Edisi kuliner kali ini, aku (dan Wify tentunya) akan mengajak anda2 semua makan bebek bakar. Awal aku makan bebek goreng, bukan bakar, saat aku masih kecil, mungkin umur 10 tahun. Aku lupa siapa yg memasak, yg jelas bukan ibuku. Kesan pertama yg aku dapat, MAKAN BEBEK ITU TIDAK ENAK...!! Selain karena baunya yg amis, daging bebek lebih kenyal dan agak sulit dikunyah. Seringkali (saat itu) aku telan langsung daging bebeknya, meski baru beberapa kali kunyah.

Sekitar 10 tahun yg lalu, pengalaman kedua aku makan daging bebek tertulis dalam catatan hidupku. Bersama adikku, kami berdua makan bebek goreng di daerah Cikutra, Bandung. Dan ternyata dagingnya tidak terlalu amis...tapi ALOT BUANGET JEK...!!! SUSAH BANGET MAKAN DAGINGNYA...!! Kalo ga salah, aku ga habis makan daging bebek ini. Keburu hilang feeling.dzigh

Makan bebek berikutnya adalah saat pesiar ke Jawa Timur (Sidoarjo), mengunjungi paklik-ku. Beliau sekeluarga mengajak aku makan bebek khas Sidoarjo, tapi aku lupa tepatnya. Yg masih aku ingat, warung bebek ini lokasinya dekat sungai, mungkin sekitar 10-20 meter, dan berdiri di sebuah lapangan yg cukup luas.

Aku ingat, ketika duduk di warung itu, aku langsung teringat lagi daging bebek yg amisnya amit-amit dulu. So, aku terkena sugesti...dan perutku mendadak sedikit mual, apalagi ketika melihat tumpukan bebek (siap goreng) di sudut rumah makan. Namun celotehan dan obrolan paklikku membuatku sedikit teralihkan.

Ketika nasi bebek sudah disajikan, kembali aku ragu. Apakah aku akan mencium dan merasakan lagi amis daging bebek itu? Bagaimana kalo muntah? Gimana kalo dagingnya sedemikian alot untuk dikunyah? Dan masih banyak lagi pertanyaan2 yg cenderung negatif berkecamuk di benakku.

Ah, egepe lah...dimulai dg basmalah, akhirnya aku memberanikan makan daging bebek itu. WAOOOWW...UENAKEEEE PUOOOOL....!!!ngiler Dan tanpa ragu, aku langsung sikat habis nasi bebek itu, bahkan (kalo ndak salah) aku akhirnya nambah makannya, hihihih..

Saat bekerja, aku sempat juga makan daging bebek goreng ini. Kali ini aku makan di daerah Cisitu, Bandung. Usai menengok temanku yg sakit, aku beserta teman kerja lainnya, mencoba makan daging bebek goreng, yg direkomendasikan temanku yg sakit itu. Wah, ternyata nyaris serupa enaknya dg daging bebek Sidoarjo yg tempo hari aku makan.

Sejak saat itu, aku tidak terlalu cemas dg menu bebek goreng. Asalkan tahu tempatnya, maksudnya sudah terkenal bebek gorengnya enak, aku akan pesan menu itu.

Oke...kembali ke Jakarta.

Nah, tempo hari, aku dan Wify jalan2 ke daerah TMP Kalibata. Kebetulan di depannya ada banyak warung....nah, aku melihat ada sebuah warung yg menawarkan daging bebek.Tertulis "Raja Bebek Bakar". Hmmm...aku berpikir sejenak. Setelah melihat menu yg disajikan, timbul godaan untuk mencoba menu bebek bakar ini. Sempat timbul pertanyaan, jika digoreng saja masih ada bau amisnya, apakah dibakar tidak lebih terasa lagi bau amisnya? Segera kutepis bayangan 'jelek' ini.

Aku tanya Wify, ternyata doi tidak keberatan untuk mencoba makan bebek bakar ini. So, kami berdua segera masuk ke warung ini yg terlihat cukup bersih ini. Saat duduk, aku perhatikan kondisi warung ini. Hmmm...memang cukup bersih, tidak salah pilihanku untuk makan di sini. Sekarang saatnya untuk menunggu daging bebeknya, seenak apakah hingga pemilik warung berani mengklaim sebagai Raja Bebek Bakar.

Sambil melihat sekeliling warung, aku ambil menu yg terdapat di atas meja. Hmmm...karena warungnya bebek, jelas menunya banyak menawarkan daging bebek. Harganya dimulai dari Rp 15rebu/porsi...hingga Rp 50rebu. Meski daging bebek bakar di menu terlihat agak2 gosong (item), tapi hmm....itu tidak mengurangi niatku untuk mencoba makan daging bebek bakar ini. Kapan lagi bisa dan tahu makan enak kalo kita sendiri ga 'nekad' untuk nyoba?

Seraya menunggu pesanan datang, aku dan Wify ngobrol macam2. Ternyata tidak terlalu lama kami menunggu. Mungkin sekitar 5-10 menit pesanan kami sudah datang. Nampaknya mereka sudah menyiapkan daging bebek, sehingga apabila pesanan datang mereka tinggal 'menghangatkan' daging tersebut.

Saat pesanan sudah berada di meja, barulah terlihat bentuk asli dari bebek bakar ini. Hehehe...ternyata memang sedikit item, tapi aku lihat BUKAN GOSONG. Barangkali memang bumbunya yg membuat 'efek' item pada bebek bakar ini. Tapi....OMG....NASINYA KOK SEDIKIT SEKALI YAA?? Sekepal nasi ditaburi bawang goreng membuatku berpikir,"Wah...kagak bakal kenyang nich...paling cuma ganjel perut doank...aarrrrghhh..."

Ok....saatnya makan dan menilai menu daging bebek bakar ini. Wah...wah....ternyata RASANYA BENAR2 ENAK...!ngiler Dan seperti aku bilang, warna item yg melekat pada bebek bakar ini, ternyata memang bukan gosong, tapi justru menambah cita rasa bebek bakar ini. Belum lagi sambal yg ikut disajikan bersama daging bebek bakar ini, rasanya menambah...hmmm....wah, uenak buanget deeehhh...sedikit mirip dg ayam ganthari+sambalnya, tapi yg ini rasanya lebih oke...setidaknya menurutku.

Nasinya ternyata memang tidak cukup euy...so, daging bebek bakarnya masih tersisa cukup banyak ketika nasinya sudah habis. Akibatnya, aku menghabiskan daging bebek bakar ini tanpa nasi. Tapi ternyata enak banget, makan bebek bakar ini meski tanpa nasi. Apabila ayam ganthari aku makan tanpa nasi, aku merasa dagingnya terasa asin...sementara bebek bakar ini tidak menjadi asin...yaa sama saja rasanya. Justru lebih enak ketika mencampur daging dan sambal.

Ketika menu utama sudah habis, aku minum es jeruk. Sluuurrrppp....aaahhh...ternyata tepat sekali menjadikan es jeruk sebagai penutupngiler . Saat aku bayar, hmmm...jumlahnya tidak terlalu mahal. Total jenderal, untuk 2 porsi ini kami menghabiskan Rp 45rebu-an.money eyes

So, bagi yg penasaran dg daging bebek, belum pernah makan ataupun ingin mencoba variasi daging bebek, warung Raja Bebek Bakar ini bisa menjadi alternatif. Tempatnya pun mudah dijangkau, di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Selamat mencoba.