Kejadian ini sudah aku alami beberapa kali. Salah satunya, begini...aku jalan2 dengan Wify ke sebuah pusat perbelanjaan di daerah Kuningan. Kemudian parkir motor, si Red Banzai, di bagian bawah pusat perbelanjaan tersebut. Seingatku, aku parkir jam 2 siang...lalu pulang jam 4an, setelah sholat Ashar dulu di situ.

Nah, yg jadi permasalahan, ketika bayar parkir, saat si petugas mengetikkan no plat, TIDAK ADA ANGKA (nominal yg mesti aku bayar) yg muncul di layar. Lalu si petugas dg enaknya bilang Rp 3000. Seraya terheran-heran dengan nominal yg diucapkan si petugas, saat itu aku bayar begitu saja. Keherananku bertambah, saat aku pergi ternyata aku tidak diberi tiket bayar parkir yg biasanya diberikan.

Ternyata kasus ini terulang lagi, di pusat perbelanjaan di daerah Bunderan Semanggi. Nominal yg mesti aku bayar, jika aku hitung, ternyata tidak sesuai dengan itung2anku.

Seingatku, 1 jam pertama parkir, untuk motor adalah Rp 1000, dan tiap jam berikutnya bayar segitu juga (Rp 1000). Biasanya pihak pengelola parkir menerapkan Rp 1000 per 2 jam parkir (ini di Bandung). Dengan itungan seperti itu, seharusnya aku cukup membayar Rp 2000 untuk 2 jam parkir. Lah ini kok disuruh mbayar Rp 3000 ya? Yang serebu 'hilang' kemana ya??

Ah, nampaknya kejujuran tukang parkir yg bekerja di pengelola parkir (yg katanya ternama) mulai diragukan. Apakah mereka tidak bisa mencari uang dg cara yg lebih halal? Apakah mereka tidak malu dg pengamen yg berusaha uang yg mereka terima adalah uang yg halal dengan mengharap pemberinya memberi dg hati yg ikhlas?ndak tau