Pada umumnya, di postingan yg ke-100, 500, 1000 atau angka2 'keramat' lainnya, si blogger akan menampilkan/memuat artikel yg sifatnya narsis, bahkan sampe ke demak jika diperlukan. Sayang sekali, aku bukanlah blogger pada umumnya, seperti yg aku sebut di atas, karena di postingan ke-1000 ini, aku malah berniat menulis artikel dg tema dan bahasan yg cukup serius. *halah...*halah

Sebenarnya ide artikel ini sudah aku siapkan agak lama, rencananya hendak aku muat di tgl 9 Februari mendatang untuk menyambut hari Pers. Namun, setelah sang pakar bikin heboh dan (bakal) bikin heboh lagi, nampaknya aku majukan saja penerbitan artikel ini.

Aku hendak bahas dulu media dan wartawan.

Sudah mafhum bagi banyak orang, bahwa menjadi wartawan (junior dan (menuju) menengah) harus mampu memenuhi kebutuhan berita bagi media tempat dia bekerja. Mengejar narasumber, konfirmasi dan cross check terhadap berita yg didapat, tenggat waktu yg kian dekat sementara bahan masih belum mencukupi untuk layak muat, merupakan sepenggal kisah para wartawan. Sepenggal kisah yg aku sebut itu masih 'mendingan' jika dibanding dg pelecehan wartawan, entah oleh pengusiran wartawan oleh 'ulama', ataupun pelecehan yg dilakukan oleh pimpinan DPRD. Bahkan aku pernah baca (sayang, lupa sumbernya) ttg pemecatan wartawan senior Kompas (sayangnya juga, aku tidak terlalu mengikuti berita itu).

Gaji seorang wartawan (terutama wartawan lapangan) tidaklah besar. Dalam satu waktu, aku sempat ketemu dg Budi Putra, salah seorang wartawan senior yg kemudian banting setir dengan menjadi blogger full time, beliau bercerita ttg kisahnya saat menjadi wartawan pemula. Salah satu hal yg diceritakannya adalah gajinya saat itu (sekitar tahun 92-93, jika aku tidak lupa) sekitar Rp 60rebu saja. Kecil? Tentu saja, karena menurut penuturannya, pada saat yg bersamaan, gaji seorang wartawan di Jepang (dg tingkatan yg sama) berkisar Rp 2juta (jika dikurs). Njomplang kan?

Tuntutan media kepada wartawan sendiri sangatlah besar. Istilah: POKOKNYA™ berita ini akan dimuat besok, kamu mesti dapat infonya dari sumber X, sementara sumber X sendiri entah di mana. Walhasil wartawannya yg keleyengan dan kelimpungan mencari info keberadaan sumber X. Belum lagi jika ada pertemuan (meeting, bahasa kerennya) yg sifatnya dadakan, padahal si wartawan sedang ingin ketemu dengan teman2nya. *uhuk...*siyul2

Apabila penghargaan yg diterima si wartawan sebanding dg jerih payahnya, mungkin tidak ada masalah. Namun, bagaiman jika hadiah door prize yg diperoleh si wartawan pun 'dicomot' oleh pihak kantor dg alasan bahwa wartawan ybs hadir di acara sebagai perwakilan kantor. Nah, jika ini terjadi, memang kebangetan deh kantornya...dzigh

Dengan kata lain, media di Indonesia 'berkesan' (atau memang) pelit terhadap para wartawan (terutama wartawan lapangan). Dan ini nampaknya berlaku di berbagai tipe media. Kisah temanku yg lain, yg pernah kerja di sebuah stasiun tv yg terkenal dg proses penerimaannya, gaji seorang wartawan berkisar Rp 1.5juta, tanpa tambahan lain2 (jika aku tidak salah dengar). Pendapatan baru dirasakan apabila dia telah bekerja selama 4 tahun atau lebih, dg asumsi selama 4 tahun itu dia telah promosi dan mempunyai kinerja yg baik.

Sementara itu, di Indonesia, istilah pakar sudah identik dg narasumber. Ingin keterangan detail? Silakan kontak pakar. Istilah pakar sendiri bahkan sudah dikelompokkan sesuai bidang yg dia tekuni (dan berdasar keahliannya, YANG SUDAH DIBUKTIKAN SECARA ILMIAH tentunya). Pakar sejarah (sejarah Bandung, Jakarta, dll), pakar penerbangan, pakar kelautan, pakar kebumian, dan masih banyak pakar2 lainnya yg bisa semalaman jika ditulis semua. *cape deehh....*whew!

Para pakar ini tentu saja tidak muncul begitu saja. Berbagai penelitan, karya ilmiah baik berupa tulisan ilmiah maupun penelitian ilmiah yang telah diuji oleh para ahli lainnya, pernyataan2 yg cerdas, tidak berkesan menggurui, BISA MENJELASKAN DG BAHASA YG MUDAH DIMENGERTI, TIDAK MEMPERBODOH MASYARAKAT, SERTA MUDAH DIHUBUNGI merupakan sebagian alasan yg menurutku WAJIB dipenuhi apabila seseorang hendak diakui sebagai pakar. *tentu saja alasan2 ini bersifat pribadi dan bisa disanggah jika perlu*

Wartawan (lapangan) tentu saja akan merasa terbantu dg kehadiran para pakar ini. Setidaknya 68% bahan untuk sumber berita bisa dia dapatkan dg menghubungi 1 orang pakar, bahkan disertai dg data yg valid dan tidak asal. Sisanya, 32%, bisa dia karang2 sendiri lah...*ahak...ahak...*ngakak

Sayangnya, pada kenyataannya para pakar ini SULIT DIHUBUNGI. Aku lupa darimana cerita ini aku dapat, maksudku, aku lupa teman mana yg cerita bahwa dia sulit sekali menghubungi seorang pakar pada saat dia sedang membuat berita. Tidak hanya melalui email, dia sudah kontak via hape, menunggu di rumah, via sekretarisnya, sang pakar tidak muncul juga untuk dimintai keterangan dan dijadikan nara sumber. Akibatnya, jelas...seringkali dia tidak optimal dalam bekerja, karena berita yg dia buat kurang didukung informasi dan data.

Ada pakar yg kompeten dan bisa dihubungi, eh...ternyata saat menjelaskan sang pakar ini begitu doyan mengobral istilah teknis yg njelimet. Alih2 mendapat pencerahan dan muncul ide, sang wartawan kita ini malah sibuk googling mencari arti dari istilah2 teknis yg dilontarkan si pakar.

Kasus paling parah, si pakar malah membodoh2i si wartawan. "Ah, masa gitu saja ga mengert??" "Bego banget sih kamu...ini kan mudah saja.." dan sederet kalimat yg menyakitkan diterima mentah2 oleh si wartawan, tanpa ada filter yg bisa mengubah atau menyamarkan kalimat hinaan tersebut. Lah kalo si wartawan ngerti, ngapain juga datang ke si pakar? Bahkan bisa jadi si wartawan itu tidak akan jadi wartawan, malah menjadi pakar juga. Gimana sih??auk ah!

Larangan memberi amplop pada wartawan, menurutku, mestinya disikapi dengan bijak. Memang, mendapat pemberian, tidak saja berupa uang/materi, ditolong dg non materi pun akan membuat seseorang terbebani untuk balas budi dan bisa berujung pada tidak berimbangnya pemberitaan yg dia lakukan. Nah, mestinya media 'melawan' hal ini dengan pemberian kompensasi yg (lebih) layak. Sayangnya, seperti aku bilang, itu tidak mesti bisa dinikmati para wartawan (lapangan), bahkan cenderung HOAX.

So, makin keliatan kan susahnya jadi wartawan? Makanya, aku juga kadang heran, kok masih ada yg mau jadi wartawan sih? siyul2

Eh...eh...masih ga bosan kan membaca ocehanku ini??nyengir

Nah, ternyata ada tokoh yg memanfaatkan 'peluang' ini. Berbekal pengetahuan yg ala kadarnya, tidak didukung dg background dan latar belakang yg mumpuni, jam terbang yg kadang2 masih diragukan, namun mempunyai jaringan yg luas, 'royal' memberikan informasi bahkan tidak segan melakukan konferensi pers, membuat sang tokoh ini dengan cepat meraih popularitas. Bahkan 'gelar' pakar pun disematkan pada tokoh ini, tanpa ada penjelasan lebih detail siapa yg memberi gelar pakar dan atas dasar apa. Aku sendiri hingga kini masih curiga, ada pihak2 tertentu yg memang menginginkan gelar pakar ini disematkan pada tokoh ini.

Berbagai temuan serta konferensi pers yg diselenggarakan Roy Suryo ini kian mengukuhkan dirinya sebagai seleb, sikap tidak peduli dg berbagai komentar (yg dianggapnya) miring serta 'keberaniannya' untuk memutarbalikkan fakta di lapangan (dg kemampuan ngelesnya yg kadang afkiran) membuat sang Roy Suryo ini kian jumawa (juara makan di warung)ngakak sampe guling2.

Sang Roy Suryo ini dikenal tidak pelit untuk berbagi informasi (ga penting). Bahkan menurut penuturan temanku, Roy Suryo tidak malas untuk meng-sms sekian wartawan untuk melakukan press release sebagai upayanya mengukuhkan diri sebagai pakar.

Nah, 'fitur' berbagi informasi ini yang paling dicari oleh para wartawan (lapangan). Mereka tidak perlu bersusah payah mencari berita, justru mereka diundang sang Roy Suryo untuk diberi penjelasan (ga penting) oleh Roy Suryo.

Terus terang, aku salut pada sang Roy Suryo atas kemampuannya mengolah kata serta menyisipkan istilah2 yg membuat dirinya seakan-akan paling pinter. Sayangnya, sang Roy Suryo sempat salah menggunakan istilah telur Columbus. Kepleset ni yeee... Belum lagi kemampuannya untuk mengeles dan memutarbalikkan fakta serta menggertak (gertak sambal) pihak2 yg dirasakannya berlawanan pendapat dengan dirinya.siyul2

Cerita temanku yg lain cukup lucu. Temanku ini satu waktu diundang sebagai pembicara di sebuah acara seminar (atau simposium atau sejenisnya). Eh, tak dinyana Roy Suryo kita muncul juga di sana, sama2 sebagai pembicara. Temanku yg punya ilmu sesuai (kompeten) dg tema seminar itu, ternyata mengaku tidak bisa berbuat banyak menghadapi polah Roy Suryo kita, yg cenderung menyudutkan temanku dan membuat temanku seakan-akan tidak kompeten. Malu banget temanku itu.dzigh

Lain waktu, teman yg lain bercerita serupa tapi tak sama. Dia diundang untuk menghadiri wawancara tv, dg Roy Suryo kita tentunya. Saat briefing menjelang on-air, temanku ini mendapati Roy Suryo sedang mencekoki para kru tv dengan definisi yg salah. Ketika definisi tersebut diralat temanku, eh, Roy Suryo malah 'ngamuk' karena disalahkan dan berkelit bla bla bla... Walhasil, ketika wawancara tv, definisi 'salah' tersebut tetap dilontarkan Roy Suryo dan, DHUENG, tertipulah sekian juta para pemirsa yg menonton acara tersebut...!!halah..plis deehh..

Sebenarnya tidak masalah jika Roy Suryo bersikap seperti itu, apabila WARTAWANNYA SENDIRI MELAKUKAN KONFIRMASI DAN CROSS CHECK. Sayangnya masih banyak wartawan yg tidak bertanggung jawab. Mereka mengambil sumber dari narasumber yg salah, lalu tidak konfirmasi. Bahkan aku sering dapati wartawan dari sebuah media online cenderung cari berita yg sensasional, padahal beritanya ngaco bin salah alias ngawur.cekikikan

Dengan kata lain, wartawan 'bego' dan narasumber yg haus publikasi adalah kombinasi yg pas untuk pembodohan masyarakat!!

Saat Roy Suryo sedang mengungkap kasus mp3 Habibie-Andi Ghalib dan sedang dibahas dg ramai di milis ITB, sudah banyak orang yg tidak setuju dg cara RS mengungkapkan 'kasus' ini. 'Counter attack' dg penjelasan yg ilmiah langsung disumbangkan para alumni dan mahasiswa ITB.

Namun kenyataannya, nyaris tidak ada counter attack yg berhasil meredam langkah Roy Suryo ini. Aku tidak dapati satu media (cetak dan televisi) yg memuat dan menyiarkan bantahan ini.

Saat itu, sudah ada usulan dari member milis ITB, bahwa counter attack yg dilontarkan di milis itu PERLU PUBLIKASI serta MESTI ADA PENYAJI YG KOMPETEN. Hanya saja satu masalahnya, SIAPA YG MAU UNTUK PRESS RELEASE TANDINGAN?

Para pakar (terutama IT) di Indonesia sangat mempunyai ego yg tinggi. Meski tidak menjatuhkan secara langsung, namun sangat sulit menyatukan pendapat serta menunjuk seseorang untuk menjadi juru bicara resmi. Tiap orang merasa perlu untuk menyatakan pendapatnya, sebagai bukti bahwa dirinya adalah ahli IT. Ini tentu saja bagus, karena tiap pendapat dari pakar ini akan memperkaya khazanah pengetahuan. SAYANGNYA, SEDIKIT SEKALI AKSES para pakar ini ke media yg mumpuni untuk menjelaskan.

Oke...melalui blog mungkin lebih banyak orang yg bisa tahu apa yg ada di dalam pikiran para pakar. Namun, seberapa banyak orang yg mengerti blog? Jangankan paham (yg cukup mendalam) tentang blog, orang yg melek internet saja masih sering salah memasukkan alamat emailnya dan url website saat komentar di blog. Sebagai contoh, ada orang yg menuliskan http://wahyu@yahoo.com di bagian email dan http://yahoo.com di bagian url website. Aku sih berpikiran positif, artinya wahyu ini kerja di yahoo...cuma kayanya ga mungkin yahoo mempekerjakan wahyu, karena menulis alamat emailnya saja salah.ngakak

Tidak heran Roy Suryo begitu benci dan tidak suka dg blog, karena dia merasa tersaingi dan tidak bisa membodohi masyarakat.

So, bagaimana cara 'melawan' Roy Suryo?

Menurutku, blog saja tidak cukup. Seorang pakar (merangkap juru bicara) juga tidak cukup. Istilah2 yg canggih juga tidak cukup. Bahkan upaya beberapa wartawan untuk menggunakan blog sebagai narasumber, aku rasakan masih belum cukup.

Lalu cukupnya apa donk Mi?

Yaa...cukup sekian saja ocehanku ini...ahak...ahak... Kapan2 disambung lagi kalo ada yg numpang lewat di pikiranku.

ps: aku tidak bermaksud membenci Roy Suryo, apalagi melakukan karakter asinan terhadap dirinya. Aku hanya berharap ada pihak2 yg mempunyai persyaratan dan kemampuan yg mumpuni serta ada akses untuk 'melawan' press release yg dilakukan Roy Suryo.

thx juga buat obrolan warga kampung gajah...banyak masukan yg aku peroleh. sorry banget ga sempet aku sebutkan satu persatu para kontributor masukan....but thanks alot.