Di tengah penolakan kenaikan tarif jalan tol, aku justru berpendapat sebaliknya, yakni SETUJU dengan kenaikan tarif tol yg dilakukan oleh pemerintah dan Jasa Marga, selaku pengelola jalan tol. Kesetujuanku ini terutama karena:
1. Pemerintah memang mesti memenuhi/mengikuti aturan yg dibuatnya sendiri, sebagaimana tertera di Undang-Undang No 38 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2005 tentang jalan tol. Di kedua hal tersebut dituliskan bahwa kenaikan tarif tol harus berdasarkan hasil evaluasi terbuka terhadap masyarakat yang dilakukan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). *evaluasi terbuka ini, nampaknya pemerintah menggunakan inflasi sebagai tolok ukur*

2. Ini taktik pemerintah untuk memaksa para pemakai jalan tol beralih ke angkutan umum. Nampaknya ini taktik yg belum teruji, karena para pemakai jalan tol bisa saja menggunakan jalan biasa, atau malah menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi. Tapi, jika demikian, jalan tol akan lebih sedikit pemakainya, sehingga lebih lancar toh?cekikikansilly

3. Para pemakai jalan tol mesti lebih kreatif dalam menyiasatinya. Gunakan saja taktik nebeng bareng. Selain bisa 'menghindari' tarif tol baru, para pemakai jalan tol justru bisa meningkatkan income, karena mendapat income tambahan dari para pegawai kantoran yg nebeng di kendaraan mereka. Dalam sebuah acara, aku lupa nama acaranya, disebutkan bahwa komunitas nebeng-ers itu punya ikatan yg cukup kuat. Bahkan ada yg menemukan jodohnya dari situ.melet

Ketiga alasan di atas memang sangatlah subyektif, terutama karena aku bukanlah pengguna jalan tol (terutama jalan tol dalam kota). Hanya saja, melihat class action yg akan dilakukan oleh masyarakat pengguna jalan tol, termasuk ide tolol dari Republik Mimpi, bukanlah solusi. Mengapa? Ah, kaya ga tau kalo pemerintah kita ini memang suka seenak udelnya sendiri...mana mau mereka peduli? Dalam pikiran mereka kan para pengguna jalan tol (dalam negeri) sudah cukup kaya, karena para pengguna jalan tol jelas2 bermobil, sehingga mereka 'gampang' diporotin, lagian ga gede2 banget ini morotinnya.siyul2

Wapres sendiri mempertanyakan class action yg dilakukan masyarakat. Meski aku sendiri juga mempertanyakan kenaikan ini, apakah Jasa Marga sedang dituntut setoran yg cukup besar oleh pejabat pemerintah, terutama terkait dengan pemilu 2009? Toh, bukan rahasia lagi bahwa BUMN dijadikan sapi perah. Nah, kebetulan sekarang dirasakan sebagai momen yg tepat...dg menggunakan alasan 2 tahun belum ada kenaikan, otomatis setelah tarif naik, BUMN ini bisa disedot oleh para tikus keparat ini.dzigh

Hanya saja, kemarahan para pemakai jalan tol memang bisa dimaklumi. Selain ruas jalannya yg senantiasa macet, pelayanan yg diberikan pun masih jauh dari rasa nyaman. Penambahan ruas jalan baru tidak pernah dilakukan, padahal jika menghitung secara kasar, jalan tol ini ga pernah rugi...karena selalu saja ada yg memanfaatkan jalan ini. Selain itu, kenaikan ini memang 'gendeng', karena dilakukan menjelang Ramadhan tiba, yg otomatis akan membawa efek domino, yakni kenaikan harga di SEMUA barang, karena para pedagang akan berdalih bahwa barang dagangan mereka lewat tol.dzigh

Ya ya ya...pemerintah memang tidak bisa diharapkan. Kapan coba pemerintah bisa diharapkan? Mungkin pemerintah Orde Baru yg bisa diharapkan, karena bisa membuat harga2 cukup murah.siyul2

Tarif baru tol bisa di lihat di sini.