Eitss...jangan mikir jorok dulu ttg arti telor Columbus. Coba baca dulu definisi telur Columbus ini. Heh, ga ngerti bahasa Inggris? Apa, malas bacanya?

Ok...ok...aku ambil penjelasan Henny Rolan, si kamus berjalan, saja, mudah2an cukup paham.
si kolumbus ini dicemooh sama orang eropa.
trus si kolumbus nantangin si orang eropa ini, "ya udah, kalo misalnya kamu sok teu, coba gimana supaya telor ini bisa berdiri tegak di atas meja"
banyak orang sok teu padahal ga tau apa2 nyoba. tapi telornya nglinding terus.
akhirnya si kolumbus ambil telur itu dan bilang, "gini nih...." dia meremukkan (tapi ga sampe bocor) 'pantat' telur itu, jadi terbentuklah sebuah bidang datar kecil. telurnya berdiri deh.
barulah semua orang sok teu itu pada ribut-ribut "yaaaaa kalo kayak gitu mah gue juga bisa... bla bla bla".
si kolumbus bilang, "kalo emang bisa, kenapa nggak dari tadi dilakuin"
dan baru muncul sejumlah ngelesan dan bantahan dari orang2 sok teu itu.

jadi, menurut aku sih ga cocok lah analogi telor kolombus sama kasus indonesia raya. konteksnya beda gitu loh.

kalo kasus indonesia raya, maksudnya kan "punya tapi diem2, pas udah geger baru pada ribut punya"
sedangkan kalo telur kolumbus ini maksudnya "nggak tau apa-apa, terus tau selahnya, baru ribut".
Lalu, Mi, kenapa tiba2 kamu membahas telor Columbus? Setannya Columbus lagi nyambit kamu? Hahaha...bukan gitu laahh..ah, kok kaya geto sehh..

Aku mendadak membuat artikel ini, terkait pernyataan sang pakar bikin heboh. Dalam salah satu wawancaranya, sang pakar mengeluarkan statement seperti berikut:
Dengan munculnya kritik dan cercaan berbagai kalangan terhadap dirinya yang mempertanyakan asal-usul dan otentisitas kepemilikan hasil temuan Indonesia Raya tiga stanza tersebut, Roy mengibaratkan masalah itu bagaikan kisah Telur Columbus.

"Ini semua ibarat kisah Telur Columbus, dimana semua awalnya diam, namun giliran muncul saling berdebat," kata Roy.

Jika kita perhatikan, NAMPAK SEKALI KE-TIDAK NYAMBUNG-AN antara peristiwa yg terjadi (lagu Indonesia Raya) dengan statement si pakar. Apalagi jika kita perhatikan penjelasan Henny, jelas2 sekali bahwa sang pakar tidak menguasai pengertian telur Columbus dan fenomena yg sedang dia hadapi.

Sayang sekali jika orang yg dianggap pakar ternyata salah membuat analogi...dan ketika dirinya diketahui salah oleh banyak orang, sang pakar tidak mau membuat statement permintaan maaf ataupun meralat pernyataan sebelumnya yg salah.geleng2

Itu sebabnya aku masukkan artikel ini ke dalam kriteria bahasa, sebagai pencerahan bagi kita semua dalam menanggapi sebuah pernyataan dan penggunaan bahasa mesti secara tepat. Jikapun salah, hendaknya tidak perlu malu untuk meralat.

Pertanyaannya, maukah sang pakar ini membuat pernyataan untuk meralat pernyataan sebelumnya? Aku sendiri ragu....siyul2