Pendapat itu bisa dibaca di sini.
Nampaknya ybs RS wannabe juga nich...hihiih...
Ada yg berminat mensomasi??

Berhubung ada yg tidak bisa melihat isi tautan, aku kuipes di sini saja.. Aku sertakan juga foto yang bersangkutan. Jika ingin membaca lebih santai, unduh filenya saja di sini,

Selasa, Meteorologi itu ilmu TOLOL

Kemaren all mi familia dateng ke Bandung.

Wiw, how I missed them so much! Gara-gara TA durjana itu gw nggak bisa kemana-mana akhir-akhir ini. Not even having a date sama Adjie. Dan dia juga sekarang ini lagi berkutat sama penyelesaian TA-nya. Tapi maaf ya sayang... batasnya tanggal 15. Dah lewat seminggu ^^, jadi gak bisa ganti ban... Hohohohoho

Anyway, kemaren juga adik gw memasukkan formulir untuk ikut SMUP. Gewh... makin parah aja dunia pendidikan sekarang. Gw harus bersusah payah untuk tidak memandang rendah adik gw sendiri karena dia juga mau nyoba masuk ITB lewat USM. Dan gw tidak terlalu berharap dia masuk ITB lewat jalan itu. Kalo iya, gw nggak akan berkata dengan bangga "Adik gw di ITB juga" *apalagi pilihan keduanya dia milih jurusan kelas menengah ke bawah... Planologi...dengan alasan karena banyak temennya (yang takut milih jurusan kelas atas) di situ*

At least gw berharap dia lolos lewat SPMB ajah. Soalnya gw nggak punya rasa hormat pada SETIAP mahasiswa yang masuk lewat USM. Dari masih remaja aja udah NGANDELIN DUIT ORANG TUA untuk BERSAING DI MASYARAKAT apa jadinya nanti kalo dia udah terjun langsung di masyarakat secara sesungguhnya?

Masuk kuliah bayar puluhan juta rupiah. Begitu lulus mau jadi apa? Mau kerja dengan pendapatan 2 juta rupiah maksimal per bulan? Mau kapan balik modal? Itu juga dapet kerjanya paling nyogok sana sini dengan koneksi ortu lagi. Atau koneksi kerabat. Cih. Jijik banget. Gak usah jauh-jauh, contohnya dateng langsung dari sepupu gw sendiri. Dia lulusan universitas gak terkenal di Jogja (dia kuliah disitu gara-gara banyak keluarga bokapnya yang tinggal disitu). Nganggur lama sampe nyaris putus asa, akhirnya kakek nenek dan om gw yang turun tangan masukin dia ke bank belakang ITB.

Hal yang sama terjadi pada adiknya yang tahun ini *sudah* masuk ITB lewat USM Daerah (mampus!) dimana nyokapnya curhat ke nyokap gw karena kelenger mesti bayar 45 juta rupiah. Rasain aja.

Ah, dan satu lagi...

GW SEMAKIN TIDAK MENGANGGAP BAHWA METEOROLOGI ITU ADALAH ILMU YANG PANTAS DIPELAJARI

Gw ngakak abis-abisan saat membaca di Metro TV bahwa Ahli Meteorologi dan Geofisika ITB Armi Susandi menyatakan bahwa gelombang pasang yang melanda seluruh pantai Indonesia sebenarnya telah diprediksi oleh para ahli astronomi...

Yeah, menurut pergerakan bintang Ursa Mayor dan berputarnya planet Uranus 45 derajat ke arah kiri, serta mulai masuknya kita ke rasi bintang Gemini maka laut akan pasang dan pantai Indonesia akan kena hempasan gelombang? Gitu?

Tolol banget.

Ilmu meteorologi itu tolol. Bukan ilmu yang worth untuk dipelajari di sebuah Institut Teknologi.

Lagian sepanjang penglihatan gw, yang namanya Badan Meteorologi dan Geofisika sejauh ini cuma jago buat ngeles. Mereka hebat dalam mengeluarkan excuses. Ramalan cuaca salah, dia bilang angin bergeser. Musim hujan telat datang katanya karena pemanasan global, musim kemarau nggak dateng-dateng padahal udah bulan Mei katanya cuaca abnormal akibat pergeseran anu anu ini inu asu. Saat di tengah kemarau di Jakarta, ada hujan turun dia bilang karena bertiupnya angin anu.

Padahal gw tahu saat itu ada orang kurang kerjaan yang lagi nurunin hujan dengan sengaja karena pengen ngetes efeknya.

Dan sejak saat itu gw tidak lagi menaruh perhatian terhadap ramalan cuaca apalagi para ahli meteorologi. Mereka semua TOLOL.

Lebih baik mereka belajar caranya merajut atau menyulam aja daripada belajar ngitung dan memperkirakan cuaca.

Balik lagi ke si Armi Susandi goblok itu. Dia nggak akan menyangka kalo tahu apa yang sebenernya terjadi di balik gelombang pasang yang ngancurin pantai-pantai di Indonesia. Dan either way gw nggak akan ngomong apa sebabnya disini karena gw ingin menghindari pendapat aneh-aneh tentang diri gw sendiri.

Meteorologi itu TOLOL.

Sekali lagi, TOLOL.

Kalo ada yang mau nantangin gw buat meng-kontra pendapat gw, ayo, gw persilakan. Nanti gw ajak adu ngeramal cuaca kalo perlu. Dimana gw yakin bakal menang, karena NGGAK ADA manusia biasa yang sanggup untuk mengerti jalan pikiran para pengendali cuaca.