Kamis malam kemarin, aku dan Wify berkesempatan menonton film Indonesia baru, yg bebas dari hal2 tidak masuk akal serta (terlalu) membodohi penonton. Film yg aku maksud adalah film "Get Married". Judulnya memang berbau Inggris...entahlah, apakah sang sutradara (Hanung Bramantyo) dan produser (Chand Parwez Shervia, alhamdulillah, bukan klan Punjabi, ahak..ahak..ngakak) tidak mempunyai judul alternatif hingga 'harus' dan memaksakan diri untuk memasang bahasa Inggris sebagai judul mereka.

Film ini cukup lucu...setidaknya untuk beberapa aspek lebih baik dari film ini. Peran dan akting Agus Ringgo juga lebih bagus, meski tetap saja penempatan tokoh Agus Ringgo tidak pernah jauh dari hal yg konyol dan cenderung 'tidak berotak'. Namun, dibandingkan dengan Nagabonar Jadi 2 sih, yaaa...film in masih kalah level, barang 1-2 tingkat lah. Ga terlalu buruk kok!

Ok, aku hendak bahas film ini. Hati2, banyak spoiler, jadi bagi yg ingin menonton dan tidak mau terganggu dg bocoran2 di artikel ini, lebih baik tidak usah membaca artikel ini. Segera tinggalkan artikel ini..!! INI SERIUS LHO!!nyengir

Film ini diawali dg kelahiran (yg hampir bersamaan) 4 tokoh utama, yakni Mae (Nirina Zubir), Guntoro (Desta club 80s), Eman (Aming) dan Beni (Agus Ringgo) di sebuah rumah sakit. Keempatnya tumbuh bersama di lingkungan (kampung) yg sama, mulai dari masa penyusuan, SD, hingga kuliah dan 'nyaris lepas' dari ortu.

Namun dari keempatnya, jalan hidupnya berbeda abiiszzz...alias tidak ada 1 pun dari mereka yg berhasil meraih cita-citanya. Mae, yg bercita-cita menjadi polwan, malah lulus dari sekolah sekretaris. Guntoro dikisahkan lulusan IT namun punya panggilan jiwa ingin menjadi pelaut. Eman sendiri jebolan pesantren, yg menderita buta warna (hanya bisa melihat warna merah). Sementara Beni adalah petinju gagal, yg beralih ke menanam pisang.

Meriam Bellina dan Jaja Miharja selaku Ibu dan Bapak Sumardi, orang tua Mae, merasa khawatir dengan perkembangan anak perempuannya (anak tunggal) yg meski sudah lulus kuliah, namun masih menjadi beban ortunya (karena tidak bekerja). Hal ini diperparah dengan kecenderungan sifat tomboy serta cukup urakan, membuat orang tuanya khawatir dan yakin bahwa anak perempuannya akan menjadi perawan tua.

Singkat kata, proses perjodohan dimulai dan semua kandidat yg maju, GAGAL TOTAL. Penyebabnya tidak saja Mae tidak sreg dg calon2 yg diajukan ortunya, namun ketiga sohib kentalnya ikut2 ngerjain para calon kandidat (dimulai dg bullying dan berakhir dg penonjokandzigh).

Proses bullying terakhir mereka lakukan pada calon terakhir, Rendy (Richard Kevin), yg sebenarnya sudah menyukai dan disukai Mae. Akibatnya Rendy pun mundur dari proses pengajuan diri sebagai calon suami.

Karena usaha perjodohan selalu gagal, bu Mardi jatuh sakit keras. Penyakit ini sembuh setelah Mae (dg terpaksa) menerima Beni sbg calon suaminya setelah 2 kandidat lainnya (Guntoro dan Eman) menderita 'kutukan' demam tinggi. *selama proses pemilihan inilah, gelak tawa riuh terdengar...dijamin kocak banget!!!*

Bullying yg dialami Rendy ternyata berbuntut panjang...tawuran massal terjadi antara golongan orang kaya vs orang miskin. Adegan tawurannya pun sangat kocak...sampai ngakak puoooll...!! Bahkan sampai perut terguncang-guncang!!ngakakoh go on

Dan film pun berakhir dengan HAPPY ENDING....!!! Penasaran dg happy endingnya? Tonton sendiri yeee...hahahaah...nyengir