Sekitar 3 minggu lalu, aku mendapat kabar bahwa masjid di dekat rumah, di Bandung, akan mengundang Inu Kencana sebagai pembicara, untuk membahas mengenai kasus IPDN yg sangat menghebohkan itu (yg ditulis dalam buku IPDN Undercover). Semula aku pesimis untuk hadir, karena tgl 1Juni, rencananya ada urusan kantor, tapi untungnya kantor membatalkan acara pada tgl tersebut, so Kamis sore aku dan Wify bisa pulang ke Bandung.

Saat Jum'atan, aku sempat mengedarkan penglihatanku ke jama'ah yg hadir. Namun aku tidak melihat sosok pak Inu Kencana. Hmmm...mungkin baru akan hadir setelah sholat Jum'at, begitu pikirku. Namun, ternyata anggapanku ini salah, karena nanti, saat bercerita, pak Inu menyatakan bahwa dia sudah hadir sejak tadi, namun duduknya di belakang, nyaris di ujung, sehingga memang terlewatkan dari penglihatanku.

Selesai Jum'atan, melalui penggunaan pengeras suara yg tepat, pengurus masjid mengumumkan bahwa pak Inu Kencana sudah hadir dan meminta para jama'ah agar tidak pulang dulu. Namun, aku melihat banyak para jama'ah pulang...aku melihat momennya sedikit tidak tepat, karena acara dilakukan setelah sholat Jum'at, sementara mungkin para jama'ah sudah kelaparan.halah

Akibatnya, aku melihat mungkin sekitar 30-50 orang jama'ah yg hadir. Masjid tidak terlalu penuh, sehingga kami bisa duduk dg bebas dan berharap bisa menyimak dg lebih baik.

Akhirnya pak Inu muncul dan langsung duduk di depan. Setelah basa-basi sejenak, maksudnya ada perkenalan singkat mengenai jati diri pak Inu, mulailah pak Inu bercerita.

Sejak awal, pak Inu menyatakan bahwa buku IPDN UNDERCOVER SEBENARNYA ADALAH AUTOBIOGRAFI, bukan buku yg khusus membongkar kebobrokan IPDN. Aku sebenarnya sempat melihat sekilas buku ini, dan memang, lebih dari 68% isi buku adalah kehidupan pak Inu. Sementara bagian mengenai IPDN cenderung sekilas.

Namun, aku melihat justru bagian IPDN yg membuat buku ini semakin menarik...karena momennya tepat, saat terjadi kasus kematian Cliff Muntu, selain itu yg menjadikan buku ini menarik adalah karena sosok pak Inu yg menjadi key person dari pembongkaran kasus kematian 2 praja ini. Di samping itu, keberanian pak Inu untuk menyebutkan para petinggi IPDN dan pejabat Depdagri, meski hanya inisial, cukup menghentakkan masyarakat serta membuat nyali para pelaku bisa jadi ciut.

Ternyata pak Inu tidaklah bercerita secara khusus mengenai IPDN. Beliau justru memulai cerita dg ceramah, seperti sebuah tabligh akbar, namun dibawakan secara santai dan diselingi humor, meski kadang2 ada sikap beliau yg tidak aku setujui, seperti mencak-mencak dan gerakan seperti menari. Belakangan aku tahu, bahwa gerakan menari dan mencak-mencak ini merupakan ciri khas pak Inu dalam membawakan sebuah topik.cekikikan

Pak Inu cerita mengenai kehidupannya, mulai sejak beliau kecil, kemudian wafatnya ibunya, masuk APDN Irian Jaya, ketemu dg (calon) istrinya, pernikahannya yg membuat heboh, dst dst. Karenanya, pak Inu berulangkali menyatakan bahwa IPDN UNDERCOVER SEBENARNYA ADALAH AUTOBIOGRAFI.

Dalam salah satu cerita pak Inu, yg membuat aku cukup terpingkal-pingkal adalah ceritanya mengenai anak seorang bupati di Sulawesi. Cerita ini untuk menjawab pertanyaan seorang jama'ah mengenai isu 'terlibatnya' uang dalam penerimaan praja IPDN. Beliau bercerita bahwa anak bupati tersebut sebenarnya cacat mental alias gila. Jika pak Inu sedang memberikan kuliah, si anak seringkali melolong seperti seekor serigala.

Pak Inu berusaha melakukan pendekatan kekeluargaan. So, beliau mengajak bicara anak bupati ini. Terjadilah dialog berikut (lebih kurang):
Inu:"Mengapa kamu selalu melolong di dalam kelas pada saat mengajar?"
Anak:"Karena saya yakin pak Inu sebenarnya adalah penjelmaan harimau."

Terkejutlah pak Inu. "Alamak...ini anak bener2 sudah gila..."demikian pikir pak Inu.

Kemudian pak Inu berusaha memberikan pemahaman...berusaha mendalami pemikiran si anak, dan meyakinkan si anak bahwa dirinya adalah manusia, bukan jelmaan harimau. Selama 1/2 jam beliau berdialog dan selama 1/2 jam itu si anak, menurut pak Inu, memberikan tanggapan yg positif. Akhirnya dialog selesai...dan pak Inu sudah merasa yakin bahwa si anak tahu dan mengerti bahwa dirinya adalah manusia, bukan harimau.

Menjelang mereka berdua, mendadak si anak mendatangi pak Inu.
Anak:"Pak Inu, saya ada rahasia...tapi saya hanya ingin cerita pada pak Inu."
Inu:(dg sedikit terkejut)"Ya, rahasia apakah itu..??"

Anak:"Sebenarnya pak Inu sembunyikan ekor di mana??"
Inu:(dg sangat terkejut, barkata dalam hati)"Halah, ini anak ternyata memang benar2 sudah gila..."

Aku langsung tertawa terbahak-bahak mendengar cerita ini. GILA...kacow banget tuh anak...hahha...ngakak

Selama bercerita (+ceramah) pak Inu benar2 tidak bisa diam. Berdiri, ekspresi muka, dan tutur katanya benar2 lucu dan membuat orang tidak bosan untuk memperhatikan tiap ucapan yg keluar dari mulut pak Inu.

Pada saat sesi tanya jawab, terjadi dialog antara pak Inu dg jama'ah. Beberapa pertanyaan yg sempat aku ingat adalah:
1. Apakah pak Inu ada maksud lain (materi dan popularitas maksudnya) dalam bertindak?
2. Apakah benar uang terlibat dalam penerimaan praja IPDN?
3. Apakah benar praja perempuan banyak yg tidak perawan? Mengapa tidak ada tes keperawanan?
4. Mengapa IPDN tidak dibubarkan saja?
2 pertanyaan lagi aku agak2 lupa...karena terlalu panjang dan cenderung 'tidak penting'.siyul2

Di ujung acara, pak Inu mengajak berdoa bersama. Kemudian beliau beramah tamah dengan para jama'ah. Acara salam-salaman dan peluk-pelukan sempat terjadi...banyak jama'ah terharu karena melihat perjuangan pak Inu melawan sistem yg sedemikian kokoh.

Aku sendiri segera membeli buku IPDN UNDERCOVER yg turut dijual. Selain berniat membantu, aku juga ingin membaca lebih lengkap buku ini. Dan aku berkesempatan untuk mendapatkan tanda tangan pak Inu, disertai tulisan khusus..."UNTUK FAHMI". Selain itu, aku juga berkesempatan berfoto bersama pak Inu, hihihi...lumayan numpang beken, hihihih...cekikikancool

Di bawah ini adalah ekspresi dan gaya pak Inu dalam bercerita dan membawakan cerita. Harap maklum ya, jika foto2nya agak buram, karena pak Inu senantiasa bergerak, sementara kameranya sedikit jadul.


Oya, aku sudah selesai membaca buku IPDN Undercover ini. Seperti diceritakan pak Inu, isinya memang autobiografi dia. Kemudian, pak Inu juga sempat membantah mengenai pernyataan Muchtar Pakpahan, pengacara Endang TS, yg inisialnya disebut pak Inu dalam bukunya. Pak Inu bahkan berani memperlihatkan bukti2 nyata, jika ada pihak2 yg membantah keterlibatan mereka sebagaimana tertulis dalam bukunya. Pak Inu juga menyatakan bahwa 90% dosen IPDN mesti dipecat, karena keterlibatan mereka dalam berbagai kasus yg selama ini terjadi.