*entah bener, entah ndak..*

15 corridors of Busway.
(1 corridor will be disable after a subway line operated).

Jakarta Monorail (LRT) Blue Line and Green Line.
MRT Subway with Elevated Track. Ground Track and Underground Track.

And Also WaterBus on Banjr Kanal Timur And Banjir Kanal Barat..

And Also Jakarta Tower..
Dance Laser Fountain at Monas..

Untuk Monorail, rencananya memakai teknologi Siemens Inka..
Jakarta Monorail telah diteliti oleh pembuat Tunnel Prancis - Inggris.

Subway akan dibuat oleh Jepang.
Busway memakai bahan bakar gas..

Monorail terbagi 2 jalur :
Jalur biru (blue line) meliputi Kampung Melayu, Tebet, Saharjo, Menteng Dalam, Casablanca, Dharmala Sakti, Menara Batavia, Karet, Kebon Kacang, Cideng, Tomang, berakhir di Mal Taman Anggrek.

Jalur hijau (green line) yang disebut jalur melingkar meliputi HR Rasuna Said (Kuningan Central), Taman Rasuna, Gran Melia, Satria Mandala, Polda Metropolitan Jakarta Raya, SCBD, Bursa Efek Jakarta, Sudirman Place, Plaza Senayan, Stadion Madya Gelora Bung Karno, Stasiun Palmerah, Pejompongan, Karet, Sudirman, Setia Budi Utara, dan kembali ke Kuningan Central.

===

Spesifikasi MRT Jakarta

Misi :

Menyediakan pelayanan jasa transportasi yang cepat dan nyaman sehingga perjalanan kerja, bisnis, sekolah, sosial, dan lain-lain dapat dilakukan secara efisien tanpa terganggu oleh kemacetan lalu lintas jalan raya.

Tujuan :
Membangun suatu jaringan sistem angkutan masal (Mass Rapid Transit - MRT) di Jakarta, yang pada tahap awal akan dibangun pada koridor Fatmawati-Kota.
Subway di Jakarta nantinya akan menggunakan 4 gerbong kereta?

Detail Subway
Panjang : 13,5 km (Blok M-Kota)
Frekuensi : 5 menit (jam sibuk), 10 menit (di luar jam sibuk), 15 menit (malam hari)
Kapasitas Sistem : 45.000 penumpang/jam/arah
Kecepatan maksimum : 85 km/jam
Kecepatan rata-rata : 35 km/jam
Waktu operasi : 18 jam (06.00-24.00)

Desain Stasiun
Stasiun dirancang terdiri dari 2 lantai yaitu lantai Concourse dan lantai Platform.
Stasiun dirancang sesuai standar NFPA 130 (1995) yang mencakup antara lain tentang perancangan tangga, eskalator, koridor dan kapasitas pintu, waktu evakuasi pada kondisi darurat, sistem pemadam kebakaran dan ketahanan terhadap api.

Stasiun juga dirancang untuk dapat digunakan oleh penyandang cacat seperti pemakai kursi roda dan tuna netra.

Lokasi Stasiun
Lokasi stasiun diusahakan sedekat mungkin dengan pusat-pusat perkantoran/perbelanjaan atau dengan halte bus, sehingga terintegrasi dengan sistem transportasi jalan raya, serta sangat mudah untuk dicapai dengan berjalan kaki.

Kelengkapan Stasiun
Stasiun juga akan dilengkapi dengan ruang untuk kios, bank, kantor pos, telepon umum, dan lain-lain. Stasiun dilengkapi dengan mesin penjual tiket otomatis serta automatic fare collection sehingga hanya penumpang yang telah membeli tiket saja yang dapat masuk ke areal platform di dalam stasiun.

Kenyamanan Penumpang
Untuk memaksimalkan kenyamanan penumpang, maka setiap stasiun (dan kereta) akan dilengkapi dengan penyejuk udara (AC). Stasiun dilengkapi dengan sistem informasi berupa gambar, tulisan, sistem audio, dan lain-lain yang sangat mudah untuk dimengerti bagi para pengguna jasa kereta api.

Moda
Moda yang akan digunakan adalah kereta api listrik.

Deskripsi Sistem
Panjang lintasan : 19 km
Jarak antar stasiun rata-rata : 1 km
Alinyemen vertikal : seluruhnya underground
Kapasitas sistem : 45.000 penumpang/jam/arah
Panjang platform : 140 m
Lebar kereta : 1435 mm (standard)
Pengumpulan listrik : overhead catenary 1500 Volt (DC)
Kecepatan maksimum : 80 km/jam
Kecepatan rata-rata : 35 km/jam
Formasi kereta : 6 kendaraan per rangkaian

Ukuran Kendaraan
Panjang : 23 meter
Lebar : 3,2 meter
Kapasitas angkut : 2100 penumpang per kereta
Selang waktu kendaraan (pada jam sibuk) : 2-5 menit
Waktu operasi : 18 jam (06.00-24.00)

Depo
Depo dipergunakan untuk tempat parkir kereta, perawatan dan perbaikan kereta api yang bersifat rutin baik ringan maupun berat, Permanent Way Workshop dan Fixed Facilities Workshop.
Selain itu depo juga akan dimanfaatkan untuk mengakomodasikan tempat pencucian kereta, gedung administrasi serta Pusat Kontrol Operasi (Operation Control Centre). Rencananya di dekat Jalan Lontar.

Keselamatan
Pengoperasian kereta dikontrol sepenuhnya dari ruang kontrol dengan bantuan komputer.
Pintu kereta akan selalu tertutup pada saat kereta dalam keadaan berjalan.
Setiap kereta akan dilengkapi dengan sistem telekomunikasi 2 (dua) arah untuk dapat berhubungan langsung dengan petugas di pusat kontrol.
Kereta dan stasiun akan diperlengkapi dengan CCTV agar penumpang dapat dipantau dengan mudah.
Stasiun dilengkapi dengan pintu platform (platform screen door) yaitu pintu yang dipasang di ujung platform, yang membuka secara bersamaan dengan pintu kereta.

Metoda Konstruksi
Pembangunan terowongan di antara dua stasiun pada umumnya akan dilakukan dengan menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM) dari jenis permukaan tertutup (closed face) yang dilengkapi dengan shield mekanis (mechanical shield). Pengeboran terowongan akan dimulai dari beberapa lokasi kerja tertentu yang terletak di luar badan jalan di sepanjang rute. TBM akan dioperasikan dari suatu lokasi kerja tertentu, melalui beberapa stasiun antara yang sedang dalam tahap konstruksi, sampai akhirnya dikeluarkan pada lokasi kerja berikutnya. Sebagian besar stasiun akan dibangun di bawah badan jalan dengan menggunakan metoda gali dan urug (cut and cover).

Stasiun-stasiun tersebut akan dibangun di antara dinding penahan tanah, dengan ukuran (galian) panjang 175 meter, lebar 22 meter, dan kedalaman sampai dengan 19 meter.

Masa konstruksi sekitar 63 bulan.
Gangguan lalu lintas yang minimum pada masa konstruksi:
Pembangunan terowongan dengan menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM) tidak mengganggu lalu lintas.
Walaupun pembangunan stasiun dilakukan di bawah badan jalan dengan metode "cut and cover", namun jalan tersebut tidak perlu ditutup seluruhnya sehingga tetap dapat dilalui kendaraan.
Pengangkutan tanah hasil galian dilakukan melalui terowongan yang sudah dibangun. Pengangkutan segmen dinding terowongan dilakukan melalui rute yang sama.
Pengangkutan material dan pembuangan tanah hasil galian dapat dilakukan pada malam hari pada saat lalu lintas sedang sepi.

Menurut data yang ada, satu koridor Trans Jakarta sudah bisa mengurangi 14 % jumlah mobil di Jakarta.

Bayangkan kalau semua sarana transportasi ini dibangun... mungkin 50 % mobil Jakarta akan berkurang..