Di artikel ini, aku hendak mengupas banyak tentang Adang dan Foke, setelah sebelumnya aku pernah menulis juga tentang Adang-Foke (pra kampanye). Subyektifitas jelas tidak akan bisa dihindarkan, namun jika memang ada yg tidak setuju, silakan berkomentar dg baik atau jika perlu buat tulisan yg 'menjawab' ketidakpuasan artikel ini.

FAUZI BOWO
Seperti yg pernah aku tulis beberapa waktu lalu, slogan2 yg digunakan oleh Foke cenderung KLISE dan (menurutku) 'memaksa' orang untuk mengakui dirinya ahli. Dari Kompas edisi cetak, aku dapatkan beberapa slogan yg dipakai Foke:
- Jakarta mau maju? Serahkan pada ahlinya
- Fauzi Bowo, busway, subway, monorail, bebas macet. New comer kagak deh...
- Apapun suku dan agamanya, Fauzi Bowo & Prijanto pilihannya
- Beli Janur di Pasar Manggis. Pilih gubernur yg berkumis
- Pergi ke Purwakarta, pulang bawa sawo. Orang Jakarta pasti pilih Fauzi Bowo-Prijanto

Sementara di media lain, seperti televisi dan koran, aku sempat temukan juga iklan2 Foke:
- Membawa keluarga si Doel dg tema kampanye untuk Betawi
- Ketua2 partai politik membawakan jargon2 klise "Bla bla bla untuk keragaman bla bla bla"

Dan hasil berburu dg Wify, memotret spanduk2 Foke yg 'mengeroyok' spanduk Adang, seperti yg aku dapatkan di belakang gedung DPRD DKI (karena aku tidak dapatkan 1 pun spanduk Adang), ya ya ya...mual bener deh melihat slogan2 kosong seperti itu. Suatu pemaksaan!!

Bahkan, jika menilik kampanye Foke yg menyatakan dirinya orang Betawi 'asli' dan bla bla bla lainnya, sebenarnya ada kontradiksi. Pertama, mana ada orang Betawi 'asli' namanya BOWO. Jika kita telusuri kehidupan Fauzi Bowo, jelas lah...dirinya tidak 'asli' Betawi. Apalagi nama Prijanto, jelas2 itu nama dari Jawa.

Padahal di tiap iklan (terutama di tv) seringkali ada 'celetukan' yg menyatakan,"Pilih gubernur yg betawi, yg lain bukan betawi asli" (atau sejenisnya). Dengan kata lain, isu ras dan suku (Betawi) dijadikan komoditas politik oleh Foke. Namun di sisi lain, iklan2nya masalah keragaman (Apapun suku dan agamanya, Fauzi Bowo & Prijanto pilihannya) yg ditonjolkan.

Keluarga si Doel, yg menurutku bukanlah representasi (perwakilan) suku Betawi, dijadikan corong Foke untuk meneriakkan dan menggembar-gemborkan suku Betawi. Sah-sah saja memang, hanya saja jika menilik ke belakang, tentang rencana Rano Karno untuk menjadi cawagub namun akhirnya menjadi perpanjangan tangan Foke, aku melihat ada deal2 yg *uhuk...* 'mencurigakan' dan cenderung tidak sehat. Hal ini diperkuat berita dari sini...sebuah artikel yg mengejutkan dan (semakin) menyadarkan kita akan 'kuatnya' pengaruh uang.

GA KONSISTEN!!! BELUM JADI GUBERNUR, SUDAH GA KONSISTEN...!!halah

Selain itu, beberapa waktu lalu aku pernah blog walking, dan menemukan sebuah tulisan yg menarik (sorry, aku lupa url-nya) yg mengomentari tata busana Foke dan pasangannya. Di sana dituliskan, FokPri mengenakan baju NINGRAT karena modelnya yg hitam-hitam bla bla bla.

NINGRAT MANA BISA MERAKYAT? Menurutku, adalah suatu kepalsuan dan kebohongan besar jika orang ningrat/bangsawan mengaku bisa mendalami, memahami, dan menyelami perasaan rakyat kecil. Jangan lupa, tahun 1999 lalu ada partai yg mengaku peduli wong cilik, yg kenyataannya setelah memerintah, yaa...begitulah...jauh dari harapan para wong cilik.siyul2

Terakhir ttg Foke, slogan "Fauzi Bowo, busway, subway, monorail, bebas macet. New comer kagak deh..." benar2 menggelikan...bagaimana tidak, memangnya membangun subway dan monorail bisa jadi dalam 1-2 tahun? Lha wong urusan monorail saja sekarang masih ga jelas, karena hingga 2 tahun terakhir ini, hanya tiang2nya saja yg selalu aku temui sepanjang jl Kuningan.

JADI, APA MASIH MAU PUNYA GUBERNUR YG (NGAKU) AHLI TAPI .... ah, sudahlah...lihat sendiri dah hasil2 yg dicapai selama dia memerintah dan 'mengurus' DKI.

ADANG DARADJATUN
Slogan yg diangkat oleh Adang sebenarnya bisa dibilang klise juga, tapi aku sih melihat ada VISI ke depan yg ditawarkan dan dijanjikan (untuk diwujudkan) oleh Adan.

Berikut slogan kampanye Adang:
- Pemimpin Tegas, Jujur, dan Merakyat. Ayo Benahi Jakarta
- Ayo Benahi Jakarta Menuju Jakarta MAS (Modern, Aman, Sejahtera)
- Banyak partai = banyak kepentingan = banyak tagihan...ooh seraam
- Hasrat Kuasa Nan Membara, Birokrat pun Dibawa-bawa

Dari sekian slogan di atas yg aku tulis, ada beberapa catatan yg membuatku menilai Adang lebih punya visi:
- Ayo benahi Jakarta.
Sebuah ajakan Adang kepada warga DKI untuk ikut bersama membangun dan membenahi Jakarta. Aku melihat hal ini sebagai sebuah kewajaran, karena Adang sudah menilai dirinya dan Dani (cawagub) tidak akan bisa membereskan semua masalah di Jakarta, tanpa bantuan dari masyarakat. Sebuah 'joke' dan 'sindiran' sempat dilontarkan. "Ah, ntar kalo berhasil, jasa rakyat ga dianggap..."bla bla bla. Aku hanya tertawa saja mendengar lontaran seperti itu. Lha sekarang, kondisi Jakarta yg amburadul sekarang ngakunya diurus oleh yg ahli. Bagaimana donk?? Hahah..ngakak

- MAS = Modern, Aman, Sejahtera.
Sebuah visi yg ditawarkan oleh Adang Dani. Sebuah rencana futuristik yg (menurutku) bisa dicapai dg bantuan rakyat, tentu saja. Konsep modern yg diharapkan tentu saja bukan sekedar canggihnya infrastruktur dan pembangunan, namun juga dalam pengelolaan dan penataan. Aman harus dirasakan oleh semua pihak, rakyat kecil (untuk beraktivitas) maupun pihak asing (untuk investasi). Kesejahteraan juga harus (lebih) merata dan dirasakan orang banyak, tidak seperti sekarang yg cenderung disikat habis2an oleh segelintir pihak.

Adapun jika Adang-Dani mengangkat isu/sentimen ke-Betawi-an, adalah suatu kewajaran jika mengingat latar belakang kehidupan Dani yg memang sejak turun temurun lahir di Jakarta.

Untuk 'menandingi' keluarga si Doel, keluarga Bajuri maju dg SUKARELA menjadi 'kompor' bagi Adang-Dani untuk menarik perhatian para Betawi-ers.

Melihat keluarga Bajuri yg LEBIH MERAKYAT dan DEKAT DENGAN KEHIDUPAN WARGA JAKARTA sehari-hari, sebenarnya kita (jika memang berpikir dg baik) sudah menunjukkan keberpihakan Adang-Dani terhadap rakyat kecil (dan semoga ini kian berlanjut apabila mereka menjadi orang penting DKI nanti).

Tata busana Adang-Dani dalam kampanye pun menunjukkan KESEDERHANAAN DAN KESAHAJAAN, karena 'hanya' berbaju koko, peci, dan sarung diselempangkan. Jika ingat dengan cerita-cerita tentang Pitung, kita akan disajikan sosok pendekar yg berpakaian 'biasa', bukan baju dari golongan ningrat.

Dari sekian spanduk kampanye Adang-Dani, aku terkagum-kagum dengan spanduk yg menampilkan Adang sedang mempertemukan jari2nya seraya tersenyum (lihat gambar kiri). Suatu sikap dan penggambaran sosok yg menyejukkan, karena seorang pemimpin hendaklah banyak senyum...tentu saja bukan senyum pahit atau getir karena disindir atau kerjaannya tidak beres, tapi senyum untuk menenangkan dan membuat rakyat percaya akan kemampuannya.

catatan tambahan: hasil diskusiku dg Dodi, kami berdua mempunyai pemikiran, tim kampanye Adang mesti lebih rajin menyambangi kantung2 suara yg diprediksikan milik Foke, untuk meraih simpati dan tambahan suara.

Well...meskipun aku tidak bisa memilih di pilkada tgl 8 Agustus nanti, aku akan berusaha berpartisipasi dan mendukung Adang melalui tulisan2 di blog ini. Bias ya? Ya ya ya...nuansa dan kondisi berpolitik (yg baik) juga merupakan salah satu bagian alur kehidupanku. Tidak ada salahnya aku berbagi dan belajar berpolitik dengan baik.

Di bagian akhir, aku tampilkan foto2 hasil berburuku dan Wify. Memang, tidak semua tempat bisa aku foto, meski di akhir pekan. Di kesempatan lain, jika masih ada, aku akan tambahkan lagi semaraknya kampanye Gubernur DKI 2007.