Sembilan tahun sudah berlalu sejak peristiwa Trisakti dan huru hara di Jakarta, namun hingga kini, tidak ada penyelesaian dan titik terang yg bisa memuaskan para keluarga korban. Pemerintah, sejak jaman Habibie hingga SBY, tidak ada yg (cukup) berani untuk mengusut hingga tuntas. Banyak alasan yg diajukan, hingga akhirnya DPR pun menyatakan bahwa kasus Trisakti, huru hara, dan Semanggi (serta peristiwa sejenis) BUKAN PELANGGARAN HAM BERAT.

Beberapa kali aku melihat tayangan Kick Andy yg menampilkan korban peristiwa Trisakti, Semanggi, dan huru hara. Nampaknya, pihak MetroTV berusaha mengingatkan masyarakat tentang adanya kasus yg menjadi lembaran hitam bangsa Indonesia. Yang aku lihat, masyarakat pun ingin melihat kesungguhan pemerintah untuk menyelesaikan kasus2 tersebut.

Namun, melihat peringatan peristiwa Trisakti hari Sabtu dan Minggu lalu, aku juga melihat bahwa lebih banyak(?) masyarakat yg sudah lupa dan cenderung (berusaha) melupakan peristiwa kelam tersebut. Hanya masyarakat yg (berusaha lebih) peduli yg berusaha memperingati kejadian tersebut.

Aku mungkin bukan termasuk masyarakat yg terlalu peduli, namun bukan berarti aku tidak peduli sama sekali. Menuliskan artikel tentang kejadian 9 tahun lalu, bagiku sudah merupakan bentuk kepedulian, setidaknya peduli bahwa masyarakat harus selalu diingatkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa 'PEMARAH', ingat bahwa pemerintah tidak pernah berani untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

Hormatku bagi para pahlawan Reformasi:
1. Elang Mulya Lesmana
2. Hery Hartanto
3. Hafidhin Royan
4. Hendriawan Sie

Jika keadilan tidak kalian dapatkan di dunia, insya ALLOH, di hari Pembalasan kelak, kalian akan dapatkan keadilan yg seadil-adilnya.