Sejak bekerja, belum pernah sekalipun aku mendapatkan latihan evakuasi bencana, termasuk gempa. Penyebabnya jelas, kantorku tidak pernah menempati gedung2 pencakar langit, yaa...katakanlah lebih dari 5 lantai, yg memang sudah mempunyai standar keselamatan yg cukup tinggi bagi para tenant (penyewa).

Namun, syukurnya aku tidak terlalu 'buta' untuk kasus2 bencana. Maksudnya, apabila terjadi suatu bencana, aku sedikit banyak cukup tahu apa2 saja yg mesti dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Sebuah artikel yg cukup menarik dan mudah diikuti tentang cara2 evakuasi apabila terjadi bencana, bisa dibaca di sini. Artikel tersebut dibuat oleh orang Jepang, yg sudah cukup kenyang makan asam-garam dalam dunia pergempaan, karena lokasi negara mereka yg sering 'dimampiri' oleh gempa. Bahkan sebuah institut dibangun khusus untuk mempelajari gempa bumi yg sering melanda Jepang.

Sore ini, di Jakarta terjadi gempa, sebagai efek dari gempa yg terjadi di Bengkulu (beritanya di sini).

Aku sendiri saat itu baru tiba kembali di client di daerah Setiabudi, setelah selama 4 jam lebih mampir di client di daerah Thamrin. Ruang kerja sudah kosong, karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 6 sore. Setelah menyalakan lagi laptop dan membaca beberapa pesan dari beberapa teman, aku mulai menata hasil kerja.

Namun, baru 10 menit mengetik, aku merasakan ada yg aneh. Mendadak terdengara suara kayu/papan patah. Kretek...kretekk... Semula aku tidak terlalu peduli. Namun, suara ini diikuti dg suara dinding dipukul-pukul. Hingga saat itu, aku masih berpikir,"Siapa sih orang iseng yg mukul2 dinding?? Ga ada kerjaan banget!!"

Aku baru menyadari bahwa itu gempa, ketika aku berdiri, hendak mengambil minum. Jalanku sedikit sempoyongan...dan ketika aku lihat langit2 ruang kerja dan dinding, terlihat ada beberapa bagian tembok dan dempul berjatuhan.

"YAIKKKKSSS....GEMPAAAAA...!!!"
*eh, kemana aje loe?™*

Segera aku lihat kondisi sekitar. Laptop langsung dihibernate, cabut kabel, masukkan laptop ke dalam tas. Raih dan kenakan jaket, lalu sambar helm. Gendong tas (+laptop).

Saat keluar ruang kerja ternyata sudah ada 4 orang clientku yg 'bengong' di selasar. Mereka saling berpandangan.

"Gempa ya?" tanyaku, memastikan.
"Betul, pak Fahmi...."jawab ibu D.

"Keras juga nih gempanya..." *ini ga jelas siapa yg bicara*

Sementara kami berlima berpandangan, dari ruang sebelah kian terdengar suara papan patah. Kretek...kretek..

Lalu keluarlah boss client. Beliau menyuruh anak buahnya untuk segera bergegas turun, seraya meneriakkan agar peralatan elektronik dimatikan terlebih dahulu.

Aku sendiri sudah ngacir duluan, ga perlu nunggu instruksi...keburu ada apa2, yaaaa...apes lah.

Seraya membetulkan letak tas, aku bergegas ke TANGGA DARURAT. Ternyata sudah ada sekitar 20 orang yg menuruni tangga darurat. Dengan sedikit tergesa-gesa namun tetap teratur, kami turun. Hingga lantai 9 (oya, aku dari lantai 12), gempa masih terasa. Ini bisa dirasakan dari getaran yg terasa.

Kian ke bawah, kian banyak orang yg bergabung. Ada beberapa hal yg lucu terjadi, lumayan untuk meredakan ketegangan.

"Sahur...sahuuuurrr..."
*ada yg berteriak demikian*

"Eh, gw tadi lagi boker....gara2 gempa, gw naekin lagi deh.."
"Gile loe...jorok juga ya..??"
*ada obrolan orang2 dari lantai 8 atau 7, aku ga perhatikan*

"Aneh ya...kalo pas latihan gempa, kita ga pernah bergerak secapat ini...??"
*hahahah...kalo pas latihan gempa mah yaa...rileks lah...lha wong cuma bohongan. kalao sekarang masih rileks...yaaa...siap2 mateeeekkk...*

"Eh..aduh..copot saja deh sepatu..."
*omelan seorang perempuan yg menggunakan sepatu berhak tinggi...yg kemudian mencopot sepatu hak tingginya agar bisa berjalan lebih tenang*

Akhirnya setelah 10-15 menit menempuh tangga darurat, alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di lantai 1. Perjalanan yg mungkin terasa lama untuk menempuh 12 lantai dg tangga darurat, namun itu wajar karena cukup banyak orang yg menggunakan fasilitas tersebut. Segera kami menuju pintu keluar. Saat melewati daerah lift, aku melihat MASIH BANYAK ORANG YG MENGGUNAKAN LIFT untuk turun dari lantai mereka berasal.

Aku tidak terlalu ambil pusing, segera bergegas menuju pintu keluar. Saat tiba di pintu luar, lhoo...kok masih goyang2? Apakah gempanya cukp besar hingga membuatku cukup pusing. Segera aku tenangkan diri sejenak...lho, masih pusing? Saat dipikir2...owww..ternyata pusingnya karena menuruni tangga darurat yg bentuknya melingkar.halahada2 azaaa...

Tidak menunggu terlalu lama, aku segera menuju tempat parkir, mencari Red Banzai dan segera meluncur pulang.

Phewwww...meski belum pernah melakukan latihan gempa, aku bersyukur bahwa di saat terjadi gempa, aku tidak langsung panik serta teringat dg HAL 'TERPENTING'(?) apabila berada di gedung bertingkat, yakni TIDAK MENGGUNAKAN LIFT. Sempat terbayang olehku, jika aku menggunakan lift dan mendadak terjadi masalah dg lift. Hiyyyy...aku tidak berani membayangkannya.gigit2 jari

So, perhatikan dg teliti ya petunjuk evakuasi, terutama untuk bencana gempa.

Pihak BMG sempat menyatakan bahwa gempa yg terjadi di Bengkulu ini berpotensi tsunami, tapi untunglah ternyata tidak ada tsunami yg terjadi. Pihak BMG sendiri langsung mengeluarkan pernyataan untuk meralat pernyataan sebelumnya. Kita tidak bisa menyalahkan pihak BMG sebagai lembaga yg tidak bertanggung jawab atas peringatan tsunami ini (ahak...ahak...jadi teringat lagi kasus Meteorologi = ilmu tolol?), karena ada 3 syarat yg harus dipenuhi hingga BMG mengeluarkan peringatan tsunami ini:
1. Lokasi gempa di laut
2. Kedalaman gempa kurang dari 70 km (menurut berita, kedalaman gempa yg terjadi lebih kurang 10 km)
3. Kekuatan gempa lebih 6.3 skala Richter.

Ketiga 3 syarat di atas dipenuhi, otomatis BMG akan mengeluarkan peringatan bahaya adanya tsunami. Jadi, jangan salahkan ilmu meteorologi dan geofisika ya?!ada2 azaaa...

Artikel lain tanya jawab tentang gempa.