*dari sebuah email di inbox...dalam rangka menyambut 1 Juni, hari kelahiran Pancasila*

Tiap detik, tiap jam, tiap hari tiap minggu dan tiap tahun engkau Pancasila dinantikan kedatanganmu secara nyata di bumi pertiwi ini.

Sampai aku menderita tiap hari aku relakan makan nasi aking tapi kenapa kekasihku kamu Pancasila tidak iba hati dan menghibur aku dalam kesakitan luar dalam ini?

Sejak "penyelamat" kamu Mbah Harto, yang dengan gagahnya menyelamatkan kamu kekasihku Pancasila dari pelukan Soekarno dan Nasakom, PKI, rupanya kehadiranmu setelah engkau terselamatkan itu engkau kabur entah kemana.

Rakyat, tiap hari dari anak kecil sampai para pegawai negeri dan semua jajaran birokrasi selalu memperingati engkau kekasihku Pancasila, setiap tahun engkau di sembah bak dewa dalam perayaan hari Kesasktian Pancasila, agar engkau kekasihku Pancasila segera memberikan berkah engkau dan kita semua bisa hidup di tanah air yang gemah ripah loh jinanwi. Sekarang si penyelamat kamu, mbah Harto terbaring lunglai, me-nanti2 datangnya panggilan sang Khalik. Sekarang mulailah ribut para gedibalnya sang penyelamat Mbah Harto memanggil engkau kekasihku Pancasila. Panggilan ini diperlukan agar engkau kekasihku Pancasila bisa memberikan pengampunan kepada Mbah harto agar dia selamat sampai ke-alam baka dengan mempersiapkan Mbah Harto sewaktu masih ada waktu sepenggal agar Mbah Harto tidak saja diampuni tapi juga diangkat sebagai orang yang menyelamatkan engkau tempo doeloe tahun 65 itu. Itulah jasa yang harus engkau balas dengan balasan kebaikan yang setimpal, yakni menyelamatkan Mbah Harto.

Bukankah engkau kekasihku dalam hati sanubarimu tercantum sila kemanusian. Dari itu kekasihku Pancasila, dengarlah ratapan para pemimpin dan para gedibalnya Mbah Harto agar Mbah Harto sampai dengan gemilang diusung oleh segenap rakyat Indonesia yang tahu diri dan tahu betapa besar "jasa"nya Mbah Harto. Dari itu relakanlah Mbah Harto pergi, karena dia telah menyelamatkan engkau kekasihku Pancasila maka tidaklah ber-lebih2an apabila kita rakyat (walaupun hanya pemakan nasi aking) masih rela mengusung Mbah Harto dengan kehormatan yang sebesar-besarnya. Biarlah kita rakyat tahan kesengsaraan ini, biarlah kita deldel duwel , biarlah kita makan nasi aking, pokoknya jangan lupa dengan "jasa"nya Mbah Harto yang sudah menyelamatkan engkau kekasihku Pancasila!

Tapi sebaliknya engkau kekasihku kemana kita2 ini yang se-hari2 sudah makan ikan asin dengan nasi aking akan engkau tempatkan?. Kapan engkau kekasihku masih ingat akan ratapanku dan kapan memberi sedekah secuil saja dari hartanya Mbah Harto yang triljunan itu agar sementara waktu bisa mengisi sedikit perut yang kosong ini?. Perut rakyat kelihatan buncit tapi kekasihku Pancasila ,ini bukan pertanda makan kekenyangan tapi adalah penyakit yang dinamakan hongerudim, alias perut hanya terisi dengan udara yang bisa "dimakan" dengan gratisan.

Sementara ini, selama engkau kekasihku belum dengan riil menampakkan diri dihadapanku, tapi banyak para gedibalnya Mbah Harto selalu memanggil-manggil namamu bak seorang ulama atau pendita diatas pulpit mengobral nilai mulia yang engkau punyai ,yang ber-unsur lima sila itu. Tapi satupun sila kekasihku Pansalia, boro boro semua sila yang berjumlah lima itu, semua di borong oleh Mbah Harto dan para gedibalnya untuk mengajomi gerombolan mereka. Mereka itu gerombolan manusia ini ,semua hidup di alam gemah ripah loh jinawi. Apakah engkau kekasihku Pancasila, memang di-catut nama mu yang mulia, digunakan oleh Mbah Harto dan gedibalnya untuk memakmurkan dirinya sendiri dengan mengatas namakan engkau Pancasila!

Oh oh oh Pancasila kekasihku kemana gerangan engkau selama ini? Sudah 6 dasawarsa aku menantikan engkau tapi engkau tidak pernah datang. Bahkan aku relakan jadi pengemis, jadi orang yang makan tiap hari 1 bungkus supermie, bahkan aku sekarang mulai makan nasi aking tapi betapa teganya engkau kekasihku Pancasila, engkau tetap berpangku tangan tidak mengindahkan ratapanku. Oh oh oh Pancasila dimana engkau gerangan..........?

Harry Adinegara