*sang pakar heboh ternyata ada yg bela lho...meski err...ah, nilai sendiri saja. aku beri komentar (dg huruf miring) pada bagian2 yg aku rasa perlu*siyul2

Di tangan orang yang tidak berpengetahuan, sebatang kayu hanyalah sekedar sebatang kayu yang nampak tidak berharga. Tetapi di tangan seorang seniman ahli ukir, sebatang kayu bisa menjadi sebuah adikarya.

Kenangan apa yang akan bangkit dari diri Anda ketika mendengar "judul lagu" Indonesia Raya? Saya yakin sebagian besar orang akan menjawab - Upacara Bendera.

Dua kalimat diatas perlu saya tulis sebagai paragraf pembuka untuk mencoba menjelaskan arti penting statemen Roy Suryo yang mempublikasikan lagu Indonesia Raya tempo doeloe *memangnya apa sih pak arti pentingnya?*. Meskipun klip lagu yang ditemukan Roy Suryo memang sudah lama dibiarkan kleleran dan hanya jadi pajangan saja di Internet, namun sebelum Roy Suryo mempublikasikan hasil risetnya orang belum sadar benar arti penting sebuah lagu yang berjudul Indonesia Raya *ah, masa sih pak? Bapak saja kaleee...lagian riset darimana pak?Dari hongkooong kaleee...*.

Sudah 62 tahun Bangsa Indonesia merdeka, namun selama itu pula lagu yang kita kenal sebagai Lagu Kebangsaan itu seolah tidak mempunyai arti apa-apa *lah menurut Bapak, artinya apa? kok ga ngasih tau arti menurut bapak seperti apa...*. Fungsinya sampai hari inipun nampaknya semakin mengalami degradasi saja karena hanya sekedar menjadi nyanyian ritual tanpa jiwa yang setiap hari Senin dinyanyikan dengan suara fals dan ogah-ogahan oleh pegawai negeri dan anak sekolah yang memang masih mengadakan upacara bendera dan mempunyai kewajiban untuk menyanyikan lagu tersebut; atau hanya sekedar jadi pembuka seremonial saja misalnya pembuka adu tinju, badminton ataupun acara-acara sejenis lainnya. Paling banter, kita melihat kesan agak serius ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya pada acara 17 Agustus-an saja, itupun hanya acara yang ditayangkan di televisi semisal 17 Agustus di Istana Negara.

Apa arti sebuah lagu kebangsaan pun , hari ini mungkin tidak banyak orang yang memahaminya benar apalagi lantas tergugah dan terkenang dengan negara yang bernama Indonesia dari awal kelahirannya sampai dinyatakan merdeka *Bapak sendiri sudah paham belum? jelasin donk pak*. Bukan saja bagi generasi muda Indonesia yang tidak mengalami langsung peristiwa bersejarah lahirnya lagu kebangsaan, bahkan bagi pelaku sejarah yang sudah uzur pun nampaknya lagu Indonesia Raya hanya sekedar menjadi lagu nostalgia semata. Bahkan, yang membuat saya heran, pelaku sejarah yang menyimpan arsip lagu tersebut malah terkesan menjadi terkaget-kaget ketika lagu Indonesia Raya kembali dipublikasikan oleh media masa *ya gimana ga kaget, lah wong sudah basbang ke demak pak paaakk...*.

Polemik yang berkembang sekitar publikasi lagu Indonesia Raya sebenarnya polemik kekanak-kanakan yang menunjukkan kedangkalan bangsa Indonesia secara umum *dangkal mana pak dg yg koar2?* ketika merespon suatu sentakan informasi yang semula nampak sepele menjadi tajam berkilau bagai pedang. Tanggapan yang muncul disana sini disekitar klaim siapa yang pertama justru menjadi tidak relevan dibandingkan dengan arti penting dan nilai dari obyek yang dipublikasikan serta pengaruh situasionalnya. Celakanya, kita justru terjebak membicarakan yang tidak penting itu. Publikasi lagu lama Indonesia Raya oleh Roy Suryo dewasa ini menurut saya mempunyai arti penting dan strategis bagi Bangsa Indonesia *oh yeaaahhh....???*. Apalagi publikasi ini menyangkut suatu identitas kebangsaan bagi bangsa yang secara teknis sudah mendekati ambang batas kehancuran di segala bidang secara sistematis, baik software-nya maupun hardware-nya *hwalah...si bapak ini maen hantam kromo software dan hardware. penjelasannya mana pak??*. Rebutan siapa yang pertama, siapa yang duluan, satu stanza, dua stanza atau tiga stanza dan remeh temeh lainnya, menunjukkan kalau kita umumnya masih terjebak dalam pola pragmatis serba instan tanpa melihat fungsi dan manfaat dari temuan itu dalam jangka panjang, khususnya dikaitkan dengan kesadaran bersama kita sebagai suatu bangsa yang berdaulat dengan identitas yang majemuk, yang lahir dari perjuangan penuh pengorbanan. Maksud saya, menjadi yang pertama itu tidak penting, yang penting adalah menjadi yang pertama kali menjadikan sesuatu yang nampak sudah tidak bernilai menjadi bernilai kembali. Windows Apple dan Windows Microsoft *ahak...ahak...bapake iki kok jadi tipikal pak kumis?ngakak aku pak paaakk...* menjadi contoh di abad dijital bagaimana yang pertama (Windows versi Apple) justru menjadi kurang berhasil dibandingkan dengan yang memberikan arti penting dengan manfaat yang lebih luas (Windows Microsoft).

Ada apa dengan Bangsa Indonesia ? Nampaknya nampaknya harus mulai dipersoalkan kembali karena sebagian besar Bangsa Indonesia nampaknya sudah menjadi tumpul daya pikir dan olah rasanya sehingga mempunyai kecenderungan untuk tidak tanggap dengan situasi dan kondisi tanah airnya sendiri; tanah air tempat dimana mereka justru numpang menghirup kehidupan dan bertahan untuk tetap hidup selama ini *hwalah...bapak sendiri gimana? jangan2 ikut tumpul gara2 pak kumis...*.

Polemik yang muncul setelah Roy Suryo mempublikasikan lagu Indonesia Raya versi awal nampaknya polemik yang muncul dari kedangkalan daya pikir kita yang sudah tidak bisa membedakan lagi antara batu dan permata *jadi, siapa batu siapa permata pak? kok jadi ngelantur dari lagu ke batu. apa bapak penjual batu? coba jualannya di jatinegara pak..banyak yg jual batu...batu akik*. Kedangkalan ini sebenarnya merupakan salah satu ciri saja bahwa sebagian besar dari kita sejatinya memang gelagapan dan gamang menghadapi era banjir informasi dan era keterbukaan pengetahuan dan tidak mampu memanfaatkan dengan optimal era banjir informasi (serta infrastrukturnya) untuk kepentingan bersama sebagai suatu bangsa. Boro-boro digunakan untuk mencapai kesejahteraan material yang nyata, bahkan untuk secara kolektif memanfaatkan perkembangan teknologi informasi itu agar menjadi bangsa yang lebih berpengetahuan juga masih sangat susah, padahal semuanya terbentang lebar dengan gratis *gratis dari hongkooongg?? benwit mahal kok dibilang gratis...*.

Di era information overloaded kedangkalan daya pikir ini akan menyebabkan orang tidak mudah untuk memilah informasi mana yang berharga dan mana yang tidak. Kecondongan hanya untuk mengambil manfaat praktis untuk kepentingannya sendiri dibandingkan dengan manfaat yang bernilai strategis dan menyangkut kepentingan banyak orang, misalnya kepentingan suatu bangsa, akan semakin membuat daya pikir manusia Indonesia justru tumpul padahal sarana dan prasarana yang tersedia dapat digunakan untuk kepentingan dan manfaat yang lebih besar, khususnya manfaat kolektif yang berhubungan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang lebih pengetahuan. Untuk bisa membedakan antara informasi yang tidak bernilai dan yang bernilai memang diperlukan keahlian khusus, perlu ketelatenan dan tentunya tujuan dari si pemilah informasi itu sendiri. Bagi orang biasa, lagu Indonesia Raya memang nampak begitu-begitu saja karena terlalu seringnya dinyanyikan. Jadi, bagi orang biasa lagu itupun mirip batu tak berharga. Sampai-sampai, meskipun sudah sekian lama beredar di Internet, kita yang memang tidak berilmu dan seringkali keluyuran di Internet tanpa tujuan tidak pernah menduga kalau lagu itu mempunyai makna yang penting sekali.

Hanya seorang Roy Suryo lah yang menyadari arti penting dan betapa berharganya informasi tentang lagu Indonesia Raya tempo dulu itu untuk mengungkit kesadaran historis bangsa Indonesia. Dengan kata lain, kalau kita hadapkan temuan Roy Suryo dengan situasi Bangsa Indonesia saat ini yang kualitasnya ambur adul maka temuan Roy itu semestinya direspon dengan antusias sebagai upaya menggugah Bangsa Indonesia yang sudah melupakan sejarahnya dan melupakan tujuan kolektifnya sebagai suatu Bangsa Berdaulat bukan bangsa budak atau bangsa jajahan atau pun bangsa tong sampah hasil produksi. Oleh Roy Suryo, dengan keahliannya sebagai praktisi telematika dan ketertarikannya dengan sejarah Bangsa Indonesia, batu yang membungkus lagu Indonesia Raya itupun dibuka dan dipolesnya kembali menjadi permata yang menyilaukan karena memang Roy membukanya didepan kilauan lampu kamera media massa. Kita mestinya patut mengacungkan jempol kepada upaya dan keberanian Roy Suryo yang sudah bersusah payah meluangkan waktunya untuk mengadakan riset tentang lagu Indonesia Raya itu dan akhirnya mempublikasikannya supaya nilainya yang semula bagi kebanyakan orang nampak tak berharga benar-benar menjadi berharga bagi Bangsa Indonesia. Setidaknya, upaya Roy Suryo bisa menyentakkan kesadaran kita bahwa Lagu Indonesia Raya sangat bernilai dan patut dihargai *ahak...ahak...pernyataan bapak ini kok mendewa-dewakan pak kumis ya? pak kumis kan ngopi file doank pak, bukan tertarik dg sejarah...apalagi riset, ahak...ahak...kalimat2nya narsis banget sih...jangan2...hihihhi...*.

Daya sentak publikasi Roy Suryo memang luar biasa. Berbagai komentar pun bermunculan, baik dari kalangan muda yang pernah melihatnya di internet, pernah memajangnya di blog-nya, sampai kalangan tua pelaku sejarah yang justru sebenarnya masih menyimpan klip aslinya namun tak pernah diteliti dan dikemas kembali untuk mengaktualkan nilainya. Yang lebih memprihatinkan, para pejabat pemerintah Indonesia juga mulai ikut-ikutan berkomentar dengan kedangkalan visinya sehingga ada kesan supaya masalah lagu Indonesia Raya ini hanya sebatas asli atau palsu, sudah selesai dengan versi ini atau itu dan akhirnya justru melemahkan semangat yang baru dikilik-kilik oleh Roy Suryo *ahak...ahak...dikilik-kilik sih geli pak, bukan lemah. aya-aya wae si bapak ini..ahak..ahak..*dengan temuannya itu. Bagi sebuah bangsa yang mulai runtuh, sejarah yang benar itu perlu bahkan peribahasa lama masih tetap berlaku bahwa "Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang mengenal sejarah dan pahlawannya" bukan bangsa yang mengubur apalagi menghapuskan sejarah. Bangsa yang menghapuskan sejarah dan para pahlawannya adalah bangsa yang dipenuhi dengan tukang tipu, para pembohong, tukang fitnah, oportunis dan kaum munafik dengan kecondongan pada kepentingan perut sendiri *jadi dg kata lain pak kumis = contoh warga dari bangsa besar, dan yg lain = tukang tipu, fitnah bla bla bla?ahak..ahak...lucu si bapak ini, aku jadi suka gaya lawaknya...*. Kita mestinya patut malu kepada Roy Suryo yang bisa menyepuh batu menjadi permata lagi yaitu lagu Indonesia Raya *lho, katanya Roy Suryo itu praktisi telematika, tapi kok menyepuh batu? jangan2 praktisi penyepuh, maksudnya membuat sesuatu menjadi sepuh (tua) kali ya pak?? ahak...ahak..*. Selamat untuk Roy Suryo yang berupaya untuk membangunkan jiwa-jiwa Bangsa Indonesia yang kelamaan tidur dengan sentakan lagu Indonesia Raya tempo doeloe *zzzz..zzzz...zzz...tidur ahh..cape deehh...*.

.....

Bangunlah jiwanya

Bangunlah badannya

Untuk Indonesia Raya

.....


Kota Patriot (Bekasi), 6 Agustus 2007 *sejak kapan Bekasi jadi kota patriot?gedubrak deh*

Atmonadi

(catatan penulis: tulisan ini merupakan materi untuk opini di harian Media indonesia)