) yang disampaikan di awal tulisan ini.

Bandingkan dengan hadits tentang waktu - waktu shalat fardu yang diantaranya adalah hadits Bukhari - Muslim no 46 yang berbunyi :
" Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, 'Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Zhuhur pada tengah hari yang terik dan Ashar ketika matahari dalam keadaan bersih, dan shalat Magrib ketika matahari sudah terbenam, dan shalat Isya tidak tetap waktunya.Jika beliau melihat mereka berkumpul, maka beliau menyegerakannya dan jika beliau melihat mereka terlambat, beliau mengakhirkannya, dan beliau shalat Subuh ketika fajar sudah menyingsing."

Bandingkan juga dengan hadits tentang larangan berpakaian sutra bagi laki - laki dan larangan minum dengan menggunakan bejana emas dan perak, sebagaimana ada dalam hadits Bukhari - Muslim no 393 sebagai berikut :
"Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, dia berkata,'Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,'Janganlah kalian mengenakan sutra halus dan sutra kasar, dan janganlah kalian minum dengan menggunakan bejana emas dan perak, janganlah kalian makan dengan piring emas dan perak, karena yang demikian itu bagi mereka di dunia dan bagi kalian di akhirat."

Penjelasan dari hadits itu adalah bahwa pengenaan kain sutra bagi laki - laki dilarang karena kain sutra hanya untuk wanita dan bersifat perhiasan, sehingga jika laki - laki mengenakan sutra maka akan mengesankan sifat kewanitaan atau menyerupai wanita yang senang terhadap perhiasan. Sedangkan larangan makan atau minum memakai bejana emas dan perak adalah karena hal itu mencerminkan kemewahan dan kesombongan.

Namun pada masa sekarang, terutama untuk kain sutra tidak lagi monopoli kaum wanita. Banyak baju sutra, misalnya batik sutra yang tidak mencerminkan kewanitaan sehingga banyak dipakai para lelaki.

Dari contoh - contoh diatas saya ingin mengatakan bahwa pemanfaatan pengetahuan dan teknologi dalam implementasi hadits tidak serta merta mengingkari hadits tersebut. Kita tetap bisa berpegang kepada intisari atau maksud dari hadits tersebut. Kita memahami bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dengan melihat bulan sabit adalah mulai berpuasa pada awal bulan bukan pada hari - hari setelahnya dan mengakhirinya jika bulan berikutnya sudah dimulai.

Bandung, 25 Ramadhan 1428 H.

Iyus Ruswandi