Sudah hampir 10 hari pasca gempa yg mengguncang pesisir Barat Sumater, yg dialami tidak hanya di Bengkulu dan Sumatera Barat, namun juga terasa di daerah-daerah lain. Bahkan aku juga mengalami gempa yg cukup dahsyat ini, alhamdulillah tidak menjadi korban.

Bencana yg menimpa hanya 1 hari menjelang dimulainya bulan Ramadhan 1428 H ini benar2 mengagetkan banyak pihak, terutama para saudara kita yg berdiam di Bengkulu dan Sumatera Barat. Kesulitan hidup yg mereka rasakan pasca naiknya harga2 barang2 ternyata masih diikuti dengan bencana gempa yg meluluhlantakkan tempat tinggal mereka serta menelan korban jiwa, yg meski tidak banyak, tetap saja menjadi momen kehilangan yg teramat sangat bagi mereka.

Bantuan segera datang dan diberikan dari segala penjuru. Syukurlah, masih banyak masyarakat yg peduli. Tanpa banyak cakap, bantuan uang, makanan, dan pakaian segera terkumpul. Pemerintah sendiri tidak tinggal diam, Presiden SBY dan Wapres JK serta beberapa menteri sempat berkunjung dan menengok secara langsung daerah korban gempa. Ya ya ya...sifatnya seremonial, tapi masih lumayan lah...setidaknya para pejabat ini masih mempunyai hati nurani dan berempati.

Sayangnya (secuil) hati nurani dan empati ini hanya dimiliki oleh para pejabat tinggi. Dalam sebuah tayangan di stasiun televisi, yg memberitakan kondisi korban bencana gempa, terlihat seorang pejabat 'ngamuk2' dan 'ngomel2' ga jelas mengenai bantuan, ketika ditanya mengenai distribusi bantuan yg masih tersendat dan belum terbagi merata.

"Saya pejabat [biiippp...]. Bantuan itu pokoknya mesti terkumpul...nanti saya akan [biiippp....]"

Lebih kurang demikian omelan si pejabat. Intinya, dia mesti kumpulkan semua bantuan itu...entah kapan dia akan distribusikan bantuan itu?auk ah...

Padahal sudah banyak korban yg begitu berharap mendapatkan bantuan, karena melalui berita (koran atau televisi) mereka juga mengetahui bahwa cukup banyak bantuan yg terkumpul. Namun, untuk mendapatkan bantuan yg 'sedikit' layak dan cukup saja sangat sulit.

Dalam berita itu juga diperlihatkan beberapa hal:
1. Korban membuang beras bantuan ke jalan. Alasannya sederhana. Korban bencana di daerah itu berjumlah sekitar 200 orang, sementara bantuan yg diberikan 'hanya' 5 karung beras. BENAR2 KETERLALUAN!! MANA CUKUP 5 KARUNG BERAS ITU MEMENUHI KEBUTUHAN 200 ORANG?

2. Seorang korban (kepala desa?) mesti mondar mandir sekitar 4 jam, sebelum akhirnya 'hanya' mendapat 5 buah terpal untuk korban di daerahnya yg dialami lebih dari 20 kepala keluarga.

3. Banyak pejabat daerah ikut mengungsi. Bweh, gila nih para pejabat...bukannya ngurus masyarakat malah ngungsi duluan!!
"Lho, saya kan manusia juga...wajar donk kalo saya ngungsi?"
"Ya sudah, kalo gitu anda berhenti saja menjabat!"

"Eh, enak saja...saya kan dapat amanat dari pemerintah untuk ngurus rakyat?"
"Tapi kok malah ngungsi?"

"Lho, saya kan manusia juga...wajar donk kalo saya ngungsi?"
*memilih diam...karena pembicaraan tidak akan pernah berhenti jika dilayani...*

4. (Dan seperti biasa) Bantuan masih banyak yg dikorup. Ya ya ya...insya ALLOH kalian akan mendapat ganjarannya, cepat atau lambat.

Untuk urusan penanggulangan bencana, nampaknya banyak pemerintah daerah mesti belajar dari pemerintah Sumatera Barat, yg mendapat pujian dari SBY karena dianggap sebagai pemerintah daerah yg tanggap terhadap bencana alam.