Pengumuman reshuffle kabinet yg dilakukan SBY kemarin, masih menuai banyak protes. Aku termasuk yg protes, meski ga bisa gembar gembor mengumumkan protesku ini, kecuali di blog ini.melet

Alasanku protes terutama adalah karena tidak digantinya beberapa menteri, yg menurutku, kinerjanya jauh dari memuaskan. Bahkan cenderung membuat (sebagian) masyarakat merasa muak.

1. Menko Kesra, Aburizal Bakrie
Bagi masyarakat Porong, Sidoarjo, menteri ini barangkali salah satu menteri yg diharapkan diganti. Namun, apa daya, ternyata SBY masih mempertahankannya. Padahal, jika merunut nama jabatannya, KESEJAHTERAAN RAKYAT, Ical semestinya berupaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Alih2 membuat sejahtera, ribuan masyarakat Porong malah kehilangan tempat tinggal (dan masa depannya).

2. Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar
Upaya menteri ini terhadap penanggulangan musibah lumpur, nyaris tidak terdengar. Aku tidak pernah mendapati SATUPUN berita mengenai upaya tindak lanjut menteri ini terhadap bencana banjir lumpur. Termasuk upaya penanggulangan pembalakan liar hutan, nampaknya menteri ini adem ayem saja. Kasihan deh menteri kehutanan, mesti sendirian ngurus hutan2 yg kian berkurang luasnya.

3. Menteri2 (terkait) Ekonomi (Sri Mulyani = Menteri Keuangan, Boediono = Menteri Koordinator Perekonomian, Mari Elka Pangestu = Menteri Perdagangan, Fahmi Idris = Menteri Perindustrian)
Meski bulan April kemarin disebut-sebut terjadi deflasi, namun bukan berarti prestasi menteri2 ekonomi sudah bisa 'dibanggakan', karena ternyata kenaikan harga barang2 kebutuhan pokok masih terjadi di mana2. Harga beras yg melambung, belum lagi telur, minyak goreng, dst dst...kian menghimpit rakyat, terutama golongan yg kurang beruntung dan kurang mampu.

Ketersediaan barang kok tidak diperhatikan ya? Apa masih banyak terjadi penimbunan barang? Nampaknya masih setengah hati memberantas para profit taker, yg doyan nimbun2 barang...sedih Bagi sebagian pengamat ekonomi, terutama Faisal Basri, menteri2 di bidang ekonomi tidak perlu diganti. Mungkin SBY (lebih) memperhatikan pendapat Faisal Basri daripada melihat kenaikan harga2 yg terjadi.siyzul2

Belum lagi banyak industri yg gulung tikar sehingga memberhentikan banyak karyawan. Nampaknya pak Fahmi Idris perlu koordinasi dengan menteri tenaga kerja dan transmigrasi.

4. Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meuthia Hatta Swasono
Ibu yg satu ini, nampaknya anteng dan adem ayem saja nih. Geliatnya 'cuma' nampak saat terjadi geger pernikahan kedua Aa Gym tempo hari, serta menjelang hari Kartini (yg ternyata berlangsung biasa2 saja). Beberapa layanan masyarakat tentang perempuan, sempat muncul beberapa waktu belakangan ini di televisi...tapi...ah, entahlah...gaungnya serta maknanya cenderung 'ndak jelas'.

5. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro
Menurutku, ini adalah salah satu menteri yg layak diganti, karena beberapa kali pemerintah Indonesia 'tidak berdaya' (baca: kalah) dalam urusan tender minyak dan pertambangan di Indonesia, terutama dg perusahaan2 dari Amerika Serikat. Hal lain yg menjadikan menteri ini 'patut' diganti adalah 'ketidakberdayaannya' dalam menangani kasus lumpur Lapindo. Bertele-tele bangeett...CAPE DEEEHHH....!!!

6. Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah
Pak Bachtiar ini masih kurang tanggap dalam menghadapi musibah beruntun yg terjadi di Indonesia. Masih pilih2 musibah yg ditangani...karena dalam seminggu terakhir, aku melihat banyak terjadi banjir di daerah2 di Indonesia, namun tidak terdengar adanya upaya bantuan dari pemerintah pusat.

Hal lainnya adalah pengurusan lumpur Lapindo. Masyarakat di Porong masih harus menunggu berapa lama lagi pak??mikir

7. Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi
Indonesia dikenal sebagai negara kelautan. Banyak sumber daya alam (ikan) yg masih belum dimanfaatkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Pencurian ikan malah banyak terjadi di perairan Indonesia. Mungkin pak Freddy mesti lebih bersemangat dan bekerja keras agar perikanan Indonesia lebih maju, karena nelayan2 Indonesia masih menggunakan cara2 tradisional untuk menangkap ikan, sementara para pencuri menggunakan peralatan yg jauh lebih canggih.

Menurutku, pak Freddy mestinya (menurutku lho) memberikan kredit dan membantu para nelayan untuk mendapatkan perahu dan cara menangkap ikan yg lebih banyak. Tentunya sarjana lulusan2 dari jurusan yg terkait bisa lebih diberdayagunakan, sehingga semua pihak merasa senang.nyengir

8. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Erman Soeparno
Salah satu kendala besar yg mesti dihadapi menrakertrans adalah urusan angka pengangguran yg kian besar. Terlebih dengan makin maraknya phk karena banyak industri gulung tikar. Kerjasama dengan menteri perindustrian bisa dilakukan untuk mendapatkan solusi yg lebih baik...karena industri dan tenaga kerja merupakan satu kesatuan.

Sementara untuk transmigrasi, hmmm...nampaknya tinggal jargon saja. Karena sudah cukup lama, program ini tidak terdengar kabarnya. Barangkali pak Erman bisa mengupayakan daerah transmigrasi yg cukup layak untuk para korban lumpur Lapindo, agar mereka bisa segera dibantu, meski aku pernah baca, para korban lumpur menolak transmigrasi.halah

9. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik
Menteri ini juga jarang terdengar kiprahnya...setidaknya aku jarang temui sepak terjangnya di koran dan televisi, kecuali mungkin aku kelewat.cekikikan

Yang cukup 'mengherankan' adalah kata KEBUDAYAAN. Aku tidak habis pikir, apa pak menteri ini sempat mengurusi sekian banyak budaya di Indonesia? Atau cum sekedar slogan dan teriakan 'kosong' saja? Wah, auk deh...bingung

Oke...oke...dari protesku di atas, beberapa menteri mungkin kinerjanya 'tidak parah2' banget...tapi yaa...ah, sudahlah...gonta ganti menteri toh hak preogatif presiden.

Ternyata ga cuma di reshuffle kabinet jilid 1 saja yg bikin deg2an, jilid 2 ini pun bikin deg2an banyak menteri. Padahal jabatan itu amanah lho, ibu dan bapak...ga selalu bikin enak. Kalo dianggap nikmat (padahal ga becus) jadinya deg2an kaya gitu...cekikikan