Peperangan itu berakhir sudah. Genderang perang sudah disimpan.

Kemenangan sudah berada di genggaman salah satu calon, meski belum diumumkan hasil resmi. Sorak sorai pendukung yg menang pun pecah, ucapan selamat datang berhamburan, peluk cium sudah mengantri. Senyum sumringah di wajah sang pemenang kian diumbar...meski tersembunyi di balik kumisnya yg tebal.

Bagaimana nasib yg 'kalah'?

Bukan...bukan kalah...menurutku. Menjadi common enemy sudah jelas mempunyai resiko yg teramat besar. Niat dan tekad bersama untuk menjadikan Ibukota lebih baik ternyata tidak dimiliki oleh kebanyakan orang yang tidak ingin periuk dapurnya terganggu. Kenyamanan yg telah mereka peroleh dengan susah payah, tentu saja tidak ingin hilang begitu saja. Menangis boleh saja, tapi toh semua mesti legowo, tidak hanya ucapan tapi juga dibuktikan dg tindakan.

Namun bang Adang dan bang Dani masih tersenyum, bahkan memberikan pernyataan pada sebuah konferensi pers, yg menyatakan selamat kepada bang Foke dan bang Prijanto atas kemenangannya. Sedih, kecewa, mangkel mungkin ada dalam benak dan pikiran mereka. Akan tetapi, di mataku, mereka masih tampak senyum tulus, tanda legowo.

Jika hendak membuat daftar penyebab kekalahan, mungkin akan terlihat seperti mencari kambing hitam. Tapi, aku melihat pasangan Adang-Dani merupakan tonggak bagi PKS untuk maju lebih baik. Mengapa? Perolehan suara (saat ini) yang didapat sebesar (lebih kurang) 42% merupakan satu lompatan yg cukup signifikan, karena perolehan suara PKS saat pemilu 'hanya' 24-25% saja. Kenaikan hampir 2x lipat merupakan bukti bahwa gabungan Adang-Dani serta PKS bisa menghasilkan satu kekuatan yg tidak bisa dipandang sebelah mata.

Hasil ini mementahkan, bahkan menolak asumsi para lembaga survei yg menyatakan pasangan Adang - Dani hanya akan memperoleh suara 22% (~ suara PKS di pemilu 2004). Sosok Adang serta tidak adanya calon independen, diduga kuat menjadi salah satu daya tarik, sehingga perolehan suara yg didapat sangat di luar dugaan.

Aku sendiri melihat, simbiosis mutualisme Adang-Dani dan PKS mesti dipertahankan. Bahkan setelah diskusi dg Wify, peluang Adang untuk menjadi RI-1 cukup terbuka, meski dalam jangka waktu dekat ini, PKS sendiri mencalonkan Adang-Dani untuk menjadi anggota DPR 2009. Ini sih tinggal masalah komunikasi dan atur strategi saja.

Melihat sosok bang Adang yg masih tersenyum saat diwawancara, bahkan masih terlihat optimis (dalam menghadapi masa depan) membuatku cukup lega. Terlebih setelah ngobrol panjang lebar dg Wify, didapat kesimpulan 'untung' yg menang Foke, karena jika yg menang adalah bang Adang, dijamin (68%) akan terjadi kericuhan, karena para partai pendukung Foke jelas akan meminta perhitungan ulang, dan ini jelas akan membuat suasana menjadi ribet lagi. Perhitungan ulang berarti membuang uang dan waktu yang seharusnya digunakan untuk membangun.

Langkah ksatria sudah diambil pasangan Adang-Dani, dg tidak terlalu memusingkan hasil perhitungan. Langkah ke depan jauh lebih penting.

MAJU, ADANG - DANI...!!!

ps: jangan lupa untuk NAGIH JANJI...!! hahaha...*makan tuh janji*