Sejak sekitar bulan Pebruari 2007 lalu, kantorku pindah lokasi, dari semula di daerah Benhil (Bendungan Hilir) pindah ke daerah blok S, di jalan Roy Suryo. Kepindahan kantor ini aku rasakan cukup menyenangkan, karena selain tempat makan lebih banyak pilihannya, lokasi lebih dekat dg rumah, serta ada spbu (pom bensin) di jl Suryo, sehingga aku tidak perlu repot lagi jika si Red Banzai (nyaris) kehabisan bensin.

Akan tetapi, sebuah fenomena aneh aku rasakan sejak mengisi bensin di SPBU Suryo itu. Biasanya, aku mengisi bensin (premium, bukan pertamax) Rp 10 rebu cukup untuk 3-4hari. Jika tidak ke client di daerah Thamrin, aku bisa 'mempertahankan' bensin hingga 4 hari, sebelum jarum berada di posisi garis sebelum E. Sementara jika ke client, yaa...3 hari sudah mencapai garis/posisi yang sama.

Nah, sejak sering mengisi di SPBU Suryo, aku jadi lebih sering beli bensin. Dalam waktu 3 hari (terkadang kurang) aku mesti ngisi bensin *bingung deh..*bingung. So, sejak bulan Mei 2007, aku lakukan penelitian kecil2an terhadap SPBU Suryo ini.

Aku lakukan perbandingan terhadap pengisian bensin di SPBU dan penggunaan Red Banzai. Metode perbandingannya gampang saja. Aku isi Rp 10rebu (2,22 liter) lalu aku cek jarum odometer (pencatat jarak). Untuk tahap pertama, aku lakukan pengisian bensin di SPBU Suryo. Hasilnya, si Red Banzai tercatat menghabiskan 2,22 liter itu untuk menempuh jarak 100 km!! Dengan kata lain, 1 liter ~ 50 km...!! Wah, GILA BENER...MASA MOTOR BELUM SETAHUN SUDAH MENJADI BOROS...??! Coba bayangkan dengan saat aku baru 2 bulan punya Red Banzai, dia menempuh jarak 180 km lebih dengan 3 liter-an.

Sebulan kemudian, per-Juni 2007, aku lakukan pengisian di SPBU dekat rumah, di daerah Mampang, dan SPBU di dekat Sabang. Dari kedua SPBU ini, aku dapatkan data bahwa untuk 2,22 liter bensin yg aku beli, dipakai Red Banzai untuk menempuh jarak 125 km-an! Atau dengan kata lain, 1 liter ~ 60 km lebih!!

Wah wah wah...aku mulai mencium ketidakberesan. Masa sih Red Banzai ga stabil menempuh jarak? Padahal rutenya yaaaa...gitu2 saja lah.mikir

Nah, kemudian aku mendapat email seperti berikut

Saya berbagi informasi untuk rekan-rekan semua, dimana saya merasa dicurangi saat pengisian Premium di SPBU 34-12108, yang berlokasi di Jalan Suryo No. 1 Blok S Jakarta Selatan pada hari Sabtu 21 Juli 2007.

Saat pengisian saya memakai mobil Jazz, dimana kapasitas tangki bahan bakarnya maksimal hanya 42 liter, dan saat itu lampu kuning (signal bahan bakar mau habis) belum hidup, artinya masih ada sekitar 5 liter premium di tangkinya.

Sewaktu pengisian yang dilakukan oleh petugasnya yang bernama Andi, meteran menunjukan angko 0 (nol).

Saya memperkirakan maksimal pengisian hanya 40 liter, namun sampai meteran penunjuk pengisian sampai 40 belum juga penuh, trus meteran penunjuk pengisian berjalan sampai angka 52, 43 L baru pengisiannya penuh.

Sama petugas saya bilang "Mas koq sampai 52 liter, kan tangki saya kapasitasnya hanya 40 liter."

Petugasnya menjawab "Pa' itu bukan urusan saya, saya hanya petugas pengisian, kalau bapak tidak terima lapor saja ke pimpinan saya di dalam, tapi bapak harus bayar dulu sesuai angka dimeteran".

Benar juga, dia hanya petugas, dan saya bayar sesuai petunjuk meteran sebesar Rp 236.000,-

Trus saya parkirkan mobil, dan saya masuk ke dalam kantornya yg diterima oleh sdr. Boyke Farry Lantang, dan saya minta pengembalian kelebihan pengisiannya.

Sdr Boyke menyatakan " Pak, saya tidak berwenang mengembalikan uang bapak, karena itu sesuai dengan yg dimeteran, sedangkan kita baru di "TERA" beberapa hari yang lalu.

Jadi, kalau dilihat dari angka2 diatas berarti ada pemalakan hak konsumen sampai 25% dari yg seharusnya. Kalikan berapa Ton Premium yang dijualnya dalam sehari, sebulan dan setahun. Sama saja SPBU ini dengan merampok konsumennya secara tidak langsung.

Saya berharap YLKI, dan PERTAMINA agar menindaklanjuti hal ini, dan mohon rekan2 yg punya akses dengan lembaga dan insatansi diatas dapat memforwardkan email saya ini.

Dan kepada Pemilik SPBU, semua data-datanya ada sama saya dan ditandatangani oleh petugas2 yang saya sebutkan diatas.

Rgds,

EDWARD
Honda Tendean
Jl. Kapt. Tendean No. 8, Mampang, Jak Sel.
021 719 5240

Lho, ternyata ada yg menyadari juga bahwa SPBU Suryo ini bermasalah....dan ternyata yg dia alami lebih parah. Hmmm...yg aku alami tidak ada apa2nya dibanding dengan yg om Edward ini alami. Dan yg lebih parahnya, kecurangan ini 'keterlaluan' banget.malu kamu, maluuu...

Wah, nampaknya memang lebih baik membeli bensin di SPBU lain saja. Meski kerugianku tidak seberapa, tapi jika aku terus menerus mengisi bensin di situ, berarti aku membiarkan petugas SPBU berbuat curang terus menerus...dan (terkesan) tidak ada tindakan dari Pertamina.

Slogan Pertamina "Anda Untung, Bangsa Untung" nampaknya perlu diganti...bahkan layanan masyarakatnya, yg menampilkan petugas SPBU mengisi bensin di sebuah mobil (yg pemiliknya menggoyang2kan mobilnya agar si bensin bisa 'full') perlu dibenahi juga. Bagaimana mungkin sebuah mobil dg kapasitas 40 liter bisa diisi dengan 52 liter?

Anda punya pengalaman yg serupa tapi tak sama? Maksudnya, apakah pernah dicurangi SPBU juga? Mari berbagi...