Beberapa waktu belakangan ini, kita sering mendengar berita tentang adanya demo antara pemilik kendaraan plat kuning (angkutan umum) dengan plat hitam (preman/pribadi). Demo ini terjadi tidak saja di Jakarta, tapi juga melanda daerah2 lain di Indonesia (Batam dan Sleman).

Dari pengamatan dan pengalaman yang pernah aku lakukan dan alami, sebenarnya angkutan plat hitam dibutuhkan, terutama untuk beberapa trayek tertentu yang lokasinya memang jauh sekali dari jalur angkutan umum. Sebagai contoh, di Bandung ada angkot plat hitam, jurusan Alun-alun - Cicaheum. Sebenarnya ada bus Cibiru-Cibeureum, yang lewat Alun-alun, tapi untuk dari Alun-alun menuju Cicaheum, memang tidak banyak angkot yg langsung menuju Cicaheum (dari Alun-alun).

Salah satu keunggulan plat hitam adalah KECEPATAN dan KEMUDAHAN. Maksudnya, biasanya mesti butuh 2-3 kali naik angkot untuk berangkat dari Alun-alun mencapai Cicaheum. Jika biaya 1x naik Rp2000, maka dibutuhkan Rp6000 untuk mencapai Cicaheum, belum lagi rutenya mesti berputar-putar. Benar2 menjengkelkan lho...apalagi Bandung kian panas.phew!

Sementara dengan plat hitam, cukup dg Rp5000, tinggal duduk dan cukup cepat sampai di Cicaheum, karena semua penumpang mempunyai tujuan yang sama, Cicaheum, sebagai tujuan akhir.

Sedangkan untuk di Jakarta, yg pernah aku bandingkan adalah angkutan dari Jakarta ke Bekasi. Aku pernah gunakan busway feeder, sayang lupa namanya, yg membawaku berangkat dari Jakarta ke Bekasi selama 1.5jam (lebih kurang) dengan biaya Rp7000. Cukup mumpuni, karena ada ac dan tempat duduk yg nyaman. Sementara jika dg plat hitam, jika aku tidak salah informasi, biayanya Rp5000, tapi yaaa...seperti ikan sarden, penuh..mirip angkotcekikikan

Oya, benang merahnya adalah para sopir plat kuning tidak menginginkan adanya plat hitam yg lewat rutenya, juga tidak menyetujui adanya penambahan jumlah armada, karena mereka beralasan hal tersebut akan mengurangi pendapatan mereka.

Nah, yang jadi masalah sekarang adalah LAYANAN TRANSPORTASINYA.
1. Apakah memang perlu dibuka rute baru? Terutama karena penggunaan PLAT HITAM untuk angkutan umum JELAS DILARANG. Dengan kata lain, Dephub bisa mengakomodir keinginan para pemilik plat hitam yg ingin disahkan/beroperasi secara sah.
2. Jika memang dibutuhkan rute baru, hendaknya Dephub perlu mempertimbangkan juga agar tidak terjadi penumpukan rute. Akibatnya bisa demo besar2an seperti berita2 di atas.

So, bagaimana solusinya? Eh, itu sih bukan urusanku...hihihih...yg penting aku sudah memberitahu permasalahan dan benang merahnya. Kalo solusinya, yaaa...mesti para pejabat Dephub yg kerja donk. Apa gunanya mereka digaji dari pajak masyarakat kalo tidak bisa membawa kebaikan.siyul2

Oya, permasalahan ini juga menjadi PR bagi calon gubernur yg mulai 'bertarung' sekarang.

*kredit buat Markum, untuk foto angkotnya*